Kualitas Caleg dan Demokrasi Indonesia

Pameran! Mungkin adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi di setiap daerah di Indonesia. Pajangan foto para calon anggota legislatif dan spanduk partai politik bertebaran di setiap sudut Negara Kesatuan Republik Indonesia, di jalan-jalan protokoler, pusat perdagangan, gang sempit, lorong tikus, wilayah pegunungan, pulau terpencil, pokoknya dari Sabang sampai Maruke semuanya terpajang wajah-wajah entah dikenal dan tak dikenal sedang mengajukan diri untuk dipilih dengan serangkaian janji manis yang kadang melankolis bahkan beberapa plagiatoris.

Kita sedang merayakan sebuah pesta bernama pemilu! Semuanya demi demokrasi! Majelis Ulama dan beberapa ormas islam tak mau ketinggalan dalam pesta kali ini, maka disusunlah fatwa haram bagi mereka yang golput. Semuanya kini sedang larut dalam sebuah jamuan politik dengan harapan manis di akhir episode proses demokrasi yakni kesejahteraan dan perbaikan hidup, pascapemerintahan baru.

Tapi pernahkah kita bertanya, benarkan para caleg yang kini sedang sibuk berkampanye memiliki kualitas sesuai dengan cita-cita demokrasi ? ataukah apa yang kita sedang saksikan adalah antrian para pencari kerja yang sedang berpromosi diri lewat proses pemilu ?

Bukan siapa tapi apa ?

Para kontestan calon legislatif muncul dengan beragam latar belakang. Ada yang pengusaha, pensiunan pegawai negeri, veteran TNI/ polri, akademisi, petani, aktifis mahasiswa, Ibu rumah tangga dan para sarjana yang baru lulus kuliah serta tak ketingalan para pencari kerja serabutan. khusus yang terakhir yakni para pecari kerja serabutan proporsinya cukup banyak mewarnai dinamika politik indonesia saat ini.

Tak penting sebenarnya membahas siapa yang mengajukan diri, suku, latar belakang keluarga dan semua hal yang menyangkut diri mereka para kontestan akademi pemilu Indonesia. Karena ketika menyoalkan hal-hal tersebut sama artinya menghianati demokrasi yang kita junjung di negeri ini yakni hak politik bagi setiap warga negara untuk dipilih dan memilih.

Namun yang mesti kita pertanyakan Apa caleg tersebut memiliki kapasitas, kapabilitas, program kongkrit, pengetahuan menejemen pemerintahan, serta beragam apa yang lain yang memiliki korelasi bagi perbaikan nasib bagi sekian juta rakyat Indonesia.

Hal ini menjadi penting, karena para caleg ketika menjadi Anggota Legislatif (aleg) memiliki tugas yang begitu berat. Fungsi legislatif dalam sistem ketatanegaraan kita menyangkut fungsi mereka dalam menghasilkan produk undang-undang ( legislasi), menyusun rencana Anggaran dan penetapan APBN dan APBD daerah dan yang paling penting adalah fungsi kontrol pemerintahan .

Tiga fungsi yang kita ketahui bersama ini, memiliki peran yang signifikan bagi rakyat yang sedang dibicarakan dan dijanjikan pada masa pemilu. Para caleg mesti mengetahui secara detail peran dan fungsinya. Sehinga penting bagi kita untuk melakukan seleksi secara ketat dari setiap kontenstan. Mana yang benar-benar memiliki kapasitas pengetahuan dan mana yang hanya sekedar mengandalkan popularitas.

Dalam era pemilihan langsung, sudah masanya rakyat sendiri yang memilih. Tak boleh adalagi interfensi dari pihak manapun bagi setiap pilihan yang dijatuhkan. Untuk itu selain kadar pengetahuan, penilaian lain yang mesti dijadikan ukuran adalah menyangkut moralitas seorang calon anggota legislatif. Pada persoalan moralitas ini, yang mesti kita lihat apa dosa sosial yang pernah mereka lakukan. Ketika seorang caleg memiliki dosa sosial bagi masyarakat, misalnya terlibat korupsi, kolusi dan nepotisme maka haram untuk dipilih.

