Kancil Tak Selamanya Menang…

Ketika masih kecil saya begitu sering membaca dan didongengkan tentang sosok “Kancil sebagai binatang kecil yang cerdas”.Kancil dalam buku selalu diceritakan memenangkan bergam pertandingan antar binatang hutan hingga mengelabui Pak Tani Pemilik Timun.
Kancil hidup dalam imajinasi anak Indonesia, termasuk saya dan mungkin anda. Kancil dalam bahasa melayu disebut pelanduk, sedangkan dalam buku genetika hewan ini masuk kedalam rumpun Tragulus javanicus yang merupakan keturunan ruminansia terkecil di dunia. Ruminansia adalah hewan pemakan hijauan yang memiliki lambung dengan beberapa ruangan. Contoh hewan ruminansia lainnya, yaitu sapi, domba, kambing dan rusa. Hewan – hewan ini memiliki lambung dengan empat ruangan. Masing – masing ruangan memiliki fungsi sendiri-sendiri. Oh yah, kita tentu tidak hendak membahas kancil secara genetik namun saya tertarik ingin membuat sebuah kisah kancil yang berbeda begini kisahnya ;

Pada suatu hari di kerajaan hutan Saraswati akan diadakan Musyawarah binatang-binatang untuk memilih Raja baru mengantikan Buaya yang sudah lima tahun berkuasa. Selain sudah tua, Buaya begitu lelah menjadi penguasa di hutan Saraswati yang dikenal sebagai hutanya binatang-binatang cerdas dan tempat moral begitu dijunjung. Sang Raja bosan dengan jatah makan yang sedikit, belum lagi begitu banyak aturan yang mengikatnya sebagai raja. Selain itu sang Raja merasa kegemaranya yang senang kawin-mawin begitu ditekan akibat konvensi sebagai Gerbang moralitas hutan di seluruh negri. Padahal terkadang raja saraswati begitu bergairah melihat buaya muda yang sintal dengan body sexy, matanya tak akan berhenti menatap dan darah putihnya akan segera sampai di ubun-ubun. Namun karena menyandang status sebagai penguasa Saraswati sang Buaya selalu menahan keinginannya, pernah beberapa kali Ia selingkuh. Gosip segera tersebar dan tekanan datang dari berbagai penasehat yang membuatnya mesti mengurungkan niatnya berkali-kali.
Pagi menjelang pemilihan diberbagai komunitas binatang terjadi perdebatan sengit siapa yang pantas menjadi Raja Saraswati selanjutnya. Penghuni hutan bagian kiri yang dikenal fokal dan kritis setelah berdebat panjang akhirnya menunjuk se-ekor Banteng untuk menjadi raja. Sang Banteng kegirangan, tanduknya bedenyut-denyut, nafasnya memburu tak teratur, matanya menjadi kabur dan siap menanduk siapa saja yang akan menjadi lawannya. Kancil tersenyum puas akan hasil yang dicapai oleh kawan-kawannya. Ia begitu yakin sang Banteng mampu mengalahkan calon dari penguhuni hutan sebelah kanan. Selain memiliki kekuatan, banteng dikenal sebagai binatang yang tegas dan bersih dari celaan. Ia termasuk binatang yang berani mengahabisi siapa saja yang melakukan ketidak adilan. Rasionalisasi inilah yang diyakini oleh si Kancil, selain itu tentu saja Buaya akan berhitung mengangu sang Banteng yang pemarah.
Sementara itu di hutan sebelah kanan, pertemuan dipimpin oleh seekor Bunglon yang dikenal piyawai dalam politik. Bukti kesuksesaanya adalah memenangkan Buaya menjadi raja. Kali ini, Bunglon mengajukan usulan untuk memilih rubah menjadi raja, namun hampir semua hadirin menolak sang Rubah untuk dijadikan calon, sang bunglon sebenarnya tau bahwa usulanya tak akan diterima namun ia berpikir politis, tanpa disepakatipun sang rubah yang ambisius akan mengajukan diri sebagai calon dan dengan mengajukan usul kepada forum sama artinya rubah berada dipihaknya dan akan berutang budi padanya.
Melihat kondisi yang tak menentu Buaya yang berpihak pada Hutan sebelah kanan menjadi begitu marah, Ia selalu sepakat pada ide Bunglon Guru Politiknya. Akhirnya karena ketakutan pada buaya yang masih memiliki kekuatan sebagai Raja yang sah dengan terpaksa hutan sebelah kanan sepakat untuk mencalonkan Rubah menjadi Calon, toh pada saat pemilihan nanti semuanya akan berlangsung tertutup. Jadi mereka tak akan diketahui apakah memilih sang Rubah atau tidak.
Ketika diperjalanan menuju tempat pertemuan sang buaya berdiskusi dengan Gurunya mengenai keputusan yang baru saja diambilnya. Bunglon dengan berbisik kemudian mengatakan apa rahasia dibalik usulannya tersebut.
”Aku sudah tau bahwa sebahagian besar binatang hutan kanan telah memiliki calon penganti dirimu yaitu si Anjing, namun aku juga tau sifat rubah yang ambisius. Tanpa diberikan dukungan Rubah bersama pengikutnya, hewan-hewan kecil lainya akan tetap mengajukan diri. ini persolan politik bung! bagaimana kita mencari kawan, tanpa rubah dan kawan-kawannya jumlah kita kalah melawan Kancil serta teman-temannya, untuk itu kita calonkan saja si Rubah menjadi calon, nah pasti pendukung Anjing akan tetap mengajukan Anjing sebagai calon secara diam-diam kau sebagai mantan raja tak boleh menunjukan dukunganmu secara vulgar, pada saat itu aku akan mengatakan pada Anjing bahwa kau berada dipihaknya dan juga si rubah akan ku beritahu bahwa dukungan padanya tak banyak , lebih baik mengalah saja. Toh kau juga mendukungnya sebagai calon, setelah itu tanpa berpikir panjang dia akan mendukung usulan kita, karena malu untuk bergabung dengan hutan kiri yang telah memiliki calon”.

