Desember Kelabu ; Sebuah Refleksi Bagi Gerakan Mahasiswa Makassar

Mungkin Desember 2008 penutup tahun yang kelabu bagi mahasiswa Makassar. Serangkaian kisah kelam mewarnai dunia gerakan mahasiswa, mulai dari persoalan tawuran antar mahasiswa, kasus penembakan mahasiswa, konflik antar lembaga dan beberapa hari lalu aksi penolakan Badan Hukum Pendidikan(BHP)yang berujung pada penyerangan Polisi atas kampus Universitas Hasanuddin.

Desember tahun ini adalah penutup tahun yang memilukan sekaligus menampar citra Gerakan mahasiswa. Seperti dua mata sisi uang yang saling melengkapi, aktifis mahasiswa kini mesti menangung dua beban.Beban pertama adalah adanya konflik antar lembaga kemasiswaan secara internal membuat citra buruk bagi mahasiswa makassar. Media dan masyarakat melakukan Overgeneralis bahwa mahasiswa ketika melakukan aksinya akan cenderung membuat keonaran, kekacauan dan ujung-ujungnya mempermalukan identitasnya sebagai kalangan kelas menengah terdidik.

Kedua, karena telah tercitrakan sebagai pelaku kekerasan suara gerakan mahasiswa dalam melakukan kontrol terhadap kebijakan pemerintah tidak lagi disimak secara jernih. Penolakan terhadap kenaikan BBM, komersialisasi pendidikan lewat BHP dan berbagai kebijakan tidak populis lainya telah diubah menjadi ajang bunuh diri parlemen jalanan. Mahasiswa berada pada titik nadir kekuatannya.

Serupa tapi tak sama.

Hendaknya dalam menyikapi persoalan yang terjadi pada gerakan mahasiswa makassar, kita perlu memilah dan memilih setiap pesolan yang terjadi. Memang benar bahwa banyak mahasiswa yang masih berjiwa feodal yang karena kebanggaan atas identitas kelompoknya, solidaritas buta fakultatif dan kebanggaan Universitas kemudian menyelesaikan konfliknya dengan cara-cara primitif zaman batu.

Tapi semuanya tak sama, banyak aktifis Gerakan mahasiswa karena tangung jawab sosialnya turun ke jalan, menyuarakan agenda-agende kebangsaan, mewakili rakyat atas ketimpangan kebijkan oleh pemerintah. Serupa tapi tak sama, itulah potret dinamika kemahasiswaan. Bukankah kampus adalah miniatur masyarakat ? Setiap individu mahasiswa lahir dan dibesarkan dalam latar belakang berbeda, kelas sosial yang beragam dan dinamika kelembagaan dan kemahasiswaan yang tak serupa.

Sama saja dengan masyarakat, ditengah mahasiswa ada kalangan picik yang senantiasa menjadi demonstran bayaran, berorentasi keuntungan pribadi dan senantiasa menjadikan aksi-aksinya sesuai dengan pesanan politik kelompok. Ada pula kalangan hedonis, yang menjadikan kampus seperti ajang kelas modeling, berlengak lengok dengan gaya dan pakaian baru. Tapi banyak pula mahasiswa yang turun kejalan didasarkan oleh tangung jawab sosial kemahasiswaan. Kesadaran sebagai martir perubahan, kelangan pengerak dengan orentasi perjuangan.

Karena tak sama, maka tak pantas prilaku yang sama antara mereka yang tawuran dengan para aktifis gerakan yang berjuang bagi rakyat di berlakukan oleh aparat kepolisian.Sebuah sikap naif bila pola yang masih sama digunakan oleh Kepolisian ditengah paradigma baru polri yang menerikan institusi kepolisian moderen. Polri yang mandiri dan profesional, mengacu kepada supremasi hukum, memberikan jaminan dan perlindungan Hak Azazi manusia (HAM), transparan serta berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat dikuatkan melalui pertanggungjawabannya kepada masyarakat.

Paradigma baru Polri ini menjadi kerangka utama dalam mewujudkan jati diri, profesionalisme dan modernisasi Polri sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat, dekat dan membaur bersama masyarakat.Pertanyaanya apakah kini prilaku represif yang ditunjukan untuk membungkam gerakan mahasiswa adalah wujud modernisme polisi ? Ataukah secara internal aparat kepolisian tak mengindahkan paradigma polisi yang dibuat sendiri pada tanggal 13 Oktober 2005, sesuai surat keputusan Kapolri No. Pol: SKEP/737/X/2005 tentang kebijakan dan strategi penerapan polisi masyarakat ?

Gerakan Mahasiswa Makassar Kini

Sebagai mahasiswa biasa yang pernah merasakan haru-birunya dinamika gerakan mahasiswa makassar, ada sebuah tipologi dan karakteristik Gerakan Mahasiswa Makassar (GMM) yakni “daya tekan sekaligus daya dorong issu”. Ketika aktifis mahasiswa Makassar turun kejalan maka daya tekannya bagi sejumlah kampus di Indonesia timur akan segera bergerak, ketika mahasiswa makassar berani rusuh, maka tunggulah letupan emosi dari berbagai kampus lain, termasuk kampus-kampus yang berada di jawa akan membangun ristensi yang sama.

Sosok gerakan mahasiswa makassar terkenal kental dan berani, heroik sekaligus menyengat. pada sisi lain aktifis gerakan senantiasa muncul sebagai “martir”yang diledakan untuk mendorong agenda kemahasiswaan secara Nasional.

