Jurnalis

Semenjak SMU dunia Jurnalistik bukan hal baru bagiku, pertama berkenalan dengan dunia ini ketika diklat jurnalistik yng kubuat dengan kakak kelasku yang kalau tidak salah namanya Hadi ( sekarang polisi bo). Tak kusangka dan kuduga entah ini jalan nasib atau kebodohanku akhirnya masuk jurusan komunikasi yang jujur saja saat itu kupikir telkom. Memalukan! dan kuliahlah aku di Universitas yang telah banyak melahirkan para jurnalis hebat beberapa diantarnya menjadi soko guru jurnalis indonesia seperti Almarhum. Prof Ahmad, pak sinansari ecip, pak Bulaeng dan banyak lagi jurnalis muda yang akan menjadi jurnalis nasional. Waktu memang berputar begitu cepat dan sarjana segera kuraih kini tak terasa aku telah 6 bulan melepas status mahasiswaku. Setengah tahun begitu tak terasa, lagi-lagi aku bergulat dengan sebuah profesi "Jurnalis". Menjadi jurnalis bagiku begitu melelahkan dan penuh godaan. Tawaran uang kerap diberikan padaku sehabis wawancara. Jujur hatiku renyuh melihat kondisi ini, mereka menilai seorang wartawan dengan 100.000 sampai 200.000. Katanya biaya liputan? sampai saat ini aku benci melihat manusia-manusia itu yang menilai profesi seorang jurnalis dengan hitungan rupiah. Malam ini aku baru saja pulang sehabis meliput pembukaan Rakerda Real Ested Indonesia di sebuah tempat paling mewah di kota palu. Ada banyak mereka para jurnalis disitu, entah kenapa aku begitu malas bergaul dengan mereka, mungkin karena aku jurnalis majalah bulanan yang tak perlu diburu dedline harian. Walhasil abera kadabra acara penutupan selesai dan para jurnalis itu segera berhamburan mewawancarai ketua rei pusat, setelah bla...bla.. dan bla....di ikuti salaman dan ketika ketua PB Rei itu berpaling salah seorang dari mereka berteriak pada ketua Rei Sulteng "man" kebetulan yang di panggil namanya itu aku kenal baik, bulan lalu aku telah mewawancarainya dan seperti diduga amplop segera berseliwuran beredar dengan cepat. Aku tertegun menatap para Jurnalis itu. Aku bukan orang munafik yang tak butuh uang, jujur saja aku butuh namun tidak dengan meminta,kalaupun ada sebagian aku tolak walau pernah aku menerima itu karena bensin Fotograferku habis untuk meminta rasanya aku begitu malu pada mereka yang pernah mendidiku, aku disekolahkan untuk menjadi seorang Jurnalis yang bernurani, belajar tentang kode etik, ketua UKM Pers yang dikenal sebagai lembaga mahasiswa yang radikal, lulusan terbaik. Ah tak tega aku melihat duniaku dicabik-cabik para wartawan itu. Ingin rasanya egoku keluar dasar wartawan karbitan yang tak pernah kuliah jurnalis, pelacur dan sejumlah kata kotor lainya. Namun semuanya hanya sampai dikerongkonganku aku takut kelak suatu saat aku juga melakukannya ketika kebutuhan meningkat, tangung jawab telah ada dan berbagai tuntutan lain. Aku merenung terpukul melihat realitas zaman bahwa uang begitu berkuasa di bumi ini!Namun aku mesti segera berbuat dan melahirkan rekonstruksi terhadap citra wartawan yang begitu jelek. Aku harus bisa melawan semuanya setidaknya untuk tidak menjadi salah satu jurnalis peminta-minta!

Posting Komentar

0 Komentar