Muhamadiyah atau Nu

Hari itu ramadhan tinggal beberapa hari lagi, ketika PKM mulai sepi dan pete- pete kampus Unhas tak lagi ramai. Saya, kurnia, dedy, aco, abeng dan akel masih setia di ruangan UKPM- Unhas. Menjelang buka puasa penghuni ukpm semakin berkurang aco sudah balik ke rumahnya dengan satu izin pulang "bang saya balik dulu maklum puasa tinggal beberapa hari". sedangkan dedy tinggal di idefix setelah kecelakaan kecil pada kunci toko, akel sudah pulang dari tadi maklum sang mamah sudah datang, tinggalah tiga pahlawan ke sepian di unit kegiatan pers mahasiswa unhas. Kami bertiga hanya dapat saling menatap "tiba- tiba terbayang wajah kawan-kawanku yang senantiasa mengisi ukpm. Ketika matahari mulai kemerahan kami memutuskan untuk segera ke pondokan buat buka, uang dikantong mulai cekak tapi untuk sekedar beli es batu cukuplah. Saat di perjalanan saya dan kurnia sempat bercerita,
"Bang kapang lebaran", tanya kuria sembari memberi tatapan serius
aku jadi ketawa sendiri melihat wajahnya yang begitu serius
dengan asal ku jawab "kita khan mazhab si boy pokoknya ikut yang mudahnya saja"
Kurni tertawa dan akupun tertawa sementara adzan bertalu menandakan buka puasa telah tiba.
Esoknya bertepatan dengan hari sabtu mobil bebas tilang kami datang ( Abulans) menjemput untuk mengantar berlebaran di jeneponto. Tahun ini merupakan tahun kedua aku berlebaran dinegri jus talas. Setelah sampai, makan- makan dan minum- minum menjadi agenda yang tak boleh terlewatkan. Di sela- sela kami makan tiba- tiba saja kurnia membuka diskusi dengan satu kalimat "besok terakhir ramadhan"?dari kalimatnya sepertinya bertanya namun bagiku itu merupakan peryataan. entah siapa yangh menimpali sepertinya selasa kalau kita ikut pemerintah, tak beberapa lama ayah kurni jadi ikut "muhamadiyah besok kalau NU dan pemerintah selasa pi". aku begitu terperanjat ketika diskusi semakin seru adam langsung berkomentar " sebenarnya itu tergantung pada kepercayaan kita kalau kita mau ikut pemerintah ikut mi, kalau tidak jangan"kata kawanku itu bersemangat. aku hanya terdiam mendengarkan diskusi meja makan itu...setelah makan dan solat subuh sepertinya kantuk semakin berat dan mataku mesti diberikan haknya untuk istirahat. Hari pertama di tempat liburan di lalui dengan puasa menjelang buka seluruh anggota keluarga Dg Sitaba ( Alias Kurnia) telah berkumpul sambil menonton televisi acara saat itu berita sore liputanya tentang perdebatan antara MUI dan Muhamadiyah tentang penetapan waktu satu syawal. Komentarpun kembali meluncur "Aduh bikin pusing saja rakyat", lagi- lagi adam. Aku memilih diam demikan pula yang lainya. Aku sendiri berpandangan "bahwa berpuasa saat satu syawal itu haram dan kalau mislnya lebaran belum jatuh pada hari dimana aku berpuka yah tidak masalah kita hanya membatlakn puasa saja Alloh maha tahu". Senin pagi teman- teman kurnia dan adam berdatangan sambil bercerita bahwa di kecamatannya tadi sudah dijalankan solat ID. beberapa orang keluarga adam terkejut walau sudah tak berpuasa pada hari itu tapi rasa kaget belum bisa hilang dari wajah mereka. "Aduh kenapa bisa beda di kecamatan sini belum tanyaku".
Dengan semangat mereka bertutur katanya bupati sudah mengeluarkan edaran yah kita rakyat ikut. Aku semakin terkejut bukankah bupati itu pemerintah dan kalau pemerintah lebaranya baru besok.
ndak tau mi itu, jawab mereka singkat
Aku terdiam tak beberapa lama rumah tempat liburanku ramai oleh beberapa tamu dengan topik pembicaraan yang sama.
parahnya lagi ada yang celutuk "kecamatan yang lebaran duluan itu muhamadiyah"
Aku terpekur mendengarkan ocehan itu, beberapa pertanyaan nakal segera hinggap dikepalaku bagaimana kriteria orang yang di sebut muhamadiyah apakah ketika ia berlebaran lebih cepat lantas di sebut dengan muhamadiyah? Apakah muhamadiyah hanya berani menentang pemerintah saat lebaran ? Entahlah....Namun aku yakin rakyat jeneponto yang berlebaran terlebih dahulu bukanlah muhamadiyah dan mereka yang mengikuti pemerintah bukan pula Nu tapi mereka sepertiku mazhab si boy ........

Posting Komentar

0 Komentar