ekspedisi









kemarin, badanku belum terlalu sehat dari flu sisa jakarta.Tugas mendesak mesti kembali dijalankan. Walau keadaan fisik belum sepenuhnya pulih aku paksakan untuk tetap berdiri dan bangun pagi.Sekitar jam delapan pagi Mr.Imran kepala UPTD menjemputku untuk memulai sebuah perjalanan, menaklukan lereng gunung yang belum bernama. Tugas ini begitu menarik bagiku,karena belum banyak orang mendaki gunung ini.selain itu eksepedisi ini akan menjadi ekspedisi pembuka untuk akses jalan proyek pengembangan perkebunan rakyat 500 hektar. "Wow begitu menarik dan menantang"!Sekitar pukul 8 pagi Tim yang terdiri dari 12 orang mulai bergerak dari laboratorium, perjalan dimulai.Pada bagian awal kami menyusuri daerah aliran sunggai, 1 kilo, 2 kilo, tiga kilo dan tanjakan stres dimulai. Kaosku basah akan keringat , beberapa anggota regu mulai kelimpungan selain akibat panas, jalan yang terjal dan beberapa pohon tumbang membuat perjalanan ini begitu berat. Sekitar 15 menit istirahat kami mulai mendaki,3,4,5,6 kilo akhirnya pak imran mulai menyerah."kita istirahat dulu".Dan rombongan istirahat kembali.Uniknya tiga orang anggota Tim kami adalah penduduk setempat umurnya sekitar 50-60 tahun mereka masih nampak begitu segar.Justru aku yang termuda sudah kelelahan setengah mati, cuman malu juga mesti menyerah nanti di tertawakan mereka "kok masih muda sudah loyo".Haaaa....haa...malu juga padahal lututku mulai bergetar. Jam sudah menunjukan pukul 2 saat itu, empat jam bukan waktu yang sedikit untuk mendaki sementara medan begitu berat."merintis itu sulit dan selalu memiliki tantangan kata seorang petani desa sekitar, om radin namanya. Perjalan kembali di mulai 7,8 kilo tanjakan semakin berat kami akhirnya berhenti lagi untuk makan siang tiga anggota tim meneyerah tak mampu mengikuti perjalanan.Aku dan Kak yang memgang kamera dan k pian yang pegang GPS saling berpandangan. Dari matanya ku baca kelelahan namun kami memilki tugas lain, aku mesti medokumentasikan kejadian ini untuk bahan laporan dan k pian mesti terus menaiki untuk melakukan pengukuran lahan 500 hektar.Setelah makan siang tinggal kami berdelapan yang akan melanjutkan perjalanan 6 orang penduduk kampung dan aku dan k pian dari rombongan UPTD perkebunan. Medan semakin suli, 8,9,10 kilo aku tercekak tubuhku tak mampu lagi mendaki.Alam sekitar begitu menawan, lautan yang biru, pegunungan dan ragam jenis kayu yang harganya mahal.Aku lalu bertanya sama k piang, masih sanggup. Dengan pelan dia berkata "kayaknya sampai sini dulu ".Ops aku baru memerhatikan kakinya teryata bengkak dan tak mampu lagi berjalan.Sementara itu om radin masih tertawa."Aduh anak muda sudah tak kuat"!akhirnya kalimat yang tak diharapkan itu keluar dari mulut lelaki tua yang baik hati ini."om saya sudah tidak mampu"!masih dua pungung gunung lagi yang mesti kami taklukan harusnya namun ka pian segera berdalih.konturnya sudah saya temukan, peta lahan dan lereng sudah bisa juga di ukur.Jadi tak perlu lagi ke atas.Om radin tertawa sembari ber ujar "tergantung kalian". Komiu to pande (kamu orang pintar) kata om radin "saya ikut kamu saja mat".kamu komandannya. AKu diam dan malu pada kondisiku yang lelah.Angin sepoi-sepoi membuaiku, "om kayunya banyak yah",kataku.Iyah liat kayu disini bisa menghasilkan berkubik-kubik dan sampai ratusan juta, tapi uang kayu itu tak berberkah dan tak akan membuat kaya. Katanya"yah sebuah kearifan lokal"keluar dari mulut orang tua ini. Kearifan yang membuatnya begitu dekat dengan alam.Jam menunjukan pukul 5 sore om, bagaimana klau kita balik.Ayo kalau kalian kuat. Perjalanan pulang tak seberat perjalan pergi karena kami tak lagi mendaki namun turun. Dua jam ke bawah akhirnya kami bertemu rombongan pertama.Bagaimana kita turun sekarang walau kemalaman.Yup ujar pak imran matap. Akhirnya tanpa lampu kami menyusuri pungun gunung, berjalan perlahan hanya dengan bantuan cahaya henpone.Berat dan mencemaskan, beberapa kali aku mesti terjatuh karena benturan dengan kayu atau akibat rumut dan duri. Aku was..was karena beberapa binatang buas bisa saja menerkam. Bau babi liar segera menusuk, beberapa anggota regu berteriak, "Awas babi hutan"! nyaliku mulai ciut, tapi akh aku mesti memberanikan diri. AKhirnya keberanian itu mengantarkan kami sampai di laboratorium dalam keadaan ke hausan dan kelapan sementara jam tangaku menunjukan pukul 10 malam. Sebuah oleh-oleh berharga baru saja kudapatkan "perjuangan itu adalah kesabaran menjalani tantangan dan kemampuan bertahan hidup".Semoga!

Posting Komentar

0 Komentar