PKS Kuning Tonji ?

Partai Keadilan Sejahtera kembali melakukan manuver politik. Setelah heboh dengan iklan politik yang memasukan Soeharto sebagai salah satu pahlawan nasional, kini publik Sulawesi Selatan kembali dikejutkan dengan baliho yang berlatar belakang kuning dengan penegasan “PKS Kuning Tonji”.

Apa arti dan makna pengunaan latar belakang kuning dan diikuti penegasan kalimat kuning tonji yang digunakan oleh PKS tersebut? Untuk apa pula jargon dan kalimat ini dipakai? Target apa yang diharapkan PKS melalui jualan politik barunya ini? Mungkin jawaban pastinya hanya diketahui oleh elit Partai berlambang dua bulan sabit dan kab’ah itu sendiri.

Membaca warna kuning akan membuat asosiasi kita terarah pada partai Golongan karya (GOLKAR) yang telah lama melekatkan citra partainya dengan pilihan warna kuning dan pohon beringin. Penampakan citra kuning pada PKS adalah sebuah langkah yang terlalu berani dan cenderung memasuki Hiyper Realitas (melebihi realitas yang ada). Ada beberapa Catatan yang mesti dikemukakan dalam membaca manuver PKS kali ini.

Politik Representasi

Sekedar ingatan untuk mencegah amnesia politik masa lalu. Pada masa jelang pemilu 2004 diberbagai tempat daerah ini tersebar spanduk, baliho, dan berbagai media kampanye yang menyatakan PKS akan mencalonkan Habibie sebagai calon presiden.

Transaksi politik PKS 2004 memang melahirkan ekspektasi positif dari masyarakat.
Hal ini terbukti dengan hadirnya PKS sebagai lima kontestan parpol yang meraih suara terbanyak di Sulsel. Walau tak beberapa lama setelahnya, pemilih PKS mesti menelan pil pahit dengan tidak diusungnya dan tak bersedianya Habibie menjadi kandidat calon presiden.
Ada kekecewaan publik disaat itu, terhadap ketidak konsistenan PKS. Bahkan beberapa tokoh SulSel, menyatakan PKS melakukan kebohongan publik dengan menjadikan Habibie sebagai komoditas politiknya.
Branding warna kuning kali ini juga dalam rangkaian pencitraan PKS dalam target rekonsiliasi dengan kekuatan Golkar Sulsel. Patut dicatat budaya kolektifitas masyarakat bugis dan kekuatan jejaring politik berdasarkan klan masih cukup kuat di indonesia. Melihat Golkar pasti membuat rakyat tak bisa melepaskan dari sosok Yusuf Kalla sebagai representasi Golkar sekaligus tanah bugis.
Politik Representasi sepertinya menjadi argumen pertama yang ingin dijual PKS jelang pemilu 2009. Tak mustahil setelah pencitraan PKS kuning Tonji akan disusul dengan Yusuf Kalla Tonji! PKS harusnya dapat menghitung dan mengkalkulasi kemungkinan politik yang ada dengan pengunaan politik representasi yang coba diusungya. Asosiasi pengunaan latar kuning justru hanya akan menimbulkan citra negatif bagi pemilihnya. Sekedar mengingatkan pemilih dan simpatisan PKS adalah kelompok alternatif yang rindu akan perubahan. Apalagi kalau targetnya adalah “Yusuf Kalla Tonji” justru hanya akan membuat sinisme politik semakin besar dari para simpatisan dan kader PKS sendiri.

