Teropong Jakarta dalam ajang KPID Award Sulsel

Beberapa malam yang lalu bersama istri saya duduk manis didepan layar kaca. Malam itu begitu penting baginya karena merupakan ajang pemberian penghargaan bagi lembaga siaran dan pekerja siaran daerah yang bertajuk KPID Award. Sebagai seorang penyiar tentu penting baginya menyimak siapa saja yang menjadi pemenang dalam setiap kategori KPID.Jujur saja, saya tidak terlalu tertarik untuk menyimak siapa yang memperoleh penghargaan.Namun pada awalnya saya lebih tertarik melihat ajang KPID award sebagai sebuah fenomena sosial dan pangung kebudayaan popular atau lazim disebut Pop Culture yang dibentukan oleh masyarakat kapitalistik.Semuanya demi sebuah prestise, gengsi dengan alasan yang sama demi memperoleh pengakuan dan penghargaan. Tapi entahlah saya toh tidak hendak membicarakan kebudayaan pop itu disini, karena ada hal yang lebih menarik bagi saya selain dugaan awal saya tadi.

Hal yang menggangu pikiran saya tersebut adalah pidato ketua KPID Sulawesi Selatan yang dengan bersemangat pada malam tersebut berujar " sudah waktunya industri penyiaran sulawesi selatan tampil dan membuktikan pada Jakarta bahwa dunia penyiaran sulawesi selatan telah berkembang dan dapat bersaing dengan orang-orang Jakarta"! Bahwa jakarta mesti mengakui bahwa kini kita telah bangkit, singkatnya mungkin begini; "Sulsel bisa tonji".

saya merenung dalam hati.Pertama, terus terang saya dapat cukup mengerti apa yang ada dalam benak bapak Aswar Hasan, beliau ingin berbicara tentang semangat penguatan lembaga penyiaran lokal yang diikuti dengan regulasi pada Penyelenggaraan Penyiaran Melalui Sistem Stasiun Jaringan Oleh Lembaga Penyiaran Swasta dan Jasa Penyiaran Televisi.

Saya juga cukup mengerti tentang hegemoni dan dominasi isi siaran yang terkadang jauh dari semangat sistem penyiaran nasional yang memiliki prinsip dasar keberagaman kepemilikan dan keberagaman program siaran dengan pola jaringan yang adil dan terpadu dalam rangka pemberdayaan masyarakat daerah.

Namun saya tidak dapat memahami mengapa kita berbicara tentang batas geografis dan penolakan terhadap ke indonesian yang utuh. Saya tidak dapat memahami mengapa seolah-olah apa yang disampaikan oleh seorang Guru seperti Aswar Hasan lebih bernuasa propagandis yang membagi teritorial antara jakarta dan non jakarta.Bahwa kita sepertinya baru saja lepas dari jakarta yang menindas informasi, dan dengan lahirnya Peraturan Menteri Kominfo Mengenai Penyelenggaraan Penyiaran Melalui Sistem Stasiun Jaringan Oleh Lembaga Penyiaran Swasta dan Penyiaran Televisi kini saatnya menunjukan pada jakarta kita mampu dan bisa. Pada titik ini saya tidak sepakat dengan peryataan ketua KPID sul-sel tersebut.

Bagi saya, semangat utama penyelenggaraan penyiaran jaringan, yakni memberikan ruang bagi lembaga penyiaran lokal dan daerah untuk dapat memuaskan kebutuhan informasi dengan mempertimbangan bahwasanya pelaksanaan sistem stasiun jaringan harus mempertimbangkan perkembangan teknologi penyiaran, kecenderungan permintaan pasar, ekonomi, sosial, budaya, dan kondisi lingkungan serta yang terpenting adalah terjaminnya masyarakat untuk memperoleh informasi.Bukan untuk sekedar ajang menampilkan diri bahwa kami juga mampu seperti jakarta!

kedua, Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau dan kawan-kawan yang mendapatkan penghargaan KPID Award jujur saja saya rasa terlalu berlebihan melihat KPID award sebagai teropong melihat jakarta. bukannya tidak mendukung semangat penguatan lembaga penyiaran lokal, namun saya masih pesimis melihat representasi dari berbagai program siaran baik radio apalagi televisi yang mendapatkan penghargaan. Saya merasa program-program tersebut masih jauh dari menarik.Bila diberikan pilihan antara menonton program berita sulawesi selatan dan breaking news metro TV tentu saja saya akan memilih metro.Alasan saya mungkin sangat karikatif dalam melihat hal tersebut, dari segi pengambilan angle berita dan gambar saja sudah jauh berbeda apalagi kalau kita berbicara tentang hal lainya.

Ketiga, sebagai masyarakat saya merasakan bahwa KPID Sulawesi Selatan semakin terjebak pada berbagai acara serimonial dan kebudayaan spektakel, termasuk melalui ajang KPID Award. Harusnya KPID fokus pada beberapa hal yang lebih penting, misalnya saja mendorong pendidikan media literasi pada khlayak sebagai bentuk tangung jawab KPID sebagaimana tertaung dalam UU 32/2002 , KPI maupun KPID merupakan wujud peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan penyiaran (ps. 8; tentang tupoksi KPI). Dengan demikian KPI/KPID merupakan reprensentasi masyarakat dalam bidang penyiaran. Sebagai representasi masyarakat, maka KPI/KPID harus memiliki ikatan yang kuat dengan masyarakat, sekurangnya ”masyarakat informasi” (masyarakat yang memiliki perhatian besar pada bidang informasi/penyiaran).


(www.jiwa-pikiran.blogspot.com )

Posting Komentar

0 Komentar