Not Everything that can be counted counts, and Not everything that
counts can be counted….

(Tidak semua yang dihitung itu benar-benar penting dan bermakna, tidak semua yang bermakna itu dapat dihitung)

(EINSTEIN)

Ada sebuah epos Yunani abad pertengahan, tentang seorang anak yang bernama “Ikarus” .Ikarus muda bermimpi untuk terbang menuju angkasa, ia bermimpi memiliki sepasang sayap yang membuatnya melihat dunia dari batas bumi. Sebuah deskripsi menarik dihantar oleh Gunawan Muhamad (GM) dalam bukunya “setelah Revolusi tidak ada lagi”. Namun, GM lupa bahwa ikarus bukan hanya perlambang dari pemberontakan di zamannya, ikarus adalah lambang dari sebuah dimensi kehidupan, symbol dari kegelisahan yang menjadi penanda dari anak muda.

Benar , ikarus akhirnya mesti jatuh dengan sayap lilin buatan sang Ayah, namun ikarus pernah terbang membelah angkasa. Malang, bagi sebahagian orang bahwa impian dan cita-cita tidak semuanya dapat terwujud. Namun cerita Yunani ini, telah mengajarkan kita satu hal “ impian mesti dikejar” soal gagal atau tidak setidaknya ikarus telah memulai sebuah langkah besar, langkah berbeda sekaligus kontras. Itulah dunia anak muda, dunia yang dipenuhi keinginan, impian, ambisi dan cita-cita.

Kisah ikarus juga mengajarkan tentang “dunia orang tua”. Dunia penuh pertimbangan, kekhawatiran, normatif dan penuh curiga serta ketakutan. Ayah ikrus juga seperti para orang lainya, ia sadar sang anak tak bisa terbang, karena hanya burung yang memiliki sepasang sayap, ia pernah mengalami fase yang dialami sang anak; ketika dunia adalah batas pikir dari ruang yang disaksikanya, masa itu adalah ”gelora kebebasan”, namun Ayahnya juga sadar meredam impian seorang anak muda adalah sebuah pembunuhan masa depan, pembantaian nalar sekaligus penghancuran satu generasi. Berkat kesadaran itu, ia mengambil langkah yang begitu kontras dengan membuatkan sepasang sayap dari lilin bagi ikarus sembari ber ujar ”terbang dan kejar impianmu”!

Bersama Ayahnya Ikarus berangkat ke puncak Gunung yang tinggi, kaki ikarus bergetar ketakutan melihat ketinggian, ia takut akan terjatuh, Ikarus muda sadar impian itu begitu berat dan penuh resiko. Sang Ayah tahu ikarus bimbang, cemas dan mulai ragu pada keinginannya, namun ia juga sadar ”bahwa impian penuh resiko adalah proses menjadi dewasa”. Maka dengan bijak ia berkata pada ikarus ”kalau engkau pernah punya harapan, jangan membunuhnya karena resiko yang belum tentu berbahaya”.
Maka ikarus meluncur dari puncak gunung, ia merasakan terbang di angkasa, melihat para petani yang sedang sibuk bekerja disawah, mengambil jarak dari dunia walau sejenak, dan akhirnya seperti dugaan semua orang ikarus akhirnya terjatuh ditengah pematang!

Itulah dunia anak muda, dunia penuh keinginan sekaligus keraguan. Demikian juga dunia seorang ayah yang berjiwa besar, mengajarkan anak-anaknya menjadi petarung dengan laku bukan dengan membunuh kreativitasnya, menghentikan impiannya, bahkan memaksanya layu sebelum berkembang.
Seorang Guru yang saya begitu kenal mengajarkan saya begitu banyak impian, ia laksana ayah ikarus dan kami mahasiswa adalah anaknya. Teguh menjalani hari-harinya sebagai seorang dosen dengan gaji pas-pasan, dengan vespa tuanya ia membelah pagi untuk mengajar. Ia sosok teguh dengan pendirianya, bekerja demi pengetahuan dan begitu menjunjung tinggi nilai dan aturan.

Pernah suatu saat saya terlibat diskusi panjang bersamanya disebuah pagi yang cerah ceria , kala itu kalau tidak salah saya baru semester empat.”Dik korupsi adalah musuh terbesar dan saya di zalimi saat ini, biasiswa s2 yang jadi hak saya di ambil oleh pihak tak bertangung jawab, akan saya perkarakan mereka dan akan tulis ini di media biar semua orang tau permainan kotor ini”! Ada emosi dari kalimatnya, saya kemudian diperbolehkan membaca tulisannya. Saat itu, saya begitu mengaguminya sebuah keberanian sedang di pancangkanya pada dunia akademik tempatnya mengajar sekaligus menimba ilmu. Terbayang di pelupuk mata saya, sebagai seorang dosen di Universitas yang sama dengan tempatnya melanjutkan studi, ini akan membuat pihak universitas kebakaran jenggot, marah dan mungkin bisa saja memecatnya.

