Sandal Jepit

Hampir setiap hari saya selalu dilihat aneh oleh orang-orang, karena kebiasaan memakai sandal jepit. Biasanya mata mereka akan bergerak memperhatikan kedua kaki saya yang telanjang tanpa sepatu.Entah kenapa kebiasaan memakai sendal jepit tak bisa dilepaskan.
Bagiku memakai sepatu adalah bentuk penyiksaan, penindasan yang berat, apalagi kalau mengunakannya selama berjam-jam sepertinya kakiku seperti terbakar.Kalau hendak keluar, seperti ada tugas liputan atau bertemu dengan orang tertentu , biasanya Big Boss akan segera berkomentar "masih pakai sendal jepit juga "? saya cuman senyum-senyum gitu, sambil nyengir tidak jelas. Ah, susahnya melawan kebiasaan , bagi saya sandal jepit adalah sebuah kenyamanan, fleksibilitas, lantas kenapa mesti membebani diri dengan mengunakan sepatu yang membuat tersiksa. Hem sepertinya kebiasaan masyarakat agraris masih melekat..

Tapi saya percaya bukan cuman saya yang meyakini ini, kalau tidak percaya tengoklah anak sekolah didesa-desa, sepulang sekolah mereka akan mengantungkan sepatunya di leher karena sepatu begitu menyiksa. Mengunakan sepatu melalui pematang, jalan pegunungan yang terjal serta sisa air hujan di jalan aspal berlubang, adalah sesuatu yang kurang nyaman bagi mereka . Sepatu begitu mengintimidasi masyarakat agraris Indonesia!!!

Dasar pembenaran ! Ah, tidak juga sandal jepit bisa pula dipakai menjadi perlawanan Budaya terhadap kemapanan budaya formal kita yang begitu kaku. Memang sih Lee laccocca atau Donal trump, Habermas atau welter Binyamin tak pernah mengaris bawahi sandal jepit sebagai bentuk kebudayaan kritis ? kalau dipikir dengan akal sehat; “apa korelasi antara sendal jepit dengan pekerjaan para manusia kota yang bergerak disektor swasta, pelajar, mahasiswa atau pegawai pemerintahan? Argumennya pasti untuk menghormati orang lain, tata karma dan sejumlah alasan etika ? Nah, ini adalah bentuk kemapanan kebudayaan yang dipaksakan bagi kita, seolah-olah ada ketidak hormatan ketika kita masuk kawasan perkantoran, bertemu mitra kerja, pejabat, dosen, guru sampai lurah dengan kaki yang hanya beralas sandal jepit.

Sejak SMU saya selalu bermasalah dengan sepatu, dimarahi guru karena jarang pakai sepatu, dibilang kurang sopan dan memandang remeh institusi sekolah, lantas kalau saya tanya ; "ada tidak hubunganya memakai sepatu dengan prestasi saya, dengan memakai sendal jepit saya masih menjadi juara kelas "? Guru saya ketika itu langsung marah dan mengatakan saya tidak ber-akhlak ? eh, kok sampai di akhlak ? memangnya Tuhan menilai manusia dengan apa yang dipakainya? wah..., tambah jauh yah...he,,,hehehe..

Saat kuliah teryata masih sama, sandal jepit jadi masalah kembali, beberapa kali saya disuruh keluar dari kelas oleh dosen karena masuk tanpa sepatu ? saya tambah bingung pada logika para dosen, kalau guru saya bego mungkin wajar mereka merupakan bagian dari produk pendidikan kampung, nah dosen saya rata-rata master, doktor dan bahkan Profesor dari universitas dalam dan luar negri. Mereka terbiasa berpikir rasional dengan sejumlah teori yang susah-susah, "masak masih mempermasalahkan sandal jepit sih ?"harusnya mereka mempermasalahkan apakah saya baca buku atau tidak, sampai dimana diskusi mata kuliah atau bagaimana tugas praktek ?
bukan mempersoalkan sandal jepit yang saya pakai.
Selesai kuliah, dan menjadi pekerja serabutan sandal jepit kembali jadi persoalan ? Hem sunguh malang nasibmu sandal jepit, seolah menjadi penanda dari kebudayaan rendah warga negara negri ini…

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Anonim1:32 PM

    hehe...sesuatu yg simple tp jd ribet..

    BalasHapus
  2. upzzz...

    hidup sendal jepit!!!

    BalasHapus