Beberap kasus telah menjadi bahan pelajaran bersama salah satunya; isu penolakan kenaikan BBM pada masa pemerintahan megawati yang berhasil mengkonsolidasikan seluruh elemen gerakan baik ekstra maupun intra yang berujung pendudukan Gedung keuangan adalah sebuah hal berani dan sukses membuat pemerintah menurunkan harga BBM.
Saat ini, tantangan terbesar justru di arahkan ke jantung mahasiswa. Kalau masa lalu tantanganya adalah melawan kebijakan yang represif oleh pemerintah atas rakyat dalam hal besar, tapi kini mahasiswa mesti menghadapi tekanan atas diri mereka melalui libralisasi pendidikan lewat penetapan Undang-undang Badan Hukum pendidikan.

BHP adalah pisau yang bisa menyayat gerakan mahasiswa secara perlahan.Ketika BHP diberlakukan dengan sejumlah alokasi aturanya, berarti kesempatan untuk memperoleh pendidikan hanyalah bagi mereka yang memiliki kemampuan ekonomi kelas atas. Pertanyaanya adalah ketika akses pendidikan di bangku Universitas hanya dimiliki oleh mereka yang berpunya; masih adakah gerakan mahasiswa makassar yang heroik itu ? Tak pernah ada sejarahnya kelompok elit mengorganisasikan dirinya melawan kebijakan selama tidak mempengaruhi mereka secara langsung.

Konsep dan arah gerakan mahasiswa mesti lebih baik pada tahun mendatang, selain BHP gerakan mahasiswa juga ditandang untuk menyusun format pengkaderan yang lebih baik dari sekedar apa yang selama ini dilakukan. Karena ketika kaderisasi secara internal para mahasiswa melalui sistim orentasi kampus yang menekankan agenda kekerasan sebagai bagian dari dendang pengkaderan, maka tak heran ketika melaksanakan aksi demonstrasi para mahasiswa muncul dengan sosok primordialnya dan cenderung menjadi agen kekerasan baru dalam penyelesaian masalah yang dihadapi. Karena yang mereka terima dari para senior ketika mengkader adalah dendam, amarah serta sikap brutalisme lainya.

Bagian lain yang juga memicu munculnya kekerasan dalam setiap aksi demonstrasi kemahasiswaan adalah mundurnya kultur wacana dan diskusi sebelum turun kejalan. Budaya lingkar study dalam tubuh mahasiswa mulai memudar, hal ini disebabkan oleh tidak berfungsi dengan baiknya lembaga ekstra kampus maupun lembaga internal dalam membangun budaya wacana.

Semakin sering mahasiswa bertemu dalam sebuah forum diskusi secara intensif maka kajian terhadap isu-isu yang diangkat akan semakin baik, termasuk format serta metodologi aksi yang akan dijalankan. Kheos, dengan aparat kepolisian haru dipahami bukan sebagai target gerakan, menyampaikan pikiran secara sehat penting adanya.
Pihak Kepolisian juga tak perlu terlalu reaksioner menindak setiap aksi dari mahasiswa, karena semakin represif aparat dalam menindak mahasiswa, akan semakin kuat resistensi yang muncul. Selain itu, aparat kepolisian dalam membungkam gerakan mahasiswa tidak perlu selalu beralasan mahasiswa saat demonstrasi membuat kemacetan dan merugikan masyarakat. Saya selalu menjumpai, ketika pejabat negara datang ke kota makassar mereka membuat kemacetan yang lebih panjang. Padahal biasanya yang datang satu atau dua orang dengan pengamanan supra ketat yang menyebabkan kemacetan yang parah.

Desember kelabu Sebuah Renungan Untuk Kita

Kini Desember kelabu menjadi sebuah catatan tentang dendam yang saling bertaut, kekuasaan yang saling berebut menunjukan diri. Polisi masuk kekampus, menginjak-injak institusi pendidikan, otoritas akademik dengan sepatu larasnya. Kampus merah mulai kehilangan warna, mahasiswa diamuk kemarahan dengan batu ditanganya. Tapi kita sepertinya mesti merenung diakhir tahun ini, begitu banyak peristiwa menimpa cerita pilu dunia kemahasiswaan.Berderet seperti serial sinetron yang durasinya terus diperpanjang.

Polisi begitu gerah melihat mahasiswa yang menurut mereka seenaknya menutup jalan, sedangkan mahasiswa muak melihat sosok polisi yang selalu represif terhadap mahasiswa. Rakyat yang namanya senantiasa dikumandangkan bigung berada dimana. Siapa dalang dari apa yang terjadi semuanya saling menuding;
“Mahasiswa!”kata polisi.
“Polisi”!, kata mahasiswa.
Rektor menyela, keduanya terlalu berlebihan!
Media sibuk mengompori, keadaan.

Saya sebagai rakyat biasa hanya bisa berujar kita semua berada pada ruang dan waktu yang salah. Sebuah keadaan dimana kita tak berdaya menghadapi sifat egois dan kebanggaan berlebih terhadap simbol-simbol yang saling melekat dari diri kita semua. Desember tahun ini, ada begitu banyak cerita dan kisah duka tentang gerakan mahasiswa, yang menambah deret pilu dan luka yang sudah terlalu lama tertananam dalam diri gerakan mahasiswa.

Sudah masanya polisi mengamalkan tugasnya sebagai pengayom bukan sekedar sebagai penindak hukum, mahasiswa sudah mestinya mengatur nafas gerakan dengan semangat yang radikal namun kaya akan metodologi dan sudah saatnya negara menjalankan fungsinya untuk melindungi hak-hak warga negara.

Desember yang basah sudah waktunya meneduhkan hati kita semua sembari melakukan “refleksi agar di tahun mendatang tak adalagi duka bagi kita semua”.

Posting Komentar

0 Komentar