Madu bagi demokrat, racun untuk Golkar

Dan akhirnya Indonesia memilih! Pemilihan umum legislative baru saja usai, televisi sibuk mengumumkan hasil survey cepat Quic Count yang menempatkan Demokrat sebagai pemenang pemilu. Komisi pemilihan umum sebagai pemegang otoritas sah juga mulai melansir data hasil pemilu yang sepertinya tak jauh berbeda dengan hasil penghitungan cepat lembaga-lembaga survey.

Fenomenal mungkin itulah kalimat yang dapat mewakili hasil perolehan suara yang dimiliki demokrat dalam pemilu legislative baru-baru ini. Walau sudah diperediksikan sejak tiga bulan terakhir bahwa demokrat akan meraih kemenangan dalam pemilu legislative, tapi capaian yang dilakukan oleh demokrat adalah sebuah hal yang masih sulit dipercaya, apalagi mengalahkan dua partai besar yang memiliki pengalaman tandang dan pengetahuan geopolitik seperti Golkar dan PDIP.

Madu bagi demokrat Racun Bagi Golkar

Tahun 2004 mungkin merupakan masa-masa indah sekaligus romantis bagi Susilo Bambang- Yudhoyono dan Yusuf Kalla. Ketika itu Susilo Bambang Yudhoyono yang didepak dari pemerintahan era megawati nekat mengajukan diri sebagai calon presiden dan meminang Jusuf Kalla yang baru saja hengkang dari bursa Calon Presiden Versi Konfensi Golkar yang memutuskan wiranto sebagai calon presiden.
Dengan mengunakan kenderaan partai demokrat SBY-JK, mengalang dukungan dari berbagai koalisi dalam pemilu dan akhirnya membuat peta politik tanah air berubah. Kemenangan SBY-JK pada pemilu yang lalu telah melahirkan sebuah tesis politik baru, mengugat kemapanan mesin partai yang selama ini menjadi indikasi kemenangan tokoh yang diusung oleh partai pemenang pemilu.
Bukan hanya mengubah arah potik, dengan kecerdikannya Jusuf Kalla juga mampu mengubah angin politik partai Golkar yang sebelumnya menjadi oposisi pemerintah akhirnya kembali menjadi partai pemerintah. Tipologi Golkar yang terbiasa menjadi partai pemerintah akhirnya dikembalikan oleh Yusuf Kalla setelah menduduki posisi sebagai wapres. Konsekuensi tersebut juga berpengaruh pada kebijakan internal partai Golkar yang mayoritas menguasai parlemen. Mengamankan segala kebijkan pemerintahan selama lima tahun bukan merupakan hal yang mudah, apalagi menghadapi Gempuran dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang konsisten menjadi oposisi pemerintah.
Jusuf Kalla sebagai ketua umum partai besar sekaligus sebagai wakil presiden yang telah berjanji setia bersama JK mesti menangung konsekuensi politik yang mengharu biru. Setiap kebijakan Kabinet Indonesia bersatu yang merupakan koalisi Golkar-Demokrat mengalami berbagai gesekan,apalagi dengan sikap Partai Keadilan Sejahtera yang cenderung senang memainkan bola panas koalisi pemerintahan.
Kondisi ini menjadi titik delematis bagi seorang Jusuf Kalla dalam memainkan peran antara seorang ketua umum partai dan mitra koalisi. Setiap kebijakan yang cenderung tidak populis yang merupakan hasil dari kebijakan pemerintahan, lihatlah ketika kenaikan BBM JK mesti menjadi bulan-bulanan para ekonom,media dan berbagai lawan-lawan politik pemerintahan. Dalam komunikasi politik Jusuf Kalla cenderung selalu menjadi penjelas bagi kebijakan-kebijakan pemerintahan yang rumit bahkan terkadang menjadi bamper politik dari kebijakan SBY dan partai demokrat. Sementara Jusuf Kalla dan Golkar berjibaku dalam mempertahankan kestabilan pemerintahan, SBY dan Demokrat cenderung menjaga citra baik dan lebih memilih isu-isu populis pemerintahan. Seperti terus meminum madu, Demokrat bersama SBY terus merasakan masa-masa manis pemerintahan. Sedangkan Golkar larut dalam kondisi politik yang cenderung tidak stabil dan mengalami perpecahan internal. Dalam kondisi yang tidak menguntungkan masa kampanye telah tiba, belum lagi menyelesaikan persoalan internalnya Golkar kembali mesti menelan pil pahit. Segala kebijakan pemerintahan yang populis ditengah rakyat kemudian diklaim sebagai keberhasilan partai demokrat. Pilihan isu yang diusung dalam kampanye demokrat adalah politik klaim dengan menekankan sisi keberhasilan pemerintahan. Segala ornamen keberhasilan pemerintahan diklaim sebagai kebijakan politik dari sosok SBY dan demokrat.
Dalam kondisi pelik yang dihadapi Golkar, pencitraan politik yang dibangun demokrat teryata sukses meraih simpati publik secara luas. SBY kembali muncul dengan citra simpatik,sedangkan Jusuf Kalla mesti berjibaku ;lebih cepat lebih baik yang teryata tak mengubah perolehan suara golkar yang turun hingga enam persen.