Beberapa hari kemudian saya membaca tulisanya yang dengan tegas membuka aib rumah sendiri ke media massa. Menghancurkan kredibilitas akademik yang begitu agung, bahkan membuat publik marah dan menyebabkan beberapa oknom yang terlibat ditangkap. Terus terang saya terkejut dengan apa yang terjadi, dia telah membuktikan kepada mereka yang pesimis dengan perjuangan melawan tembok kekuasaan bahwa keteguhan adalah kekuatan. Tanpa sadar dia telah mengajarkan saya satu hal ”ketidak adilan mesti dikabarkan”! Sebuah perjuangan patriotik lewat dunia Jurnalistik.

Waktu berlalu, silih berganti dengan daun jati unhas yang mengering. Saya mendapat kabar sang Guru menjadi tim pemenangan kandidat dekan. Terus terang saya mulai khawatir akan dirinya, apakah sosoknya tetap sama dengan ketika belum larut dalam tembok kekuasaan ? Belum juga pikiranku terjawab kabar baru kembali terdengar, kandidat dekan yang didukungnya dengan beberapa dosen yang menurutku kritis teryata menang . Terus terang, saya begitu senang kala itu, ada optimisme menatap wajah baru pendidikan.
Namun usia di kampus mesti berakhir, saya dan beberapa mahasiswa lain yang seangkatan mesti hengkang sejenak demi melanjutkan hidup sebagai manusia pasca kampus. Ketika mengurus surat keluar dari kampus ”ijazah”, saya menyempatkan diri bertemu, kini ia tak lagi berada diruang tunggu dosen, ia diangkat oleh dekan terpilih sebagai salah seorang pembantu dekan. Ruangan itu tak nampak mewah, berbeda dengan ketika pembantu dekan sebelumnya. Kesan sederhana ingin ditonjolkannya, saya kemudian nekat bertanya ”pak ruangnya tidak diisi perabot”? Beliau hanya tersenyum.

Praktis setelah itu saya tidak berjumpa dengan dirinya sama sekali, tuntutan hidup dan pekerjaan memaksa untuk berpikir lain. Kini saya kembali dikampus ini, untuk melanjutkan studi, begitu banyak kabar terdengar tentang dirinya. Tentang skorsing bagi sejumlah kawanku dekatku yang diskors karena demonstrasi yang diangapnya mengangu ketertiban, bahkan kabar terbaru sejumlah adik-adik yang berdemonstrasi kembali diskorsing dengan alasan mengucapkan kata-kata yang tidak sopan bagi pimpinan fakultas?

Aku termenung, berpikir sembari mengenang sejumlah episode kehidupan yang pernah aku lalui. Berubahkah dirinya ? Benarkah demonstrasi mengangu ketertiban ? atau ia telah menjadi sosok-sosok birokrasi yang di lawannya dahulu ? Bagiku, demonstrasi adalah sikap aktif, sikap ikarus yang punya mimpi dan harapan serta gelora, sikap represiflah yang justru berbahaya. Selama nalar kritis mereka yang berdemonstrasi demi tujuan mulia dan bukan bayaran, hal itu wajar bagi para anak muda. Karena menyimpan kegelisahan dan keinginan, mengapa dimatikan dengan logika normatif atauran yang kaku ? skorsing bagi mahasiswa bukanlah solusi yang tepat, karena justru akan membuat mereka tidak berani bermimpi dan semakin takut melangkah ? Jangan berharap perubahan akan datang dari para mahasiswa yang hanya diam dikelas, jangan pula berharap kampus ini akan melahirkan mahasiswa yang punya hati dan kepedulian bila selesai kuliah hanya ketawa-ketiwi di cafe, atau pula jangan berharap kejahatan yang dulu kau lawan wahai Guru terbongkar jika kau tak melawan ?

Masalah ungkapan yang dinilai kasar saat berdemonstrasi, bagi saya itu begitu subjektif karena bergantung pada zaman dan individu dimana norma itu berlaku. Justru menjadi tidak bijak untuk memposisikan diri sebagai aparatus kuasa di zaman ini, dengan kekuasaan menjatuhkan sanksi, sementara posisi antara mahasiswa dan birokrasi tak seimbang. Karena kita semua tau, mahasiswa tidak mungkin menskorsing dosen? Tapi setidaknya kau mengajarkan aku satu hal lagi, ”bahwa kekuasaan bisa mengubah segalanya”!!!

Posting Komentar

0 Komentar