Pertarungan para Goebbels



Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang dirubah sedikit saja.

Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di Zaman Hitler

Pada 1939 Hitler sedang berada pada ambisi perang, sang 'Fuhrer' baru saja menaklukan Australia, menguasai Cekoslowakia, melakukan ekspansi di Danzig Polandia, bahkan bermimpi menjadi pemimpin dunia. Keinginan pemimpin jerman ini memacu kemarahan Eropa yang berakhir dengan terjadinya perang dunia kedua. Akibat dari perang, Rakyat Jerman mengalami penderitaan berkepanjangan, demi kebangkitan ras Arya rakyat Jerman rela meregang nyawa memberikan segalanya demi kejayaan “Egenika” yang menjadi dasar pijakan pandangan evolusionis Nazi. Egenika berarti ‘perbaikan’ras manusia yang berangkat dari pandangan Darwin tentang kualitas manusia unggul. Pada masa itu Hitler sukses membangun proyek ilusi tentang kelebihan ras yang dimiliki bangsa jerman dan berniat menghancurkan ras lainya dimuka bumi termasuk rakyat jerman yang cacat.
Propaganda demi propaganda yang dilakukan oleh hitler sebenarnya merupakan buah pikiran seseorang yang berada dibelakang Hitler, arsitek utama dibalik berbagai kampanye dan propaganda Nazi sekaligus pelatak dasar pandangan propaganda bernama Jozef Goebbels. Goebbels merupakan tokoh penting bagi perkembangan kajian propaganda yang juga memberikan subangsih pada kajian Ilmu Komunikasi, khususnya menyangkut pandangan kepasifan massa dalam menerima setiap terpaan pesan, komunikasi politik, serta dunia periklanan dan promosi.

Pandangan yang dikemukakan Goesbbels dalam prakteknya mengalami sintesis dengan dunia marketing, termasuk menjalankan sterategi iklan dan promosi produk. Tengoklah bagaimana sebuah iklan ditampilkan dengan berbagai alat propaganda dangan tujuan mengajak setiap orang untuk meyepakati apa yang disampaikan oleh iklan yang mereka tonton, baca, atau dengarkan.

Logika yang digunakan oleh “Para Goebbels” dibidang marketing produk tetap mengunakan logika yang sama, semakin sering mereka melakukan promosi dalam bentuk iklan, maka akan semakin banyak orang yang akan tertarik untuk membeli, karena pada dasarnya segala kebaikan yang disampaikan oleh produsen lewat iklannya adalah sebuah kebenaran.
Saat ini menjelang pemilihan presiden kita sedang menyaksikan “pertarungan Para Goebbels”dalam mempropaganda para calon presiden yang mereka dukung. Berbagai alat propaganda dilakukan dari sekedar menawarkan visi pasangan, kesuksesan yang pernah diraih, kelebihan para Capres dan Cawapres hingga politik kesukuan begitu terlihat dalam arena pemilihan presiden.

Pandangan Tentang Propaganda Yang Tak Berubah

Perkembangan yang terjadi dalam dunia propaganda politik sepertinya tidak mengalami banyak perubahan dalam strategi politik yang dijalankan para tim sukses Capres. Kemasan pesan politik yang disajikan dalam iklan politik televisi yang bertebaran sebagian besar masih merujuk pada kesan berlebihan dan citra personal yang sempurna dari calon Presiden. Hal ini bisa nampak dari salah satu isi iklan kampanye yang menceritakan gambaran seorang calon Presiden yang sukses meniti karir, pendidikan, menjadi ayah yang baik bagi keluarganya, kakek yang penuh perhatian, negarawan yang unggul, memiliki komitmen pada rakyat dan berbakti pada nusa dan bangsa serta taat beragama. Kesan sempurna itulah yang ingin disajikan dalam pesan politik iklan tersebut, namun benarkah ada manusia yang memiliki segalanya dalam dirinya?

Memang tujuan utama dari pembentukan citra dan propaganda politik melalui iklan adalah menampilkan segala kelebihan calon yang diusung sehingga menarik khalayak untuk memilih. Namun patut diingat paradigma propaganda ala Goebbels sebenarnya tidak lagi kontekstual dalam melihat halayak. Teori tentang kebohongan yang terus disampaikan akan menjadi kebenaran yang menjadi dasar lahirnya teori jarum suntik telah runtuh dengan lahirnya pandangan baru tentang proses seleksi informasi khalayak. Sebuah pesan tidak akan diterima secara langsung oleh khalayak karena setiap pesan yang disampaikan akan mengalami seleksi dan filterisasi sebelum respon balik terjadi. Pada sisi ini, sebuah kesalahan besar dalam melihat khalayak sebagai pasif, karena pada dasarnya massa cenderung menjalankan sebuah proses seleksi terhadap setiap pesan yang disampaikan bahkan terkadang membangun filter dan benteng pertahanan informasi yang mereka miliki.

