mio....

Entah kenapa mendadak aku ingat mio....
aku tidak tahu pastinya kapan terakhir aku melihatnya, tapi sekitaran lima tahun yang lalu.
mio adalah jejak masa lalu yang indah, mio mengajariku ketulusan dan arti kasih yang sebenarnya. pertamakali aku bersama mio yaitu saat aku masih berseragam putih biru. aku merasa kehadirannya adalah obat dan rekan sejati yang menemaniku dalam hingar-bingar masa remaja. mio melebihi teman-temnku di sekolah, aku ingat aku selalu ingin cepat pulang dan bersamanya. bagiku saat itu kebersamaan kami jauh lebih menyenangkan dibanding bersama teman-teman sekolah. Dia bahkan yang bisa menghiburku saat nenek dan tante yan sangat kusayangi pergi untuk selamanya.
Tapi kami harus berpisah.... mio meninggalkan rumah saat aku mulai berseragam putih abu-abu. mungkin dia jenuh, mungkin dia mau bebas, aku tidak tahu dan dia tidak mungkin mengucapkannya. dia hanya mengungkapkannya dengan memberontak saat aku menghalangi kepergiannya. Aku menyerah, aku tidak mungkin mengurungnya dan melihat betapa tidak berdayanya dia dalam kurungan. sedih sekali rasanya kala itu. aku kehilangan teman, tapi aku tetap tidak kuasa mencegahnya. akhirnya tiap hari aku hanya bisa merindukannya.
sejak kepergian mio aku punya kebiasaan baru. aku selalu menoleh ke kiri dan ke kanan setiap kali aku jalan, tentu aku berharap bisa melihatnya lagi. Dan aku memang sekali-kali melihatnya. pernah aku mendapatinya terluka, ternyata habis dipukul orang karena mencuri ikan di kulkas. yah.....mio pandai sekali buka kulkas....... sedih sekali saat itu, tapi yang membuatku terharu ternyata dia mengenaliku dengan mendengar namanya kupanggil saja, dia pasti akan menoleh walau dalam jarak yan cukup jauh dan dia pasti mendatangiku dan mengelus-eluskan kepalanya di kakiku......begitu cara mio selama ini menyapaku........hal seperti ini sering sekali terjadi bila kami bertemu di jalan, dia ternyata mengenaliku.
Dan yang tak bisa kulupakan adalah saat aku sakit. Mio kembali ke rumah, dan aku bisa merasakan kehadirannya. untuk beberapa saat lamanya dia tidak pergi. mungkin mio menengokku juga dengan caranya sendiri.
Hubunganku dengan mio begitu indah, walau aku bahkan tidak tahu kapan tepatnya dia meniggalkan kehidupan. tapi umurnya ternyata tidak sependek yang kukira. walau kotor dan dekil aku tetap tidak bisa menolak untuk tidak mengelusnya saat dia mendatangiku bila kami bertemu. dia bisa bertahan di luar rumah dengan tiket kebebasan. bahkan sampai berumur panjang. satu yang kutakutkan adalah dia akan kelaparan dan dipukuli orang bila pergi, tapi ternyata dia bisa bertahan.
Mungkin ini dianggap lucu, tapi bagiku mio adalah guru. Mio membuktikan bahwa kasih sayang itu tidak hanya diberikan oleh manusia tapi bahkan oleh seekor kucing. Dan aku ingin membuatnya abadi dengan menulis namanya di blog ini.

Posting Komentar

0 Komentar