Selamat Jalan Pak Mansyur Semma

Semalam mataku begitu mengantuk, tugas liputan menjelang kedatangan menteri di Kawasan Industri membuatku lelah. Begitu bangun pagi aku kaget melihat HP-ku dengan begitu banyak panggilan tak terjawab. Padahal malamnya aku masih sempat mendengar kabar bahwa beliau sakit dan aku hanya berpikir "ah bapak pasti melewatinya, karena aku begitu yaknin sosok ayahanda Mansyur Semma adalah sosok tegar yang tak akan kalah dengan penyakit". Masa krisis bukanlah sesuatu yang mampu membuatnya menyerah, jiwanya begitu keras untuk bertahan dan bertahan lagi... Namun sebuah sms singkat pagi tadi membuat hari ini menjadi sebuah hari kejutan, Ayahanda telah pergi untuk selamanya dan ia mesti mengalah pada gagal ginjalnya. Aku terpukul di sudut kamar, merenung sejenak memperbaiki ingatanku.Pak Mansyur bukan sekedar dosen bagiku, begitu banyak kebersamaan yang aku lalui bersamanya. Sejak menjadi mahasiswa baru sampai menjadi sarjana bimbingan beliau tak pernah putus untukku.Kini kau mesti mengalah dengan batas waktu yang ditentukan sang pemberi hidup. sepertinya masa istirahat telah tiba wahai ayah, aku yakin Allah memberikan tempat terbaik bagimu. Ketika semasa kuliah aku sering melihat Pak Mansyur begitu rajin menjalankan puasa senin- kamis.Belum lagi persoalan ibadah beliau begitu rajin bahkan teramat rajin...(jadi malu kalau mengenang hal ini)...Berbagai kenangan kami lalui bersama, aku sebagai salah satu mahasiswa yang dekat dengan beliau sering sekali terlibat diskusi akan berbagai hal. Mulai dari wacana ke islaman, diskusi politik hingga asmara membuat jarak itu semakin dekat. Berbagai tulisan beliau yang dimuat di media cetak beberapa diantaranya hasil dari kolaborasi kami berdua ( dalam makna bukan sesungguhnya;artinya sayaa cuman mengetikan kodong! ) setiap alinea beliau minta di bacakan berulang-ulang, takut kalau ada yang bisa menyebabkan salah arti. Transformasi ini, tanpa sadar membuatku sedikit berani memasukan opiniku pada tulisannya, beberapa diantara tulisannya aku tambahkan pendapatku dan tanpa diketahui oleh beliau yang mengalami ganguan penglihatan. Hitung-hitung pasti tulisannya dimuat khan beliau penulis terkenal. maaf yah pak!
Kenangan lain , ketika aku masuk rumah sakit beliau dengan ikhlas membantu biaya pengobatan. Masya Allah, pak aku begitu berdosa... Terakhir bertemu beliau mungkin setahun yang lalu ketika aku berdebat lewat tulisan tentang persoalan BHP Unhas. Dengan sangat emosional, murid kurang ajar ini mendebat gurunya sendri. Waktu itu, aku berpikir toh "murid yang baik adalah yang berani melawan gurunya".Maaf wahai ayah, aku melawanmu saat itu, dan ia hanya menjawab setelah tulisan itu terbit "dek tulisanmu bagus dengan menyajikan sudut pandang berbeda".Aku gugup dan tak mampu berkata apa-apa sama seperti hari ini, aku belum sempat memohon maaf. Aku gugup ingat begitu berdosanya padamu.Selamat jalan ayah, guru dan sahabat, tak perlu ada air mata untukmu cukup doa dan harapan semoga kami para muridmu dapat meneruskan semangatmu yang membara itu!Aku juga tak hendak memujimu sebagai manusia cerdas dengan ragam gelar, aku bisa sepertimu karena keyakinan itulah yang selalu kau titipkan dalam dadaku "tak perlu mengagumi cukup belajar pada orang yang kau kagumi"!selamat jalan sekali lagi selamat jalan wahai ayah. Aku berduka!ah, cukup aku benci tangisan karena kau tak butuh itu!

Posting Komentar

1 Komentar

  1. slamat jln pak mansyur, sosok yang hadir lebih dari sekedar guru.
    smoga ALLAH memberikan yang terbaik!
    Bank, org yg pertama memperkenalkan sy dgn bpk, sy ingat waktu kita hatus menjual laptop "batu" sama bpk hanya untuk radio caka.
    bank, siapa lg itu ! kak ipar? aduhhh terlampau jauh.ADA YgDISAkiti lg, hehehe.. ALAN

    BalasHapus