Pemuda Baru

Pagi 17 Juli 2008 diatas sebuah kapal dipelabuhan Sidney, Paus Benekdiktus XVI sedang menyampaikan ceramahnya dengan terbata-bata dalam rangkaian perayaan hari pemuda sedunia. “Dunia kita semakin letih dengan kerakusan, eksploitasi, dan perpecahan. Letih dengan idola palsu, respon setengah-setengah dan janji-janji palsu,” demikin sang Paus dihadapan 200.000 pemuda yang berkumpul di dermaga Barangaro pada inti kisahnya.

Sang pemimpin umat katolik itu gelisah sekaligus putus asa, memikirkan nasib umat yang sedang diujung abad industri. Nasib para generasi yang kelelahan dengan kemunculan para Idola palsu sebagai jelmaan dari masyarakat industri.

Umat yang gersang dari dimensi iman dan rasionalitas, telah takluk dibawah masyarakat hibrit ciptaan dunia moderen. Paus sedang berteriak pesimis, parau diantara gegap gempita hasrat yang terus dikomodifikasi bagi kebutuhan masyarakat industri yang rakus.

Inilah dunia yang digugat oleh paus, sedang terjadi di bangsa yang baru saja belajar berdemokrasi. Para idola dari masyarakat miskin sedang tertarik terjun menuju ruang politik yang penuh manipulatif. Idola-idola semu yang muncul dilayar kaca, kini telah menyatu dengan para pemain sinetron di gedung DPRD.

Sejumlah aktivis jalanan dengan Iman yang teguh bagi rakyat miskin, mulai berganti wajah. Mereka frustasi, sehingga lebih memilih berjuang didalam gedung ber Ac ketimbang menikmati panasnya matahari siang yang membakar dengan meghapone ditangan. Mereka mulai menikmati "wangi parfum luar negri yang telah menutup sejumlah industri rumah tangga saringan kesturi botolan di sejumlah pulau didalam negri".

Para pemuda yang kebingungan arah yang digugat paus sedang mekar di negri ini. Ambisi dan kerakusan mereka adalah kekuasaan, nafas mereka bau amis dari kebohongan politik atas nama terus disebarkan. Ratusan mahasiswa tiba-tiba bermimpi menjadi tokoh tanpa berpikir dan membaca,mereka menjadi penghayal yang sejati bagi impian semua yang entah kapan mereka capai. Inilah dunia para pemuda baru indonesia....

Posting Komentar

0 Komentar