Seratus Hari, SBY Mabuk Kekuasaan



Baru genap seratus hari SBY-Boediono dan kabinet Indonesia bersatu jilid dua berkuasa, aneka isu dan persoalan telah menggangu jalanya pemerintahan. Mulai dari kasus kriminalisasi KPK,oleh Polri, penjara mewah Artalita hingga penyidikan kasus Bank Century oleh DPR yang memunculkan wacana pemakzulan Presiden.

Tak mau kalah dengan berbagai tekanan terhadap pemerintahan, SBY dengan gagah berani melakukan serangkaian klarifikasi atas berbagai isu yang mendera kabinetnya. Hampir setiap isu yang berkembang dan menjadi wacana ditengah publik ditanggapi secara reaksioner oleh presiden. Bahkan beberapa waktu yang lalu SBY menggumpulkan tujuh lembaga tinggi Negara. Dalam pertemuan tersebut, SBY mengingatkan bahwa Indonesia tidak menganut sistem parlementer sehingga tidak dikenal Istilah Impeachement (pemakzulan). Pernyataan tersebut dihubungkan dengan proses politik di DPR terkait dengan skandal Bank Century senilal 6,7 triilun. Bahkan pada hari bhakti paspamres dan rapat pimpinan TNI Presiden kembali meminta masyarakat untuk memahami ancaman pembunuhan atas dirinya. Ini bukan kali pertama SBY menyatakan dirinya terancam pada saat menjelang pemilu peresiden yang lalu SBY bahkan membuat peryataan kontroversial dengan mengatakan dirinya coba disantet oleh beberapa pihak yang tidak senang. Atau tentunya kita juga masih ingat peryataan SBY menjadi target pembunuhan oleh terorisme.

Kekuasaan yang Memabukan

Power intoxicates men. When a man is intoxicated by alcohol, he can recover, but when intoxicated by power, he seldom recovers. Kekuasaan meracuni manusia. Bila manusia diracuni (mabuk) alkohol, dia bisa sembuh, tapi bila diracuni (mabuk) kekuasaan, jarang ada sembuh. (James F. Byrnes). Peryataan Baynes rasanya tepat bagi Susilo Bambang Yudhoyono dan partai Demokrat yang kini berkuasa. Merasa diatas angin para anggota partai demokrat dan SBY tampil terlalu percaya diri menjadi representasi dari rakyat. Kekuasaan memang senantiasa memabukan. Seorang penguasa yang terus-menerus berkuasa akan terus berusaha mempertahankan kekuasaanya.Ketika ada yang mencoba mengangu kekuasaanya maka seorang penguasa akan menjadi terlalu sensitif pada kekuasaannya. Kritik dan sikap yang berlawanan dengan kekuasaannya yang datang dari sebagian kelompok masyarakat akan dipandangnya sebagai usaha menjatuhkan kekuasaannya. Ketika telah mabuk dengan kekuasaan maka berbagai ketakutan secara psikologis akan bermunculan yang menyebabkan paranoid berlebihan.Dalam kondisi ini, terkadang sikap paranoid penguasa akan berlanjut dengan sikap otoriter untuk mempertahankan kekuasaan menjadi absolut. Akan tetapi, kekuasaan itu akan jatuh pada saatnya, melalui suatu krisis politik yang destruktif yang mengacaukan kehidupan masyarakat, dan pada saat itulah para penguasa biasanya baru sadar bahwa kekuasaan tak pernah abadi.

