Jusuf Kalla dan Manohara

Kita sedang menyaksikan dua parade sosok manusia. Jusuf Kalla kini sedang menjadi sorotan di pangung politik, sedangkan manohara berada dijagad infotainmen. Kedua sosok yang tiba-tiba misterius di alam Indonesia. JK misterius karena sikap politik tiba-tiba yang menyatakan Golkar dan dirinya siap untuk berpisah dengan Susilo Bambang Yudhoyono ditengah jaminan kepastian kemenangan demokrat dalam pemilihan presiden, sedangkan manohara menjadi misterius saat begitu banyak orang terhentak akibat kasus yang menimpa dirinya. inilah pangung drama turki, publik hanya bisa melihat pangung depan dari percaturan kedua manusia tersebut. Pangung belakang tak juga dapat dibuka, begitu kuatnya tembok kekuasaan dibalik kedua manusia tersebut. Manohara yang malang sedang terkurung dalam tembok kerajaan negri jiran, sedangkan jusuf kalla sedang berada dibalik perebutan pentas kekuasaan politik negeri ini. Keduanya tak memiliki kesamaan dan sangat sulit disamakan kecuali untuk satu hal “misterius”!
Akhir-akhir ini, media begitu senang menampilkan kisah misteri dalam wajah yang berbeda bahkan sebuah stasiun Televi swasta begitu senang menampilkan sosok misteri secara fulgar yang membuat cerita misteri kehilangan dramatisasinya. Akhirnya jadilah kedua topik manohara dan Jusuf Kalla menjadi desas desus, romor bahkan gossip yang terus mewarnai ruang pembicaraan ditengah masyarakat. Berkaca pada sebuah pandangan bahwa media adalah “cermin realitas”mungkin benar bahwa media saat ini sedang mengambil cermin manohara dan Jusuf Kalla sebagai sebuah realitas bangsa kita yang masih dipenuhi irasionalitas.

Jusuf Kalla dan Manohara Cermin retak rasionalitas manusia Indonesia

Pandangan irasionalitas dilekatkan sebelum datangnya abad pencerahan. Ketika itu, teosentrisme menjadi nilai dominan dalam pandangan dunia manusia. Rasionalitas kemudian datang mengantikan romantisme imajinasi dan menyibak misteri semesta, bahkan mengubur misteri sebagai sesuatu yang mesti dibuang jauh dari kehidupan mahluk yang bernama manusia.
Mungkin abad pencerahan lupa menghapuskan dua misteri penting dalam pembentukan alam berpikir logika kaum rasionalitas yakni kekacauan yang disebabkan dua hal; “politik dan cinta”. Politik selalu saja dipenuhi dengan ketidak pastian yang berujung pada irasionalitas yang sulit diterima dan cinta yang membuat manusia rela menjadi bodoh bahkan berakibat kegilaan.
Sabda cinta dan politik kini sedang berpedar, mengisi ruang kehidupan manusia-manusia Indonesia lewat kotak yang bernama televisi. Ruang misteri politik kini sedang terepresentasi dalam wujud seorang JK sedangkan cinta berada dalam dramatisasi kisah manohara. Kedua simbol manusia tersebut sedang berebut pengaruh, pangung bahkan saling bertarung melakukan ekspansi.
Bisa jadi apa yang muncul dari sosok JK dan Manohara merupakan wujud Keretakan rasionalitas.sebuah bukti belum juga beranjaknya bangsa ini dari abad kegelapan alam berpikir, manusia indonesia telah berada pada fase lompatan kemajuan teknologi, ekspansi globalisasi tanpa batas tapi cara berpikir yang mengedepankan pertimbangan logis belum pula kita pakai. Meminjam istilah yang digunakan Muchtar Lubis ; Manusia mistik.
Entah apa alasanya seorang Jusuf Kalla tiba-tiba saja menyatakan akan maju sebagai calon prisiden ditengah kekalahan partai Golkar pada pemilihan legislative yang baru saja digelar. Ekspektasi masyarakat atas kemenangan demokrat sudah pula dapat dibaca secara fulgar yakni sosok susilo bambang Yudhoyono. Lantas mengapa JK memilih bercerai dari kawan lamanya tersebut? Apalagi menyatakan diri akan menjadi partai oposisi, padahal semua orang telah paham dari dulu bahwa Golkar sejak terbentuk tahun 1963 adalah partai pemerintah yang tak pernah memiliki sejarah menjadi oposan.
Demikian pula kisah manohara, benarkah seorang model cantik yang menikahi putra mahkota mengalami penyiksaan yang begitu dasyahat yang membuat sang ibu mesti pingsan berkali-kali setelah melakukan jumpa pers? Setertutup apakah pihak istana sehingga seorang ibu untuk menjumpai anaknya mesti dicekal keberangkatanya ? inilah irasionalitas-irasionalitas baru dalam mitos masyarakat modern.

