Keberanian Ali….

Pemerintahan dan Kekuasaan yang tidak memperaktikan kebenaran dan tidak melenyapkan kebohongan adalah mahluk terburuk di dunia

( Suat Politik Imam Ali bin Abi Thalib)

Ia tercatat sebagai Amirul Mukminin ke-4 pasca Rasullulah mangkat. Pribadi agung yang telah menorehkan sejarah bagi peradaban Islam. Sosoknya cerdas, pemberani, visioner. Lelaki yang menjadi keponakan Rasullulah yang mulia, sekaligus orang pertama yang menyatakan diri ber-Islam. Ali, yang kelak di pilih untuk menjadi menantu pewaris keturunan Nabi akhir zaman, suami dari wanita suci semesta, Fatimah Azzahrah!
Di hadapan sahabat-sahabatnya, Nabi SAW berulang kali bersabda bahwa “beliau adalah kota ilmu yang pintunya adalah Ali bin Abi Thalib as”. Sabda Nabi ini dibenarkan oleh para sahabat yang menyaksikan sendiri betapa Ali adalah satu-satunya orang sepenninggal Nabi yang menjadi rujukan dalam berbagai hal.
Abdullah bin Abbas yang dikenal sebagai guru besar tafsir Al-Qur'an sepanjang sejarah, adalah orang yang berguru kepada Ali. Abul Aswad Al-Duali, sasterawan besar Arab dan penyusun ilmu Nahwu adalah murid Imam Ali as. Bahkan, beliaulah yang memerintahkan dan menuntun Abul Aswad untuk menyusun ilmu Nahwu.

Kepada sahabat dekatnya yang bernama Kumail bin Ziyad, Imam Ali as pernah menjelaskan kemuliaan ilmu dibanding harta. Kemudian beliau menunjuk dadanya secara mengatakan, "Di sini terpendam ilmu yang sangat luas. Andai saja aku menemukan orang yang bisa menerimanya."
Itulah Ali dan kemuliaannya, namun garis kehidupan memang selalu tak dapat diduga, hiruk pikuk politik telah mengantarkan Ali dalam sebuah pertarungan kekuasaan panjang, membuat Ali tampil menjadi manusia yang dipuja sekaligus dicerca. Sejarah menceritakan beberapa priodesasi ketika umat Islam saling berperang, ketika fitnah menaiki mimbar mesjid, ketika darah sesama saudara tak lagi terelakan, demi sebuah perebutan kekuasaan politik antara dua mazhab Syiah dan Sunni.

Mungkin benar apa yang dipikirkan Mao Tse-tung, perebuatan kekuasaan ditentukan dijung senapan. Selalu saja mesti ada korban dalam setiap kuasa politik, ketika manusia begitu sulit membedakan mana cita-cita ideologi dan mana syahwat politik. Memang sebuah Revolusi bukan “jamuan makan malam”!

Ali Syariati
Setelah paruh tahun 1979 seorang Ali muncul kembali, namun dalam sosok yang berbeda. Ali kali ini muncul sebagai inspirator gerakan bagi revolusi iran. Sekaligus pemikir muda yang berani dan setia bersama ide pembebasan kaum mustadafin. Ali melawan para tokoh agama dimasanya, membongkar kejahatan para syah yang bersembunyi dibalik tameng kepercayaan yang menghisap darah umat.

Ali sedang berteriak tentang Islam yang lebih peduli, islam yang berjuang melawan perbudakan, dalam buku yang ditulisnya Para Pemimpin Mustadfin Ali Syariati menulis sebuah surat Imajinatif yang mengharukan ; Kami Hidup dalam Keputusasaan, tapi sekali lagi seberkas cahaya harapan kembali terbersit. Nabi-Nabi besar berdatangan. Ada Zoroaster, Budha, Confucius sang Filsuf dan lain-lain. Pintu ke- Arah selamat kini terbuka. Para ”Tuhan”kini mengirimkan rasul-rasul mereka untuk menyelamatkan kita dari kehinaan perbudakaan; peribadatan mengantikan penindasan. Namun sayang sekali, untung belum bisa kita raih.

Para Nabi, meningalkan rumah kenabian mereka menelantarkan kita, dan bergerak menuju Istana.Sebuah nada satir dalam tulisan-tulisan Ali Syariati, mencoba mendekonstruksi Agama dan sikap politik yang kadang tak serarah. Ali termenung, mendesis perlahan tentang kuasa politik kaum agamawan yang terkadang ambigu dan senang bersembunyi dibalik tameng dakwah.

Namun Ali asal Iran ini, tidak berputus asa. Ada keriangan yang diceritakannya, takkala ia menulis ; Ditenggah keputusasaan ini, aku mendapat berita seorang manusia telah turun dari Gunung dan berkata, ”Aku telah di utus Tuhan”.Aku telah di utus oleh Tuhan yang menjanjikan kasih sayang bagi budak belian dan mereka yang lemah di muka bumi”. Itulah pribadi Muhamad yang mulia, seorang Nabi yang berjuang bersama para budak dan mengajak mereka berjuang bersama bangsa proletar dunia bahwa penindasan atas kelas sosial tidak dibenarkan, bahwa Muhamad Al-Mustafa adalah cahaya pembebasan bagi mereka yang selama ini terlupakan. Muhamad datang membimbing Ali dan umat manusia, bukan menjadikan Agama sebagai bagian dari marketing politik apalagi pelanggengan kuasa, ”Muhamad datang bukan untuk membangun Istana”.

