Golkar

Pada paruh tahun 1950-an, saat Indonesia sedang berada pada masa pergolakan ideologi. Saat sang proklamator sukarno sedang larut dalam haru biru pembentukan karakter bangsa, sebuah kekuatan politik militer dan sipil lahir "Golongan Karya begitu mereka menyebutnya". Golkar muncul sebagai afiliasi tengah diantara peta pertarungan kekuasaan politik republik ini.
Kubu Nasionalis (PNI), kaum sosialis (PSI), Komunis (PKI) dan Islam lewat (masyumi) sedang dalam kancah perebutan kekuasaan, berebut pengaruh, hegemoni dan dominasi atas ideologi bangsa. Golkar muncul sebagai alternatif dari ambiguitas karakter bangsa yang berada dalam diri sukarno. Ya, sukarno yang belum selesai, sukarno yang dihianati poros militer. Rupanya sang Bung belum sadar, singa telah lahir dan akan muncul melibas kue republik yang sedang dipimpinya.
TNI dan sipil sedang berafiliasi ditengah frustasi ideologi yang belum juga memakmurkan, politik mercusuar yang gagal, demokrasi terpimpin yang mengarah pada fasisme dan ah.., jargon Revolusi sang Bung yang mulai parau karena terlalu sering kawin mawin.
Sebuah "jalan tengah" ditawarkan Golkar, jalan yang mengusung jargon kesejahteraan, kemakmuran dan yang paling utama "stabilitas".Mereka memilih berada dipinggir kekuasaan lewat “partnership militer-sipil” dibawah payung Badan Kerjasama Sipil-Militer tahun 1950.
Setelah merasa masa tiarap berlalu, usia sukarno yang mulai senja dan lebih sering sakit dari pada sehat. Sekertariat bersama Militer- Sipil yang dimotori para jenderal aktif mulai memasang kuda-kuda, langkah pertama adalah menghabisi kekuatan nasionalis, perang terbuka melawan komunis dan ikut pemilu tahun 1971. Hasilnya Golkar tampil menjadi pemenang, stabilisasi terjadi dan rehabilitasi ekonomi demokrasi liberal menjadi corak baru bangsa, idiom pancasila menjadi ideologi tunggal. Dan sekali lagi "jalan tengah yang ditawarkan sukses menjadi pilihan politik".
Golkar dan jalan tengahnya ternyata sukses menjadi "pemenang"dalam beragam dinamika politik yang terjadi.Suharto tampil menjadi panglima, bapak bangsa dan secara perlahan melunturkan hingar bingar Sukarno.Fondasi ekonomi diletakan sang Godfather, dan ia berkuasa 32 tahun. Sebuah pencapain yang begitu fantastis bagi seorang kepala negara dengan pulau yang begitu luas.
Tapi Hukum alam terjadi, rezim diaspotik mesti runtuh oleh anak kandung generasi hasil didikannya. Tahun 1998 Golkar dalam masa krisis, Suharto mangkat, peta poltik berubah, kelompok sempalan yang terlarang dimasa orba muncul, berafiliasi dengan kekuatan politik lama yang merupakan titisan masa sukarno. Teriakan pembubaran mengema disetiap daerah. Namun Golkar bukan pemain baru, mereka terlatih menghadapi krisis politik, cangkang suharto masih kuat diberbagai daerah, dan Golkar masih punya seorang Akbar Tanjung yang dingin dan matang sisa peninggalan angkatan 1966.
Sekali lagi, Golkar selamat dari krisis. Momentum krisis yang terjadi tak mampu diselesaikan oleh kelompok revormis dibawah Megawati, AMin Rais dan Gusdur. sementara Mahasiswa sebagai molotov telah kembali ke Gerbang kampus, gaya hedonisme dibawah mimpi kapitalisme teryata lebih menarik dari pada jargon ideologi.
Dan setelah kalah pada pemilu 1999, tahun 2004 Golkar kembali tampil sebagai pemenang pemilu namun bukan calon presiden Golkar teryata kalah menghadapi SBY yang sedang naik retting.
bersambung.........

Posting Komentar

1 Komentar

  1. artikel anda :


    http://partai-politik.infogue.com/
    http://partai-politik.infogue.com/golkar

    promosikan artikel anda di www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!!!

    BalasHapus