Memancing di Air Keruh

Seperti sedang memancing ditengah Air Keruh, demikianlah marketing politik yang dijalankan Partai Keadilan Sejahtera. Mungkinkah PKS telah benar-benar menghancurkan citra positifnya selama ini? Memunculkan Soeharto sebagai pahlwan nasional bukan merupakan hal yang bisa diterima bagi simpatisan kalangan Islam modernis, demikian pula dengan pengunaan Jargon PKS kuning Tonji.
Sikap postif yang mungkin ingin ditunjukan oleh PKS dengan mengubah citranya sebagai partai terbuka dan bersedia berkonsolidasi dengan ornamen politik orde baru bukanlah sebuah hal yang signifikan dalam mempengaruhi suara pemilih. Logikanya sederhana; kalau pemilih tradisional masih simpati pada soeharto dan golkar, mereka akan tetap menjatuhkan pilihannya pada Golkar tanpa perlu mengubah pilihan politiknya. Atau bisa jadi manuver politik PKS kuning Tonji adalah sebuah tantangan terbuka bagi Golkar, bahwa PKS mampu mengubah dirinya menjadi kuning yang sama dengan Golkar, hal itu berarti PKS hendak mencitrakan diri bahwa PKS sama saja dengan Golkar!
Kalau benar PKS ingin mengidentikkan diri sebagai Golkar Baru, maka sebenarnya elit partai ini sedang mengalami amnesia sejarah. Golkar terlahir sebagai sebuah kekuatan politik “jalan tengah” sejak awal berdirinya. Golkar muncul sebagai kelompok penyeimbang ditengah pertarungan tiga ideologi besar yang saling berebut pengaruh dimasa itu; kelompok Nasionalis, Komunis, serta Islam. Dari sisi Historis inilah Golkar berdiri dan membangun konstituennya yang non partisan dan lebih memfokuskan dirinya pada program kesejahteraan dan ekonomi, ketahanan serta keamanan negara dan menjadikan Ideologi sebagai hal yang bersifat personal dan bukan faktor pengerak. Sehingga Golkar muncul sebagai sebuah partai pluralis, multi ideologi serta agama dan kepercayaan.
Sementara pada sisi yang lain sejarah PKS sebelum muncul menuju pangung politik tanah air, adalah sejarah panjang yang penuh heroisme. PKS sebelum muncul kepermukaan sebagai sebuah parpol,merupakan gerakan bawah tanah yang dimotori oleh para mahasiswa islam kampus-kampus negeri yang terus melakukan regenerasi dan kaderisasi sembari mempersiapkan jatuhnya rezim soeharto. Idiom ideologi menjadi faktor utama dalam mengerakan kader-kader PKS, Islam adalah jalan kebenaran dan juga totalitas serta penyerahan diri. Perjuangan politik adalah sebuah kerja ibadah bagi kader-kader PKS. Karena Ideologi adalah naluri pengerak utama utama dalam bergerak dan bekerja.
Dari dua ruang sejarah yang berbeda dalam melahirkan dua kekuatan politik antara Golkar dan PKS, maka menjadi hal yang tak bisa diterima dengan akal sehat jika PKS justru melakukan manuver politik dengan mengidentikan dirinya dengan Golkar.

Politik Kontroversi

Sederetan langkah yang diambil Partai Keadilan Sejahtera dengan Politik Marketingnya adalah sebuah target politik Kontroversi. PKS sedang mencoba menjadi sensional, spectacle dan bahkan cendrung berlebihan dalam menampilkan citra politiknya. Eksplorasi citra secara berlebihan dan "melampaui batas" (hyper) justru akan menjadi bom waktu bagi eksistensi PKS sebagai sebuah partai islam yang didukung oleh pemilih modernis.
Dalam konteks komunikasi politik hal yang dilakukan PKS adalah sebuah bentuk banalitas tanda dan citra politik. Struktur Politik PKS mesti belajar jika citra politik tampil dalam jumlah banyak, frekuensi tinggi, dan waktu yang terlalu cepat, akan menyebabkan pesan (message) yang disampaikan menimbulkan kejenuhan serta berimbas pada apatisme politik para pemilih (voter).
Politik Kontroversi dengan memunculkan Soeharto sebagai Pahlawan atau jargon PKS Kuning Tonji yang dimunculkan dalam penjajakan opini publik sekaligus iklan gratis di media massa justru akan menjadi pendulum balik bagi partai keadilan sejahtera. Patut dicatat, semakin resisten langkah yang diambil akan semakin besar konsekuensi politik yang akan diterima.

Rekonsiliasi politik.
Saat ini sentimen terhadap PKS semakin besar, ormas-ormas islam yang dahulunya bersimpati secara perlahan menarik dukungannya. Bahkan untuk konteks Sulawesi Selatan, resistensi ini telah dimulai sejak langkah kontroversial Partai Keadilan Sejahtera saat Pilkada Gubernur yang lalu. Bubarnya koalisi keumatan sebagai poros penyeimbang kekuatan politik Golkar telah menyebabkan antipati terhadap PKS.
Dukungan pemilih mengambang yang belum menjatuhkan pilihan politik tak akan mengalir jika PKS tetap menjalankan langkah politik kontroversialnya. Para pemilih rasional justru semakin antipati terhadap pencitraan yang dibangun PKS saat ini. Belum lagi janji perubahan dan lebih peduli yang diikrarkan tak juga berbuah kenyataan.
Dosa politik masa lalu PKS pada pemilu 2004 yang menjadikan Habibie sebagai jualan politik belum juga lepas dari ingatan kolektif pemilih tradisional SulSel, dukungan Partai Keadilan Sejahtera atas Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang bermuatan libralisasi pendidikan telah menyulut kemarahan kelompok kampus yang selama ini menjadi basis dukungan PKS.
Sudah saatnya Partai Keadilan Sejahtera melakukan tobat politik jika tetap ingin bertahan ditengah pertarungan pemilu 2009. Tanpa rekonsiliasi PKS dengan “Kuning Tonji”-nya hanya akan mendapatkan resistensi masyarakat.
Salam saudara...!

Posting Komentar

0 Komentar