setelah pesta masihkah ada lagi ?

Besok katanya merupakan "pesta demokrasi", pesta rakyat setelah masa tebar janji para politisi.Tapi benarkah negri ini akan berubah seusai pesta ? pesta senantiasa meningalkan dua jejak,keriangan atau kesedihan.keriangan bila pesta dihadrikan sebagai bentuk perayaan,capaian sekaligus cerita manis lainya. Pesta juga bisa berbuah duka ketika pesta malah melahirkan kesengsaraan ataupun ketidak puasan bagi mereka yang hadir dalam pesta tersebut.

Bagi saya pemilu demi pemilu yang kita ikuti justru terus melahirkan sebuah pesta kesengsaraan, coba kita tengok berapa banyak uang yang dihabiskan untuk kampanye parpol,caleq atau mereka yang terlibat dalam sebuah perayaan dan atas nama demokrasi. Ditengah kemiskinan rakyat yang terus melebar,petani yang terus sengsara akibat beras import,krisis energi,bencana alam dan berbagai duka nestapa negri ini, kita dipaksa dan harus untuk ikut dalam pesta tuan-tuan besar!

pesta ini milik siapa sebenarnya ? benarkah milik rakyat? didepan mata rakyat yang disengsarakan dibuat amnesia beberapa hari oleh para caleq yang seolah-olah mereka telah menikmati kue pembangunan dan kesejahteraan. Mereka diajak pula bermimpi akan perubahan esok setelah pemilu usai. Saya pesimis melihat pesta-pesta politik, karena sekali lagi kita tak juga beranjak, tak ada yang perlu dirayakan. Teringat sebuah coretan yang sering kubaca setiap melintasi jalan disekitar tello makassar "kapan terakhir orang yang kau pilih memikirkan hidupmu "!

Tadi seorang kawan, mengajaku berdebat soal mengapa kita mesti memilih dan jalan lain ketika yang duduk adalah mereka para pejuang rakyat yang telah terlatih hidup bersama rakyat. Aku sebenarnya salut dengan semangat kawanku itu. Ia terjun bersama rakyat melakukan pengorganisiran, terbakar bara revolusi serta berada dalam ancaman resistensi atas ideologi yang dianutnya.

Tapi bagiku, pemilu tak akan melahirkan apa-apa. Sistem yang sedang berjalan saat ini adalah sebuah demokrasi prosedural. Seolah-olah rakyat terlibat atas pilihannya, sementara ketika orang dan partai yang mereka pilih berada dibalik tembok kekuasaan terlalu nyaman dan berjarak dengan rakyat yang dahulu mereka bicarakan dan mungkin saja perjuangkan.

Mengapa hal itu terjadi? Bagi saya ada beberapa faktor, salah satunya disebabkan rakyat yang menjadi alat kontrol dari kekuasaan tidak memiliki akses langsung terhadap orang yang dipilihnya.Kalaupun ada, dinegri ini tingkat kesadaran politik rakyat terhadap kebijakan politik serta pengawalan atas agenda publik tidak pernah berlangsung. Hal tersebut disebabkan tidak berjalanya pendidikan politik yang signifikan ditengah masyarakat. Partai politik hanya menjadikan rakyat sebagai "bilangan"untuk melengangkan kekuasaan politik mereka.

persoalan lainya adalah para kontestan yang menjadi calon legislatif merupakan pilihan dari partai politik. Pada umumnya mereka yang muncul lebih disebabkan ketenaran,uang,koneksi dan lobi. Tidak benar-benar merupakan pilihan politik dari masa rakyat yang sadar. Sementara pada tingkat partai politik, ideologi dan keberpihakan atas perjuangan merupakan hal yang naif dan terkadang senyap dari pembicaraan. Kerena itulah mengapa artis dan pengusaha mendominasi pangung politik negri ini.

para caleq,pengurus parpol dimalam seperti ini tentu sedang sibuk mengkalkulasi suara, menghitung kemungkinan perolehan suara mereka dan mungkin banyak yang bagi-bagi uang agar besok pagi namanya dicontreng! Jadi adakah yang berubah esok? saya masih pesimis!




Posting Komentar

0 Komentar