Caleg sebuah lahan Pekerjaan Baru Pasca Kampus

Fenomena lain yang muncul dari para calon anggota legislatif adalah hadirnya wajah-wajah anak muda dalam pentas politik tanah air. Tak ada yang salah dari proses yang diambil oleh kawan-kawan muda yang mungkin dulunya adalah anggota parlemen jalanan.

Namun yang patut pula kita pertanyakan, benarkah kehadiran sekian banyak anak muda negri ini menuju pentas politik karena didasari kemampuan dan dorongan ideologi untuk melakukan perubahan sosial ? Ataukah ini sekedar sebuah tameng dari desakan ekonomi pasca masa bermahasiswa. Dari pada sulit mendapatkan pekerjaan, maka caleg adalah lahan pekerjaan. Tanpa bermaksud sinis bagi apa yang dilakukan oleh para caleg dari kaum muda yang kini bertebaran di seluruh parpol yang ada, mungkin kita perlu merenung adakah basis sosial yang dibangun oleh kawan-kawan ? Benarkan desakan idealisme mesti ditapaki dengan jalan menuju jalur politik tanpa membangun fondasi sosial dan ekonomi secara pribadi dengan baik ? Adakah investasi sosial yang kongkrit yang dilakukan oleh kawan-kawan yang mengklaim dirinya sebagai penyapai aspirasi rakyat ?

Pertanyaan tersebut harus dijawab secara jernih, karena bukan tidak mungkin kehadiran sebahagian caleg yang mengatasnamakan dirinya wakil kaum muda , hanyalah sebuah tameng dari ketidak mampuan untuk berkompetisi secara ekonomi pasca romantisme menjadi aktivis kampus.

Caleg dan Partai Politik.

Salah satu alat ukur yang penting untuk melihat kredibilitas para caleg adalah mekanisme regenerasi yang dilakukan partai politik yang menjadi kenderaan politik calon anggota legislatif. Semakin baik pola rekrutmen dan kaderisasi partai, maka semakin baik pula kualitas kader-kader parpol yang muncul menjadi calon anggota legislatif.

Parpolah yang menjadi tim penyeleksi utama dari setiap caleg yang hendak muncul kepermukaan. Ibarat barang jualan, partailah yang menjadi perusahaan yang melahirkan prodaknya. Semakin baik kualitas perusahaan dalam melahirkan produknya maka tingkat kepercayaan serta kepuasaan pelanggan terhadap prodak yang dilahirkan akan semakin besar. Ini berarti semakin baik dan sehat sebuah partai politik, maka semakin baik pula kualitas calegnya.

Dengan unggulnya kualitas caleg yang tampil kepubilk, maka semakin tinggi pula partisipasi masyarakat dalam memilih parpol dan caleg tersebut. Sebaliknya ketika partai politik yang menjadi ajang seleksi setiap kandidat caleg tak memiliki mekanisme kaderisasi yang baik, pola rekrutmen acak-acakan, serta regenerasi yang berdasarkan uang setoran tertinggi, maka jangan bermimpi akan mendapatkan kualitas calon anggota legislatif yang sesuai dengan visi misi parpol.

Ketika kualitas parpol dan caleg yang tampil tak mumpuni jangan berharap kualitas hidup rakyat bisa meningkat. Ketika kualitas hidup masyarakat tak juga meningkat, maka jangan berharap perubahan akan terjadi, ketika perubahan tak juga terjadi maka jangan berharap rakyat akan ikut dalam proses pemilu, ketika rakyat tak lagi peduli dengan proses pemilu maka jangan berharap demokrasi masih ada!

Posting Komentar

0 Komentar