Krisis Komunikasi SBY



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kini sedang mengalami krisis komunikasi. Hal ini nampak dari peryataan SBY dalam menyikapi tekanan publik menyangkut isu Century dan rencana demonstrasi besar pada 9 desember yang bertepatan dengan hari anti korupsi dunia. SBY terlalu reaksioner dalam menjawab berbagai tudingan yang diarahkan pada dirinya dan partai demokrat menyangkut kasus Century.
Dalam menyikapi rencana demonstrasi 9 Desember meminjam istilah SBY “dengan terang benderang telah jelas bahwa hal tersebut bukan bagian dari agenda penuntasan korupsi tapi lebih merupakan gerakan sosial yang bermuara pada kepentingan politik“! Disinilah titik akumulasi dari krisis komunikasi politik SBY. Seorang presiden tidak perlu terlalu buru-buru menyampaikan tuduhanya dalam menyikapi tekanan publik utamnya menyangkut berbagai sikap kritis dari sejumlah kalangan.
Sikap lebay (berlebih-lebihan) SBY yang berusaha mengalang simpati publik terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya justru semakin menunjukan ketidakmatangan SBY dalam berpolitik dan menghadapi polemik. Kini akibat terlalu reaksionernya SBY dalam menyikapi tekanan sejumlah kalangan, antipati terhadap SBY semakin membesar.
Kedua SBY sepertinya tidak begitu paham apa hakekat dari sebuah demonstrasi. Secara esensial Demonstrasi adalah sebuah gerakan sosial yang dalam bahasa Inggris disebut :social movement yang berarti aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbetuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial. Menilai aksi demonstrasi yang akan dilaksanakan oleh sejumlah elemen pada 9 Desember nanti sudah jelas mereka lahir dari berbagai kelompok sosial ditengah masyarakat yang terdiri dari akademisi, praktisi, mahasiswa, buruh, tani dan rakyat serta elemen masyarakat lainya yang menginginkan sebuah perubahan sosial atas budaya korupsi, mafia peradilan, ataupun kegagalan pemerintahan. Jadi dari definisi ini, demonstrasi pada hakekatnya adalah sarana dalam mendorong gerakan soaial, lantas apa yang salah dari hal ini. Bukankah Indonesia adalah bagian dari Negara demokrasi yang memberikan keleluasaan dalam menyampaikan pendapatnya ? opini yang dibangun SBY dengan menyampaikan bahwa aksi tersebut dapat berpotensi kericuhan dan tindakan kekerasan dan benturan mengigatkan kita pada pola komunikasi orde baru. Gaya komunikasi orba berjalan melalui terror yang pada esesnsinya adalah menebar ketakutan dan kecemasan dengan cara-cara tidak bertangung jawab.

Krisis Komunikasi dan Krisis Kepercayaan diri SBY

Menurut Wilbur Schramm pada saat krisis terjadi ada beberapa ganjalan yang mencolok. Pertama , arus informasi mengalami peningkatan luar biasa dari arus informasi “dari” maupun “ke” titik krisis tersebut. Kedua, sistem komunikasi goncang-kehilangan keseimbangan kemudian diikuti munculnya langkah-langkah pemulihan keseimbangan, dan akhirnya pemulihan keseimbangan fungsi sistem pada tingkat keseimbangan baru. Ketiga, kandungan emosi dalam komunikasi krisis sangat mencolok. Keempat, terjadinya “jalinan” antara jaringan komunikasi antar pribadi dan komunikasi media dan kelima, keterkaitan manusia pada media komunikasi massa mengalami lonjakan besar untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan akan informasi.

