Imanku di titik Nol

Ramadhan hampir berlalu tanpa bekas, semuanya berjalan biasa saja, tak ada peningkatan secara ruhiyah ataupun fikriyah. Ramadhan 1428 akan kucatat dalam baris-baris kehidupan ini, ketika iman dititik nol, tuhan hilang dalam gemerlap materi dan imajinasi semu. Untuk pertama kalinya dari beberapa Ramadhan yang kulalui aku terpaksa mesti kalah pada kuasa dahaga dan lelahnya perjalanan sebagai Musafir, mencari sesuatu yang akupun tak mengerti akhirnya. Semuanya berjalan dalam ritmis kamuflase dan identitas palsu, aku lelah dan tak tahan lagi untuk berteriak "Ingin mati saja"tapi aku ingat Tuhan pernah berpesan bahwa Nyawa adalah kepunyaanya dan aku hanya pemakai bukan pemilik. Oh Rabb betapa sombong diri ini yang melupakanmu.

Posting Komentar

0 Komentar