mimbar jumat

Entah sejak kapan mimbar jumat menjadi sebuah ajang yang begitu politis sekaligus monologis.seperti hari ini, seorang ustadz naik kemimbar dan mulai berceramah tentang betapa pentingnya pemilu bagi umat islam, bahkan dengan lantangnya ia berseru "Haram" hukumnya bagi mereka yang memilih golput. Ingin rasanya kuangkat telunjukku dan melakukan interupsi atas apa yang baru saja disampaikan oleh khatib tersebut. Terus terang saya tidak sepakat tentang apa yang difatwakanya, yang beberapa bulan lalu juga dikeluarkan oleh Majelis Ulama indonesia.

Bagiku politik adalah sebuah arena abu-abu, penuh intrik dan cenderung manipulatif, Tak pantas disandangkan dengan agama,apalagi sampai fatwa haram. pemberi Lisensi akan haramnya sesuatu juga bukan ditangan majelis ulama,para ustadz atau siapapun manusia di bumi ini. Hanya Allah yang punya hak otoritas akan hal tersebut.

Kembali pada ceramah sang ustadz dari umurnya aku meliaht sosoknya sudah uzur tapi semangatnya tetap menyala untuk mengajak umat untuk terlibat aktif dalam pemilu dan memberikan hak suaranya. Ingin rasanya saya bertanya pada pendakwa itu, afwan ustadz dari mana rujukan ayat dan hadist tentang apa yang kau ungkapkan ? mengapa antum begitu berani mengeluarkan fatwa haram ? apakah antum tak lihat orang-orang yang kita pilih empat tahun lalu telah terbukti korupsi, berzina bahkan beberapa diantaranya kedapatan mengunakan narkoba. kalau antum berdalih kita mesti memilih yang baik, amanah dan jujur, siapakah dia ya ustadz ? partai apakah dia ? Tidakkah antum tau semua parpol pada pemilu yang lalu ikut menyepakati pencabutan subsidi BBM dan kembali menurukan harga BBM untuk riya didepan rakyat agar dipilih kembali, wahai ustadz tidakkah ente lupa jutaan pemuda miskin negri ini tidak lagi dapat duduk diperguruan tinggi karena pendidikan telah diprivatisasi melalui undang-undang badan hukum pendidikan yang kesepakatanya berasal dari partai-partai yang hari ini mengikuti kontes pemilu .apakah anda juga lupa, partai-partai baru yang hadir tidak juga akan mengubah apa-apa, lihatlah mereka begitu "caleda" memajang wajahnya dijalan-jalan umum bahkan hinga di wc umum.

siapakah yang hendak kita pilih wahai ustadz pemilik mimbar mesjid. Adakah harapan ditengah kondisi dimana sistim negara ini memungkinkan korupsi terusmerajalela, karena hukum adalah mainan para penguasa, bukankah kau disuruh untuk menjalankan hukum Tuhan ya Ustdz, adakah hukum manusia ini mampu menyelesaikan kondisi bangsa ini? Oh yah, aku hampir lupa kalau bisa interupsi tak adakah solat jumat dimana kami bisa berdialog dengan khatibnya , agar islam tak menjadi ajang doktrinasi semata tapi menjadi agama dimana kesadaran dan pilihan digapai dengan pengetahuan....dan semoga kita diselamatkan dari mimbar jumat yang politis.....

Posting Komentar

2 Komentar