Kelima penjelasan Wilbur Schramm mengenai krisis komunikasi terasa sangat aktual untuk menilai apa yang menimpa SBY saat ini. Pertama tentu saja arus informasi yang seputar century terus berlangsung dan terus meningkat dalam perjalanan isunya yang mengalami pengawalan secara konsekuen dari media massa. Kedua, sistim komunikasi dalam pemerintahan amat goyah seperti yang dapat kita saksikan saat ini, bagimana antara lembaga Negara saling berebut pengaruh bahkan terlibat konflik. Kondisi ini memacu ketidak percayaan publik terhadap pemerintahan sehingga public cenderung apatis dalam menilai apapun yang disampaikan oleh pemerintah. Ketiga, kandungan emosi yang begitu mencolok dari sosok SBY sebagai kepala pemerintahan tidak dapat lagi ditutupi sebagai akibat tekanan informasi yang terus meningkat dan goyahnya peranata sistim komunikasi diatara lembaga pemerintahan. Keempat jejaring sosial melalui berbagai media massa amat berpengaruh dalam membentuk opini publik dari televisi hingga facebook telah menjadi arena pembahasan kasus century dan kelima hasrat khalayak yang semakin besar dalam pemenuhan seputar informasi menyangkut kasus ini tentu saja semakin meningkat tegoklah bagaimana ramainya isu pemberitaan ini telah mengundang rasa ingin tahu masyarakat sehingga media massa tak berhenti menyajikan perkembangan kasus ini secara terus menerus.
Krisis komunikasi ini telah memacu krisis kepercayaan diri seorang SBY dalam menjawab tekanan publik yang semakin meluas dan membuat SBY semakin emosional dan reaktif dalam menyikapi berbagai isu dan romor ditengah masyarakat. Disinilah kemampuan SBY di uji, jika dahulu selalu ada Jusuf Kalla yang tampil menjadi komunikator dari berbagai kebijakan yang tidak populis kini SBY mesti berjibaku menapik berbagai isu yang di hadapinya.
Jika dirunut lebih jauh, akar permasalahan munculnya krisis komunikasi tersebut adalah tidak terpenuhinya tiga tahap dasar dalam komunikasi krisis, yaitu perencanaan, penanganan, dan evaluasi. Perencanaan komunikasi krisis dengan sendirinya mengandung makna antisipasi. Dalam tahap ini, mengantisipasi dapat diartikan sebagai kesadaran bahwa masalah, kasus, dan bencana bersifat omnipresent, dapat terjadi kapan dan di mana pun. Karena itu kesiapsiagaan dan persiapan dini perlu dilakukan.
Pada tahap penanganan, mengantisipasi merujuk pada upaya dan rancangan informasi serta data yang disampaikan kepada setiap pihak terkait. Potensi terburuk dari situasi darurat dan adanya disonansi (tegangan) antara berbagai kepentingan pun perlu diantisipasi pada fase ini. Sedangkan pada tahap akhir (evaluasi), mengantisipasi menunjukkan adanya kesiapsiagaan untuk menghadapi segala bentuk situasi emergensi atau krisis yang mungkin terulang.
Ketiga kata kunci ini sebenarnya mesti disiapkan oleh para tim yang berada dilingkaran SBY agar dapat keluar dari krisis komunikasi yang kini melanda pemerintahan SBY- Boediono dalam isu Century. Bukan dengan cara merengek dan bersumpah yang mebuat kewibawaan presiden semakin jatuh dan membuat rakyat semakin jenuh dengan pola melodramatik sang prisiden.
Problem kegagapan maupun kelatahan komunikasi saat terjadi situasi darurat mengindikasikan kurangnya kemampuan mengantisipasi dan mengendalikan krisis. Bahkan, bisa jadi partai demokrat dan SBY sendiri belum memiliki manajemen krisis atau pun rancangan komunikasi krisis. Imbasnya sangat jamak terlihat dalam komunikasi yang tidak efektif dan beretika.
Pola komunikasi yang muncul kemudian, misalnya, membatasi akses informasi, keterlambatan informasi, misinformasi, tegangan dengan pihak stakeholders maupun media, keterangan yang berbeda dari berbagai pihak terkait, hingga rumor-rumor yang tak terkendalikan.

Kesalahan Sterategi Komunikasi Politik SBY

Sesuatu yang mesti dipikirkan oleh SBY dalam konteks komunikasi
politik adalah mengubah pola komunikasi yang selama ini digunakan yang cenderung simbolistis, tidak menjawab pertanyaan secara lugas dan yang paling utama kesan meminta dikasihani oleh masyarakat. Setidaknya sudah tiga kali dirinya secara terbuka menyatakan terancam, pada masa Pilpres saat itu SBY merasa terancam oleh adanya Santet atas dirinya dan keluarga, kedua dirinya dijadikan sebagai target oprasi terorisme yang mencatut dirinya sebagai sasaran tembak dan yang terakhir adalah adanya upaya menjatuhkan dirinya melalui perayaan demonstrasi anti korupsi sedunia pada 9 desember nanti..
Dalam konteks saat ini, kesalahan atau kekeliruan komunikasi politik
Presiden SBY adalah ketidakberhasilannya membaca dan menyesuaikan kepentingan
dirinya (sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara) dengan apa yang menjadi agenda masyarakat dan media.
Dalam kondisi saat ini harusnya Presiden SBY memperbanyak dialog dengan kelompok kritis,di setiap ranah (kesempatan) kepemimpinannya. Intensifikasi dan ektensifikasi
dialog SBY dengan masyarakat, khususnya kelompok krtis, akan memperluas akses
rakyat menjalin komunikasi politik dengan dirinya. Bukan malah dengan menyampaikan bahwa kelompok kritis tersebut adalah bagian dari kepentingan lawan-lawan politik yang bertujuan menjatuhkan dirinya. Kemampuan membangun komunikasi yang sehat mesti dilakukan agar krisis ini tidak berkepanjangan. Jika terlambat bukan tidak mungkin apa yang menjadi ketakutan SBY terhadap aksi massa untuk menjatuhkan dirinya dari kursi kepresidenan akan terjadi pasca 9 Desember 2009.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. telah dimuat di harian sindo makassar pada delapan desember 2009

    BalasHapus