Ketika pemilihan berlangsung kedua juru bicara saling berhadapan dan mengajukan calon. Dari Hutan kanan Banteng nampak sumringah setelah namanya di ucapkan oleh kancil sebagai calon raja, sementara itu bunglon tetap mengajukan rubah menjadi calon. Ketegangan terjadi antara kedua belah pihak, Banteng menatap tajam sang rubah, deru nafasnya terdengar seakan hendak menanduk, sementara itu rubah yang tak tau rencana sang bunglon tetap percaya diri.
Saat sidang dipending untuk makan siang, kancil sang Juru Lobi mulai bergerilya pada beberapa binatang hutan kanan, Ia mengajukan beberapa argument betapa lucunya bila hutan saraswati dipimpin oleh seekor rubah yang bertubuh kecil dan tak bertenaga, selain itu rubah dikenal peragu dan tak berpendirian. Beberapa binatang sebelah kanan nampak mulai terpengaruh akan kemampuan sang kancil meyakinkan, namun selang beberapa saat Bunglon mendatangi mereka dan mengatakan akan mendukung Anjing bila mereka mau. Dan seperti rencananya yang matang dan akibat pengalaman lapangan, sang Bunglon kembali sukses mendapatkan kepercayaan para binatang untuk mendukung Anjing sebagai Raja Saraswati. Semuanya diatur secara damai, sang bunglon dengan enteng berujar “ini Demokrasi”, kehendak aspirasi dari bawah maka kita harus mendukungnya”.

Buaya akhirnya bisa kembali lega, sang Bunglon tersenyum kemenangan, sementara Rubah diliputi kebingungan dan kancil sadar bahwa tak selamanya kecerdasan dan Rasionalitas bisa menjadi alasan bagi pilihan politik, begitu banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Haaaahahahahahahaaa.

Cerita ini hanya Fiktif belaka
Jika ada kesamaan Tokoh dan Kejadian
Itu Hanya kebetulan....

Posting Komentar

0 Komentar