Somasi






Dua malam lalu, mataku tak bisa terpejam.ketakutan begitu memburai dalam benakku.Sebuah pesan di milis kamust membuatku terpukul dengan judul- lagi, majalah Investasi sulteng melakukan pembajakan foto!dan sang pengirim pesan juga memberikan ancaman akan melakukan somasi kepada majalah yang kukelola.cemas sekaligus hawatir hinggap dalam kepala, sehinga aku tak bisa tidur semalaman, persoalannya baru kali ini aku bermasalah dengan persoalan hukum.sebenarnya semasa kuliah persoalan berhadapan dengan polisi saat demonstrasi bukan hal baru, namun ketika itu statusku sebagai seorang mahasiswa yang dengan identitas kemahasiswaannya cukup untuk membuat sentimentil mahasiswa lain, bila hanya karena demonstrasi lantas di tangkap. apalagi sekelas mahasiswa makassar yang memang punya taring. bisa dibakar kantor polisi.Namun kali ini kasusnya lain, adalah somasi foto yang dianggap kami melanggar hukum dan tak menghargai haki. aku terpekur, diam sekaligus cemas. sebagai seorang sarjana jurnalistik nuraniku bertarung, benarkah aku salah bukankah dalam kode etik jurnalistik dihalkan melakukan pengutipan baik foto dan berita yang penting mencantumkan sumber?pada sisi lain aku juga mengerti tentang haki, bahwa sampai kini belum ada aturan cyber law di indonesia!bukankah ribuan koran, majalah maupun media internet malakukan hal yang sama. namun argumen sang fotografer ada benarnya juga bahwa dalam situs tersebut telah dicantumkan untuk mengambil fotonya mesti konfirmasi terlebih dahulu. malam itu juga sergera peryataan tertulis aku buat dimilis bahwa akan melakukan permohonan maaf secara terbuka pada majalah edisi selanjutnya.bagiku itu sudah pantas mengigat dalam kode etik jurnalistik hak jawab di mungkinkan, aku berusaha untuk melakukan itu sebagai anak komunikasi. walhasil paginya aku segera mengirimkan sms kepada sang fotografer, namanya basrimarzuki, akhirnya kami sepakat untuk bertemu pada siang hari dikantor aji. sejak malam aku sudah belajar dan membaca uu no 19/2002 tentang haki dan uu pers no 40 serta kode etik jurnalistik keluaran baru. yup aku telah siap menghadapimu basri, sebagai mantan ketua pers dan pemred caka, apalagi kuliah di komunikasi naluri petarungku mulai muncul bercampur dengan cemas sebagai seorang jurnalis baru. sekitar jam 12 siang my bro bertemu denganku, dia tersenyum melihatku yang kacau balau. lalu dengan ungkapan sederhana dia berujar, coba pakai jurus bodo-bodo!karena semakin ditanang persoalannya semakin panjang, dan kita belum memiliki energi untuk melawan mereka semua. aku berpikir, tak ada salahnya di coba. sesuai jam yang ditentukan berangkatlah aku keAji dengan dua dayang-dayang setia, fadli dan samsir. sampai disana para jurnalis tua sulteng telah ad. begitu jam dua lewat lima belas aku bilang sama fadli, gimana kalau kita telfon basri. mereka diam,walau fadli protes ngak usah ngapain, kita khan sudah janjian salah dia sendiri tak datang,intusiku berkata lain, harus! akhirnyakutelpon lah dia, dan dia mengatakan sebentar lagi.singkat cerita akhirnya ia datang, dan mulailah aku mempraktekan jurus yang dibertikan kepadaku. bodo-bodo, kalau orang bugis bilang, beleng-beleng."maaf pa...kami salah, maaf...kami orang baru...maaf kami belum tau apa-apa, basri mulai bertingkah iyah, kamu kalau macam-macam saya habisi,"ini surat somasi saya sudah siap'.waduh belagu juga nih orang dalam benakku, tapi aku berusaha menahan diri. maaf pak kami sekali lagi mohon maaf kami tidak tau soal begitu, kami memang masih bodoh...tolong dibimbing kami."makanya bos, jangan asal catut...iyah maaf, diaafkan kami yah pak."iyah pada dasarnya saya maafkan cuman ini jadi pembelajaran bagi kalian, ujar basri bertingkah. pai anggota pemasaranku yang baru saja bergabung dalam diskusi itu, mulai panas. aku justru mulai menikmati itu. itulah masalahnya pak kami masih baru, jadi belum tau yang seperti itu. maaf sekali, ujarku semakin bodoh. singkat cerita kamipun berpamitan. saya dengan teman-teman berangkat menuju upt sampai disana sudah kumpul para tetuah. belum beberapa menit sms masuk di hpku, rupanya dari basri dia menegaskan kesepakatan selain memohon maaf di edisi selanjutnya rupanya dia meminta poin tambahan yakni uang 300.000, bangsat juga nih orang. tapi mybro dengan tenang malah berujar, kasih. samapilah sang basri dikantor uptd dengan mengambil uang serta tanda tangan kwitansi. malamnya aku caht dengan beberapa senior kosmik, smuanya marah padaku karena memberikan uang tersebut.menurut mereka ribuan majalah melakukan hal tersebut, mengapa kamu takut?dan kamu sudah benar suruh dia tuntut kepengadilan, pasti dia ngak berani. aku terpekur, teryata aku belum memilki amunisi keberanian, teryata menjadi seorang jurnalis bukan hanya bekal teoritis, namun mesti memiliki daya tahan mental untuk melawan itu semua!

Posting Komentar

0 Komentar