Untuk itu, para tim sukses yang mengemas iklan kampanye harusnya juga memperhatikan persoalan citra berlebihan ini. Karena pada dasarnya masyarakat sudah bisa melihat atau menilai setiap calon yang bertarung pada arena Pilpres. Apalagi ketiga Capres yang ada, sudah dikenal luas oleh publik termasuk trade record mereka. Jadi persoalan citra pribadi sebenarnya bukalah menjadi hal yang penting untuk dikemas dalam materi iklan kampanye politik namun harusnya fokus utama dalam propaganda yang ditawarkan adalah pada model 'deferensiasi'politik yakni malahirkan karakter khusus yang menjadi pembeda dalam diri setiap calon. Propanganda yang semestinya diisi dalam materi iklan kampanye bukanlah pada citra personal namun fokus pada visi politik yang ditawarkan oleh capres. Tentu saja hal tersebut membutuhkan kerja keras apalagi mengemasnya dalam bahasa yang mudah dimengerti, dan tampilan visual yang menarik disinilah tugas Para Goebbels yang dibayar mahal para calon bekerja.

Pertarungan Para Goebbels

Salah satu model propaganda yang kini ramai di bicarakan adalah persoalan black campaign (kampanye hitam) yang isinya adalah caci maki dan saling memojokkan. Kampanye hitam bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara demokrasi. Namun hal yang paling penting untuk ditelaah adalah pemisahan antara black campain dan negatif campain.

Ketika seorang calon diserang visinya maka itu merupakan bagian dari negatif campain namun ketika seorang capres diserang secara kelemahan pribadi yang tidak memiliki korelasi dengan persoalan visi pemerintahan yang menjadi visi/misinya dalam mengajukan diri hal tersebutlah yang dinamakan black campaign. Selama perdebatan yang diangkat di publik adalah persoalan visi seorang calon, kelemahan pengetahuan mereka dalam penguasaaan pemerintahan dan berbagai hal lainya yang berhubungan dengan pencalonannya sebagai Presiden hal tersebut bukanlah menjadi soal.

Jika propaganda selama meletakkan landasannya tidak ada ranah pribadi seorang calon presiden-wakil presiden, itu berarti semua dapat diperbincangkan dan semua dapat dipertanyakan. Masalahnya, ruang semacam itu sulit untuk ditemukan. Alasannya, masyarakat sudah terbelah-belah dan tertarik pada arus propaganda yang bermunculan.

Dalam konteks perang gagasan, ada kecenderungan bahwa para Gobbels yang sedang beredar di berbagai arena kampanye saat ini hanya sibuk mengemas citra yang bagus-bagus, sementara itu masyarakat cenderung sedang melakukan seleksi antara pengalaman yang selama ini mereka rasakan dari ketiga Capres yang ada. Kecenderungan bahwa para Goebbels hanya sibuk bertarung dengan satu fokus tayangan utama yaitu politik selebritas. Tujuannya adalah melakukan kemasan yang menarik dari diri seorang calon presiden. Sosok mereka selalu ditampilkan dengan gaya dan polesan yang baik-baik. Nyaris informasi yang jelas tidak diperoleh oleh publik untuk mengetahui kelemahan tiap calon. Usaha rakyat untuk mencari apa yang orisinal dari calon begitu senyap.


Rakyat kini sedang disibukan oleh informasi-informasi yang sudah direkayasa sedemikian rupa yang menampilkan para calon itu ibarat Hitler yang tidak punya kelemahan. Ini semua dampak dari distorsi propaganda sebagai "citra "sebagai senjata utama cara agar calon mereka dipilih oleh rakyat.

Persoalanya, apakah pencitraan politik yang berlebihan ini tidak dapat dianggap sebagai kebohongan publik? Suatu upaya untuk menutupi informasi yang sebenarnya, hanya menampilkan yang baik-baik saja, sedangkan yang buruk ditaruh di bawah bantal, tidak boleh dimunculkan ke permukaan. inilah model politik Goebbels yang masih setia dijalankan oleh para konsultan politik dan tim sukses setiap capres. Hingga saat ini, kita pun sulit untuk melakukan evaluasi terhadap jalanya pemerintahan incunbent ? Jika kita mengikuti pencitraan yang dimunculkan incumbent, seakan-akan tidak ada masalah bagi Indonesia, semuanya baik-baik saja. Semua ini sebagai dampak dari tidak adanya ukuran dan tanggung jawab presiden terpilih untuk menyampaikan secara terbuka kelemahan dan kelebihan dari capaian pemerintahannya dan tentu saja hal tersebut terlarang untuk diinformasikan para Goebbels.

Posting Komentar

0 Komentar