Koalisi, lobi dan Rekonsiliasi

Pasca pengumuman Quic Count dan hasil KPU sampai detik-detik terakhir saat ini, Demokrat terus melaju diposisi teratas sementara Golkar mesti bersaing diposisi dua dan tiga dengan PDIP. Maka menjelang pemelihan presiden yang sebentar lagi partai-partai mulai berancang-ancang dengan untuk segera melakukan koalisi. Demokrat bersama SBY dengan tangan terbuka telah menawarkan koalisi dengan partai yang siap searah bersama-sama membangun koalisi untuk mendudukan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai capres.
Belajar dari empat tahun yang lalu justru sangat tidak menguntungkan jika sejumlah pengamat dan elit Golkar kembali menawarkan duet SBY-JK jilid II.Rekonsiliasi kader Golkar yang kini tersebar diberbagai partai politik menjadi penting untuk dirangkul menjadi mitra koalisi sebenarnya, daripada melakukan rekonsiliasi Golkar-demokrat jilid II. Fusi politik dari sejumlah kader partai Golkar yang kini tersebar perlu dilakukan untuk membangun kembali kekuatan Golkar sebagai representasi golkar yang multi Golongan.
Golkar tak perlu terburu-buru untuk membangun koalisi dengan demokrat karena hal ini justru akan menjadikan Golkar pada posisi lemah. Sudah saatnya Golkar menunjukan kekuatan sebenarnya dan merangkul kembali kekuatan sterategis tokoh-tokoh Golkar. Apa yang menimpa Golkar saat ini adalah sebuah bentuk reaksi masyarakat yang tidak menemukan figuritas ideal dari elit Golkar. Eksepetasi pemilih yang memenangkan Demokrat bukan karena kekuatan tokoh dan kredibilitas para caleg-caleg demokrat, tapi lebih pada figuritas seorang susilo bambang Yudhoyono.

Golkar dan Politik jalan tengah.

Pada paruh tahun 1950-an, saat Indonesia sedang berada pada masa pergolakan ideologi. Saat sang proklamator sukarno sedang larut dalam haru biru pembentukan karakter bangsa, sebuah kekuatan politik militer dan sipil lahir, Golongan Karya muncul sebagai afiliasi tengah diantara peta pertarungan kekuasaan politik republik ini. Kubu Nasionalis (PNI), kaum sosialis (PSI), Komunis (PKI) dan Islam lewat (masyumi) sedang dalam kancah perebutan kekuasaan, berebut pengaruh, hegemoni dan dominasi atas ideologi bangsa. sejarah golkar yang lahir sebagai penengah menjadi sebuah ideom yang begitu penting dalam melihat perjalanan bagsa hingga saat ini. Tiga poros kekuatan politik yakni partai berbasis Agama nasionalis dan militer hanya bisa ditengahi oleh Golkar sebagai kekuatan penyeimbang dari poros politik yang ada. Walau pada dasarnya ideology partai menjadi sesuatu yang terlupakan ditengah pragmatisme elit parpol, namun pada masa tertentu polarisasi kekuatan politik akan menunjukan sikapnya.
Kemenangan partai Demokrat pada pemilu kali ini menjadi sebuah titik rawan yang justru membahayakan bagi stabilitas kebijakan pemerintahan. Dukungan basis akar rumput terhadap partai Demokrat cenderung cair dan bisa memicu konflik politik tak berujung. Sehingga kita perlu memperluas kacamata kemenangan demokrat sebagai wujud ancaman stabilitas percaturan politik tanah air. Kekuatan SBY pada basis militer juga tidak begitu siknifikan ditengah menyebarnya dukungan eliet militer diberbagai parpol. Golkar yang secara historis lahir oleh dukungan kekuatan militer sebenarnya menjadi kunci bagi sikap militer tanah air yang cenderung terpecah belah saat ini dan menanti reaksi politik para politisi. Dan damai di bumi Indonesia!



Posting Komentar

0 Komentar