Intercultural Communication

Sebuah kritik atas pandangan Komunikasi Antar Budaya

Penulis Digital library USU
DRA. LUSIANA ANDRIANI LUBIS, MA
Diresume ;
Oleh ; Rahmad M.Arsyad
Mahasiswa Pasca Sarjana Program Studi Komunikasi Massa
Diakses pada ; 26Nopember 2008, pukul ; 15.30 pada website ; USU digital library
kode akses; Google ; Intercultural Communication

1.Latar Belakang

Membaca karya Dra.Lusiana Adriani Lubis Ma, seorang dosen Universitas Sumatra Utara (USU) yang juga merupakan penulis tetap perpustakaan digital USU membawa peresume larut dalam sebuah meta teori Komunikasi Antar Budaya (KAB) dengan belantara prespektif KAB. Begitu banyak pandangan tokoh yang dihadirkan, begitu sering nama-nama besar dikutip dan begitu kaya karya Lusiana. penulis menemukan artikel ini setelah melakukan pencarian melalui Google tentang artikel yang bertema intercultural Cumunication.




Lusiana seperti sedang memahat ragam gagasan komunikasi dalam sebuah frem yang dibentuk oleh komunikasi antar Budaya. Mengkaji Komunikasi antar budaya secara Linguistik melalui definisi kebahasaan, memasukan dimensi saluran dalam komunikasi serta “membenturkan” bahkan menurut penulis “memaksakan” beberapa sub topik tulisannya dengan ragam teori besar. Sub topik tulisan yang membuat artikel ini menjadi cenderung kurang kontekstual adalah pandangan Lusiana yang memasukan Prinsip Homofili dan Heterofili dalam Komunikasi antar Budaya. Dalam definisi yang dikutip Lusiana; homofili adalah derajat persamaan dalam beberapa hal tertentu seperti keyakinan, nilai, pendidikan, status sosial dan lain-lain, antara pasangan-pasangan individu yang berinteraksi. (Rogers dan Kincaid, 1981 : 127). Perasaan-perasaan ini memungkinkan untuk tercapainya persepsi dan makna yang sama pula terhadap sesuatu objek atau peristiwa.

Sedangkan untuk Heterofili dosen USU ini mengakat pandangan masih dari tokoh yang sama Rogers dan Kincaid, (1981 : 128) yang mendefinisikan ; Heterofili adalah derajat perbedaan dalam beberapa hal tertentu antara pasangan-pasangan individu yang berinteraksi.

Ada benturan dan inkonsistensi dari Artikel Lusiana yang membuat antar teks yang dihadirkan menjadi saling berpolemik. Namun lusiana berkilah, dipandang dari sudut kepentingan komunikasi antar budaya, adanya perbedaan-perbedaan tidak menutup kemungkinan terjadinya komunikasi antar individu-individu atau kelompok-kelompok budaya. Perbedaan-perbedaan bahkan dilihat sebagai kerangka atau matriks dimana komunikasi terjadi. Dalam kaitan ini dosen USU ini mengangkat teori yang dikemukakan oleh Grannovetter (1973) mengenai “kekuatan dan ikatan-ikatan lemah (The strengt of weak ties) yang menyarankan akan pentingnya hubungan-hubungan heterofili dalam pertukaran informasi. Dalam komunikasi manusia, agaknya diperlukan juga keseimbangan diantara kesamaan dan tidak kesamaan, antara yang sudah dianggap biasa dengan sesuatu yang baru.

Dalam presepketif analisis wacana untuk membedah sebuah teks dibutuhkan dua unit analisis dasar yakni Tema Makro dan Tema Mikro yang akan menjadi bagian awal dalam membedah sebuah teks.Paradigma yang disuguhkan Lusiana adalah sebuah bangunan ketika teori menjadi sebuah teks yang utuh dan saling menegasikan dalam sebuah sistim. Hal ini bisa diihat dari bagian tengah Artikel komunikasi antar budaya Lusiana ; Sejalan dengan pemikiran tersebut, dapat juga dikemukakan suatu konsep tentang “equifinality” dalam teori “sistem” yang menyatakan bahwa dalam suatu sistem tertentu manapun akan dapat dicapai tujuan yang sama, walaupun telah dipergunakan titik tolak dan proses-proses yang berbeda.

