Lagak orang Jakarta

Entah kenapa sejak awal bertemu aku mulai tak suka tampang orang ini. Bagiku dia terlalu jumawa, dan benar setelah ketemu di Jakarta akhirnya dia datang juga ke Palu. Dengan dalih memberi arahan. Shittt, apa yang mau di berikan arahan. Apa dia pikir semua orang daerah itu bodoh? Tapi terlepas dari semua hal itu, aku mesti mengakui bahwa dia telah sukses. Tapi kesuksesan bukan berarti bebas memperlakukan orang se maunya khan. Kemarin dengar ceramah delapan jam, shitt semuanya menjelaskan bagaimana menarik Investasi Asing. Aku sedih juga dengan persoalan ini, jadi kepikiran apakah sebuah daerah mesti terus bergantung pada investasi asing untuk membangun sebuah kota ? Kawasan Ekonomi Khusus, Industri agro kita mengapa begitu tergantung pada Investasi Asing? Apakah negara ini tak pernah yakin dengan modal dalam negri, pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sampai kapan kita mengantungkan diri pada Investor? Aduh bapak-bapak ekonom apa ngak bisa berpikir lain ? mengapa pemerintah tak pernah berani berkata “kita mesti menjadi bangsa bermartabat, bangsa yang mampu mengolah sumber daya alamnya sendiri”!!!
Jadi ingat karya A.A Navis yang kalau tidak salah judulnya Robohnya Surau Kami, yang menceritakan bahwa mereka orang asing akan masuk surga karena mampu memanfaatkan sumberdaya alam yang diberikan tuhan kepada mereka. Apa kita nanti masuk neraka yah ? hi..hiii ngak tau dech? Kelak kalau Allah memberikan Izin aku jadi walikota yang pertama aku pikirkan bagaimana daerah ini bisa mandiri dengan sumberdaya sendiri, efisiensi birokrasi dan yang paling penting adalah efisensi keuangan daerah. Programnya ngak perlu muluk, cukup “menjadikan palu kota bermartabat dengan kemandirian lokal”.Lantas apa yang di pakai membangun ekonomi daerah dan perluasan lapangan kerja ? Pertama, berantas korupsi birokrasi. dua, buat regulasi yang ketat untuk ekport komodity unggulan kita seperti kakao. Tiga, jadikan palu kota parawisata dengan membangun lend mark daerah, empat aktifkan penguatan kelembagaan daerah dengan mendorong penghasilan yang ketat bagi para orang kaya. Lima, reformasi agraris, jadikan palu kota Agronomi yang hijau dan perkebunan rakyat yang kuat. Enam, benahi sektor industri dari hulu sampai hilir. Cuman aku jadi bingung modal untuk membiayai itu semua dari mana yah ? ah nanti saja di pikirkan kalu sudah jadi walikota beneran,,,,hiiiii

Posting Komentar

0 Komentar