Ali Syariati telah membuktikan langkahnya, mengajak umat manusia dari tembok cina, Taj Mahal, hingga Indonesia untuk meneriakkan perbudakan moderen yang sedang berlangsung. Atau sekedar ingin berbicara ”bahwa kaum agamawan bukanlah nabi yang diperbolehkan berkuasa tanpa batas, dengan alasan dakwah sekalipun.

Ali Arifin

Kini Ali tampil lagi, dalam sosoknya yang berbeda dan dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Mungkin seperti kalimat yang sering muncul diakhir sinetron kita “ini hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan tokoh dan nama itu hanya kebetulan saja”. Mungkin kebetulan yang terduga, kebetulan yang mengantarkan sejumlah orang sadar bahwa dunia selalu saja dihadiahi kemungkinan.

Ali itu muncul di makassar, dari Partai besar “pengusung panji dakwah yang mentasbihkan Islam sebagai cita-cita ideologi sekaligus jalan hidupnya”. Ali yang bukan menikahi Fatimah putri Rasullulah, tidak juga berbicara sebagai seorang Intelektual Revolusioner. Ali Arifin, sosok yang berani mengambil sikap berbeda dengan membeberkan sejumlah fakta kejahatan rekan separtainya dan sejumlah anggota DPRD lainya.
Sebuah langkah berani diambil oleh Ali, langkah yang membuatnya dicerca sekaligus dibenci. Tak hanya itu, Ali dengan lapang dada mesti siap dengan konsekuensi buruk di pecat dari partai sekaligus melepaskan jabatan sebagai anggota Dewan yang terhormat. Nyanyian Ali terkesan sumbang, supersif bahkan mungkin saja mengangu keyakinan sebagai partai yang menekankan kadernya tentang sebuah kesadaran; “samina watana”(kami dengar dan kami taat).

Ali Arifin sedang berkhotbah bagi para pengkhotbah, tentang kebenaran. Mengapa kita “tak berbeda dengan yang lain”. Sebuah jalan yang kontras di masa moderenisme yang memberhalakan uang dan kekuasaan dengan beragam alasan. Ali Arifin sedang mengucapkan kata putus bagi keyakinan Ideologis yang selama ini diperjuangkannya. Sebuah keyakinan yang teyata tak se-kokoh jargon yang diteriakan “jujur dan bersih”.

Apa yang dilakukan Ali Arifin mengigatkan pada sebuah surat yang ditulis Imam Ali bagi Malik Al-Asytar Al-Nakha’I Gubernur mesir yang mengantikan Muhamad bin Abu Bakar dalam Bayt Al-Hikmah( 1998;10); wahai malik, kendalikan keinginanmu dan tahanlah dirimu dari apa yang tidak dihalalkan bagimu. Karena dengan bersikap demikian engkau dapat bersikap adil berkenaan dengan apa yang disukai dan tidak disukai. Tumbuhkan dihati anda rasa cinta kasih dan kepedulian bagi masyarakat. Jangan hadapi mereka seperti binatang yang rakus, mengangap mereka siap dimangsa, karena bagaimanapun mereka adalah salah satu dari dua kemungkinan ; apakah saudaramu dalam se-agama atau saudaramu sesama manusia (sesama mahluk). Inilah karakter dakwah sebenarnya, dimana berbeda dengan yang lain adalah soal akhlak dan tangung jawab sosial bagi umat manusia.

Ali Arifin mungkin tak sehebat Ali Syariati, yang mampu memancang bara kaum muda bersama Khomaini mengulingkan pemerinahan Syah yang lalim. Tapi Ali telah membuka mata Masyarakat Makassaar, bahkan mungkin Sulawesi Selatan bahwa kaum agamawan yang berada di partai politik dengan klaim apapun ternyata juga berselingkuh dengan logika proyek dan tender kekuasaan.Entah dengan pembenaran dakwah sekalipun, kong-kalikong atas uang rakyat adalah sebuah kelaliman.
Ini sebuah cerita pilu, ditengah jargon “harapan itu masih ada”.!

Menantikan Ali yang Lain

Pintu kenabian kini telah ditutup, tak ada lagi nabi bagi umat semesta di-abad ini. Tidak sekalipun Mirza Gulam Ahmad. Tapi tidakkah Tuhan sedikit berbaik hati dengan mengirimkan kebumi para pemimpin yang berwatak seperti Ali ? Pemimpin yang bersedia berkata kebenaran dengan Nurani, berbicara dengan bahasa rakyat.
Andai saja dunia masih beruntung, Indonesia mungkin juga membutuhkan Ali yang lain berani berjuang bersama rakyat tanpa embel-embel jargon Agama atau apapun. Dunia membutuhkan para pejuang yang memiliki ilmu dan mengabdi dengan ketulusan, bukan para rahib yang bergerak menuju istana!!!
Kini umat ini, tidak membutuhkan mesjid yang megah. Tidak pula, ancaman akan surga dan neraka ditengah bahaya kelaparan dan kemiskinan. Mungkin dunia atau makassar membutuhkan pemimpin seperti Ali….

Posting Komentar

0 Komentar