Hanya Mencari simpati dan sensai

Berbagai langkah politik yang dilaksanakan oleh Sby baik melalui klarifikasi atas berbagai isu hingga curhat melalui album terbarunya hanya mencari simpati dan sensasi di mata rakyat. Tak ada penyelesaian kongkrit yang dilakukan oleh presiden dan orang-orangnya di lingkar partai demokrat. Tengoklah bagaimana SBY menjawab tuntutan rakyat atas kasus Century, Sby lebih melihat upaya pemakzulan presiden dari pada mendorong upaya pemecahan masalah century dan keberanian memegang tangung jawab sebagai seorang presiden yang memiliki otoritas sebagai pengambil kebijakan.
SBY dan orang-orang terdekatnya terlalu mabuk akan kemenangan yang mereka peroleh dimasa Pemilu legislative dan presiden. Padahal kita juga tidak amnesia proses kemenangan SBY dan Demokrat dipenuhi berbagai catatan buruk, mulai dari kasus Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang bermasalah, hingga indikasi kecurangan diberbagai tempat.
Sebenarnya apa yang terjadi saat ini dengan kepemimpinan politik SBY, lebih disebabkan sejak awal masyarakat Indonesia telah dihegemoni dan dibentuk dengan pola pendekatan mass marketing of politic yang penuh kamuflase politik dengan menampilkan citra baik, melalui berbagai teknik persuasi politik, antaralain melalui iklan politik, retorika politik dan propaganda. Hasil Hegemoni itulah kabinet SBY naik ke tampuk kekuasaan politiknya.
Model politik populer, memiliki kelemahan esensial. Pertama, di satu sisi cenderung menjaga citra dan laku pribadi dalam peran positif. Sementara peran-peran pemecahan masalah kontroversial senantiasa didelegasikan pada komite khusus atau menteri terkait maupun tugasnya. Pada sisi lainnya, kultur populer cenderung sangat sensitif terhadap isu-isu yang menciptakan kemerosotan citranya.
Realitas pentas yang dipamerkan oleh Sby dan partai demokrat sebenarnya telah terjelaskan dengan baik dalam pandangan yang diungkapkan oleh teori gelanggang Bourdieu. Menurut Bourdieu, gelanggang merupakan seting dimana peran seorang aktor dioperasikan. Serupa dengan matematika, gelanggang Bourdieu juga memiliki seperangkat operasi yang dikonstruksikan dari interaksi antara peran, habitus, serta kapital seorang aktor. Keberadaan habitus dan akumulasi aktor mengindikasikan adanya aliran informasi yang terus menerus terhadap suatu gelanggang sehingga 'ukurannya' bisa membesar dan mengecil bergantung pada habitus dan akumulasi modal dari kekuasaan yang berlaku. Ini berarti Gelangang politik yang dimainkan oleh aktor politik Sby sebenarnya hanyalah bagian dari kepentingan elit dan kekuasaan dibelakang dirinya.

Gerakan menjatuhkan Kekuasaan

Besok 28 Januari 2010 kekuatan politik ekstra parlementer kembali terkonsolidasi untuk melawan pemerintahan SBY yang sedang mabuk kekuasaan. Agenda utama yang digulirkan, yakni wacana ketidak puasan terhadap 100 hari kabinet Indonesia bersatu jilid dua. Ini bukan pertama kali demonstrasi besar Gerakan melawan pemerintahan digelar pada hari anti korupsi seluruh dunia, berbagai gerakan ekstra parlementer juga turun ke-jalan menyuarakan gerakan perlawanan terhadap kekuasaan Sby- Boediono.
Sebagai sebuah gerakan perlawanan demonstrasi-demonstrasi yang digelar diberbagai daerah sebenarnya membawa pesan politik tentang ketidak puasan terhadap kekuasaan politik yang kini berada ditampuk kekuasaan. Namun secara jujur, upaya penggulingan rezim politik yang saat ini berkuasa sebenarnya bukanlah hal yang mudah. Elit-elit politik yang menjadi mitra koalisi Sby, masih menanti reaksi dan arus balik yang lebih besar untuk menggulingkan kekuasaan. Belum lagi, berbagai kalkulasi politik tentang resiko penumbangan rezim politik akan memiliki resiko yang terlalu mahal.
Keruntuhan kekuasaan Sby –Boediono dan kabinet Indonesia bersatu jilid II tidak akan terjadi melalui demonstrasi Gerakan 28 januari. Sebenarnya yang paling ditakutkan oleh SBY dan kekuasaan politik yang hari ini berkuasa di pentas politik tanah air, adalah penciptaan opini negative tentang kekuasan yang berlangsung secara terus menerus. Penciptaan opini negative tentang kekuasaan tentu saja akan mempengaruhi pencitraan politik Sby yang menjadi senjata utama mempertahankan kekuasaan politik demokrat yang tidak memiliki basis politik. Sby juga sadar, jika citra politik pemerintahan kabinet Indonesia bersatu jilid dua terus mendapatkan tekanan dan citra negative bukan hal yang tidak mungkin demokrat pada pemilu yang akan datang menjadi partai yang tidak memiliki suara signifikan.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. pendapat yang sangat baik untuk bangsa...saya akan taruh link anda di http://hendro-prayitno.blogspot.com
    main ya ke blog saya

    BalasHapus