Berangkat dari pandangan lusiana yang ambivalen dan saling berbeturan ini, sekaligus kaya akan deskripsi teori dengan menghidupkan sejumlah nama tokoh –tokoh besar, sangat menarik membedahnya sekaligus melahirkan sebuah resume yang muncul dengan prespektif berbeda.

2.Pembahasan
Corak dari pemikiran Lusiana tentang Komunikasi Antar Budaya begitu terpengaruh pada pada prinsip equifinality” dalam teori “sistem” yang menyatakan bahwa dalam suatu sistem tertentu manapun akan dapat dicapai tujuan yang sama, walaupun telah dipergunakan titik tolak dan proses-proses yang berbeda. Pandangan ini beserta Ilmuan yang menjadi pembela bagi teori sistem sebenarnya banyak dipengaruhi oleh cara pandang teori komunikasi organisasi.

Kritik terhadap pandangan teori sistem muncul dari Stanley Hoffmann yang mengatakan bahwa teori sistem tidak memberikan sebuah kerangka untuk mencapai predikbilitas. Dengan mengkombinasikan ideal ilmu deduktif dengan keinginan mencapai predikbilitas, Hoffmann menyatakan teori sistem menjadi tautological (pengulangan). Kritik Hoffmann adalah teoritisi sistem menggunakan teknik pribadi yang tidak tepat meminjam dari disiplin lain seperti sosiologi, ekonomi, sibernetik, biologi dan astronomi. Pada saat yang sama, Hoffmann mengkritik model yang mengandung pola interaksi karen kurang referensi empiris. Menurut Hoffmann, model sistem karena bertujuan generalisasi tingkat tinggi dan penggunaan alat-alat dari disiplin lain, tidak “menyentuh bidang utama yang dikaji.

Komunikasi Antar Budaya dalam pandangan (Tubbs, Moss:1996) mengandung pengertian : Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.
Jadi pada dasarnya komunikasi antar budaya adalah sebuah jembatan antara keberagaman yang dibentuk dengan kesepahaman antar kebudayaan yang saling berbeda. Jadi KAB bukanlah sebuah sistim sosial yang sama dan dalam sebuah struktur yang dibangun dalam usaha manapun akan dapat dicapai tujuan yang sama. Tujuan komunikasi Antar Budaya bukanlah derajat kesamaan, namun kesepahaman yang hadir dalam ruang dan konteks masyarakat yang multi kultural dengan ragam simbol yang berbeda.

Kritik terbesar bagi Lusiana adalah cara pandanganya yang cenderung memaksakan atas homofili kedalam sudut pandang komunikasi antar budaya; homofili adalah derajat persamaan dalam beberapa hal tertentu seperti keyakinan, nilai, pendidikan, status sosial dan lain-lain, antara pasangan-pasangan individu yang berinteraksi. Karena dasar komunikasi antar budaya adalah perbedaan dan keragaman maka tak tepat jika memasukan pandangan ini dalam disiplin pembahasan tentang komunikasi antar budaya. Tak ada derajat kesamaan antar kebudayaan, entah itu keyakinan, nilai, pendidikan, statuss sosial dan hal lainya.

Pada derajat keyakinan, mungkin individu dalam medan kebudayaan yang berbeda akan memiliki keyakinan yang satu namun tak ada yang sama. Bila kita melihat model keyakinan negara-negara timur tengah, sebahagian Asia,Eropa dan berbagai belahan bangsa yang lain menganut Islam sebagai sebuah kepercayaan agama. Pada prakteknya masing-masing ruang negara dan batas-batas teritorial ini memiliki sistim kebudayaan yang berbeda dalam menjalankan praktek-praktek keagamaan. Tegoklah ditimur tengah keragaman mazhab dan parktek beragama menjadikan ciri dan sudut pandang keagamaan yang berbeda pula. Beragam komunitas mazhab kemudian membentuk cara pandangnya sendiri dalam menjalankan kebudayaan agamanya; Sunni sangat berbeda paraktek kebudayaan dan keagamaannya dengan Syiah. Padahal kedua-duanya merupakan sebuah keyakinan yang bernama islam. Apalagi ketika membicarakan tentang kesamaan nilai, pendidikan dan status sosial. Sesuatu yang sudah berbeda dalam kesamaan batas teritorial pasti memungkinkan keragaman etnik dan ragam perbedaan lainya.

