Berita dibalik berita (Demonstrasi Mahasiswa Makassar teror, masa dan aksi)

Hari ini saya sengaja tidak masuk kuliah. Bersama istri dengan hati yang bulat kami berdua memutuskan untuk ikut dalam demonstrasi pada 9 Desember yang bertepatan dengan hari anti korupsi sedunia. Sudah lama rasanya tidak ikut turun kejalan, bercinta bersama matahari serta menari dengan iringan sumpah serapah para demonstran. Istriku dengan berapi-api memaksaku untuk turun kejalan,pasalnya sehari sebelumnya sebuah opini yang saya tulis tentang "krisis komunikasi SBY" dibacanya disebuah surat kabar lokal sulawesi selatan.
"Kak salah satu konsekuensi pengetahuan adalah tangung jawab sosial megerjakanya", begitu katanya. Aku hanya dapat diam sebari berpikir tentang gugatanya padaku, sebuah gugatan dari sosok yang senantiasa menjadi mitra koalisi terbaik sekaligus oposisi yang paling berani !
Oke kalau begitu kita akan turun bersama besok. Maka sejak pukul delapan pagi aku berangkat menuju kampus sementara istriku telah berangkat lebih duhulu karena mesti siaran pagi hari. Sampai dikampus aku bertemu dengan beberapa kawan lama yang juga telah alumni. Rupanya mereka memiliki kerinduan yang sama untuk turun kejalan mengutuk rezim pemerintahan yang kata mereka kini semakin menunjukan sikap otoriternya. Sekitar setengah jam berselang setelah minum segelas kopi maka berangkatlah seya menuju titik star aksi di tugu universitas Hasanuddin.Sudah ada banyak mahasiswa disana berkumpul dengan jas merah darah yang menjadi simbol almamater Universitas Hasanuddin.Jam menunjukan pukul sembilan pagi bersama masa aksi sayapun ikut bergerak menuju titik aksi. Tapi oleh seorang kawan mengajaku untuk naik motor menuju pintu satu karena katanya disana beberapa kawan lama juga akan ikut sekalian reunian. Maka sayapun menumpang sampai di pintu satu dan benar disana sudah ada beberapa kawan dan senior yang dahulu juga sering terlibat demonstrasi. Setelah tertawa sejenak dan kamipun berangkat menuju titik aksi di karebosi. Kali ini dengan beberapa kawan saya putuskan untuk ikut berjalan kaki, sekalian membakar lemak tubuhku yang semakin bengkak saja. Dibawah panasnya matahari den berbagai lagu aksi yang menjadi alat agitasi untuk memecah kelelahan saat demonstrasi tak terasa kakiku bersama masa aksi yang lainya telah sampai di tugu adipura .Sepertinya aku mesti menyerah kepalaku tak lagi kuasa menahan panas dan kakiku serasa hendak patah maka kuputuskan untuk menumpang bersama seorang yunior yang kebetulan tidak memiliki boncengan.Begitu tiba didepan gubernuran sul-sel aku menyaksikan ada kelompok mahasiswa dengan almamater hijau dan biru mereka mengenderai dua mobil besar dan banyak yang mengunakan kenderaan bermotor. massa aksi mereka memang tak sebanyak mahasiswa unhas yang mebuat jalan-jalan kota makassar memerah. Sudah lama rasanya unhas tidak demonstrasi seramai hari ini...

(bersambung.....saya capek)

Posting Komentar

1 Komentar