Belas kasih waktu

Nda' tahu harus bilang apa saat mulai menulis di sini kali ini. Inginnya tangan ini bisa membantu menyalurkan luapan rasa yang enggan beranjak dari palung hati. Pekik yang takkan sempat terdengar karena detik keburu datang membawanya. Syukur harusnya dapat kuhadirkan karena takdir masih memberi kesempatan untuk bercanda dengan waktu. Tapi.... entahlah.....ah... aku susah membahasakan ini. Menit-menit yang pernah hadir terlanjur mengajarkan kemandirian lebih awal, juga tentang harapan yang ternyata memiliki daya spirit yang luar biasa, atau tentang mimpi. Adanya sunnatullah akan hadirnya fajar setelah melewati kepekatan malam atau adanya pelangi yang selalu menanti di balik awan kelabu setidaknya memberi tawaran bahwa hidup tidak harus dihadapi dengan kesedihan. Tapi aku juga harus akui, ada saat dimana aku harus menggigit bibir, menatap ke atas, dan membendung rinai-rinai yang ingin tumpah. Hidup telah menjadi saksi tidak terartikulasinya ketulusan, tapi ini bukan akhir. Yah inilah mukjizat tentang sebuah mimpi bagiku. Demi suatu masa dimana tak lagi kudapati mata-mata yang meminta tanggung jawab dariku, aku harap titian waktu tidak bosan mengiringi apa yang ingin kuwujudkan dan masih mengulur diri untuk mencabut mandatnya.

Posting Komentar

0 Komentar