Sulawesi Selatan saja terdiri dari berbagai suku, etnik dan sub etnik. Dalam satu kota makassar terdiri dari beragam sub urban yang berbeda. Dalam sebuah lingkungan yang lokalitasnya sama ditingkat kelurahan dan Rukun Tetanga (RT) saja sudah berbeda dan dihuni oleh puluhan komunitas suku yang berbeda. Apalagi membicarakan sebuah nilai sosial yang antar negara yang pasti memiliki beragam suku dan sub kultur yang berbeda pula. Manakah yang kita sebut dengan kesamaan ? Ruang simbol tidak selamanya membentuk pola yang sama, kemungkinan kalaupun ada yang sama dalam sebuah arus kebudayaan adalah bentuk dari kebudayaan Hibrit yang menjadi titik tawar komunikasi dalam sebuah masyarakat. Modernisme dengan kuasa teknologi dan pertukaran informasi yang menjadi dunia sebagai ”Desa global”menjadi pemain pada ruang persamaan kebudayaan ini.

Belum lagi dari sisi fenomenalogi, komunikasi antar kebudayaan telah menjadi barang komoditas yang tanpa sadar membentuk medan ”pertarungan” antar kebudayaan yang sebenarnya di usung oleh kepentingan dan hegemoni kekuatan pasar. Bukankah setiap dominasi selalu saja melahirkan instrumen kepentingan dibaliknya dan kita sedang berada pada titik dimana setiap kebudayaan saling bertarung dan berusaha memenangkan kompetisi. Dan komunikasi antar budaya adalah jalan menuju kesepahaman, membangun relasi komunikasi yang setara seperti apa yang dicita-citakan Habermas ; masyarakat komunikasi yang setara! Kita tak perlu memaksakan sebuah persamaan, karena setiap individu sudah dibekali keberbedaan dan ketaksamaan yang dibutuhkan adalah kesepahaman bersama.

3.Kesimpulan

Jadi pada dasarnya komunikasi antar budaya adalah sebuah jembatan antara keberagaman yang dibentuk dengan kesepahaman antar kebudayaan yang saling berbeda. Jadi KAB bukanlah sebuah sistim sosial yang sama dan dalam sebuah struktur yang dibangun dalam usaha manapun akan dapat dicapai tujuan yang sama. Tujuan komunikasi Antar Budaya bukanlah derajat kesamaan, namun kesepahaman yang hadir dalam ruang dan konteks masyarakat yang multi kultural dengan ragam simbol yang berbeda.

Kritik terbesar bagi Lusiana adalah cara pandanganya yang cenderung memaksakan atas homofili kedalam sudut pandang komunikasi antar budaya; homofili adalah derajat persamaan dalam beberapa hal tertentu seperti keyakinan, nilai, pendidikan, status sosial dan lain-lain, antara pasangan-pasangan individu yang berinteraksi. Karena dasar komunikasi antar budaya adalah perbedaan dan keragaman maka tak tepat jika memasukan pandangan ini dalam disiplin pembahasan tentang komunikasi antar budaya. Tak ada derajat kesamaan antar kebudayaan, entah itu keyakinan, nilai, pendidikan, statuss sosial dan hal lainya.

Dari sisi fenomenalogi, komunikasi antar kebudayaan telah menjadi barang komoditas yang tanpa sadar membentuk medan ”pertarungan” antar kebudayaan yang sebenarnya di usung oleh kepentingan dan hegemoni kekuatan pasar. Bukankah setiap dominasi selalu saja melahirkan instrumen kepentingan dibaliknya dan kita sedang berada pada titik dimana setiap kebudayaan saling bertarung dan berusaha memenangkan kompetisi. Dan komunikasi antar budaya adalah jalan menuju kesepahaman, membangun relasi komunikasi yang setara seperti apa yang dicita-citakan Habermas ; masyarakat komunikasi yang setara! Kita tak perlu memaksakan sebuah persamaan, karena setiap individu sudah dibekali keberbedaan dan ketaksamaan yang dibutuhkan adalah kesepahaman bersama.

Posting Komentar

0 Komentar