Prahara Bangsa

Begitu sulit membayangkan di abad ini, dimana deklarasi kemanusiaan telah begitu lama dideklarasikan oleh bangsa-bangsa didunia, masih ada kisah pilu seorang manohara yang disekap didalam istana sampai berjumpa dengan seorang ibu kandung sendiri tidak diperbolehkan. Padahal dalam konstitusi dasar negara semenjak negri ini didirikan secara tegas undang-undang 1945 menyatakan salah satu tujuan bangsa ini adalah melidungi segenap” tumpah darah indonesia” termasuk menjaga hak-hak warga negaranya. Manohara adalah poteret prahara betapa tak mampunya pemerintah dalam memberikan perlindungan atas kekerasan negara lain. Manohara hanyalah secuil cerita bagaimana rakyat bangsa ini diperlakukan tak wajar oleh bangsa lain, manohara yang hidup dalam kerajaan dan mendapatkan posisi terhormat masih saja disiksa, bagaimana dengan ribuan tenaga kerja indonesia yang kini dijadikan sampah di negri para datuk?
Jusuf kalla juga bagian dari prahara bangsa kita yang menjadi cermin dari elit negri ini, yang senantiasa senang berebut kekuasaan, egoisme politik dan cenderung mengedepankan ambisi pribadi diatas representasi kehendak rakyat dalam pemilu legislatif. Berdalih atas nama rakyat , elit politik negri ini membangun koalisi dengan berbagai macam nama, sembari berusaha menjelaskan pada rakyat ini demi kebaikan bersama! Pangung politik yang kini dipentaskan seorang JK adalah sebuah pangung yang abu-abu dan penuh misteri seperti kalimat yang sering diungkapkan Jusuf Kalla ; dalam politik tak ada lawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi. Kalau sudah seperti ini logika elit politik, jangan beraharap akan ada kejujuran dan koalisi abadi semuanya toh hanya akan menjadi pangung depan sementara pangung belakang politik negeri ini hanya akan menjadi milik situan orang.

Pers Gosip, Negri Gosip dan tokoh Gosip

Manohara dan Jusuf Kalla adalah bagian dari produk gosip pers saat ini. Mungkin sejarah para elit senantiasa berawal dari Gosip dan ditemukan oleh pers dan melahirkan mereka yang kelak dikenal dengan sebutan tokoh. Pers Gosip negri ini begitu menjamur sejak hadirnya Infotaimen dan akhirnya memicu kehadiran sejumlah majalah Gosip, situs Gosip dan para artis serta sejumlah tokoh Gosip. Demikian pula tayangan berita yang hilir mudik dilayar kaca, sangat sulit dipisahkan mana yang berdasarkan fakta dan mana sekedar Gosip.
Karena negri ini sudah dipenuhi Gosip maka manohara dan jusuf kalla kini sedang menjadi target Gosip. Setiap saat jutaan mata menantikan berita terbaru dari mereka berdua dan gosip-gosip seputar kehidupan pribadi keduaanya menjadi sesuatu yang bernilai berita tinggi dan selalu dinantikan untuk selanjutnya dijadikan gosip di pos ronda, dikantor-kantor pemerintahan, gang tikus, tempat arisan dan berbagai lorong-lorong kehidupan rakyat negri ini, termasuk juga dalam tulisan ini.



Posting Komentar

0 Komentar