Budaya Politik Ha..Hi…Hu…Ha!

Sudah hampir sebulan saya pulang kampung bergelut dengan rutinitas sebagai mesin dari birokrasi. Setiap sudut kota mulai marak foto kandidat walikota dan wakil walikota. Sebahagian saya mengenalnya dengan baik secara pribadi, sebahagian lagi saya mengenalnya dari nama yang mereka pajang di baligho mereka sendiri. Hampir disetiap tempat saya mendengar orang ramai membicarakan seputar kandidat walikota jagoan mereka. Di kantor-kantor pemerintahan semuanya sibuk mengukur kemana kapal kekuasaan akan berlabuh. “Sebagai pegawai negri sipil kalau ingin selamat dan mendapatkan tempat, kau mesti segera mendaftar menjadi penumpang, karena kalau tidak cepat menjadi bagian dari kapal, hanya akan ada dua kemungkinan; “pertama tidak akan masuk dalam daftar penumbang kapal kekuasaan atau yang kedua, kalau salah naik kapal maka bersiap-siaplah hanyut dan terlempar di buasnya lautan kekuasaan””, begitu kata seorang kawanku yang juga sama sepertiku, staf biasa tanpa posisi apa-apa.
Sementara di warung kopi banyak politisi yang mulai mengkalkulasi posisi dukungan politik setiap kandidat. . Tentu saja sambil menghitung, harga yang mereka tawarkan dari suara yang mereka peroleh sisa pemilihan umum kemarin. Semakin besar jumlah suara dari parpolnya semakin mahal pula harga yang mesti dibayar oleh seorang kandidat. Di tempat lain, diruang redaksi berbagai media cetak, awak jurnalis sibuk mencari berbagai aktivitas politik para kandidat. Sebahagian lagi sembari menulis ikut pula menekan nomor telefon para tim sukses dengan dalih meminta info aktivitas para kandidat yang biasanya diakhiri dengan kesepakatan faedah dari berita yang akan naik.

Berpindah ke rumah-rumah para kandidat, ada berbagai orang berdatangan sembari bercerita tentang dukungan politik yang mereka telah peroleh bagi kandidat yang mereka santroni. Mereka datang dengan berbagai busana, ada yang berkopiah haji dengan gamis panjang sembari membawa tasbih, ada yang berpakaian rapi dengan kemeja yang dikancing di leher dan berbicara tentang dukungan jemaahnya. Ada juga bercelana robek, dan rokok yang terus mengepul sembari terus berbicara basis politik yang mereka telah bangun. Pada umumnya kalimat yang mereka gunakan seragam; “ Dukungan ke bapak sudah Sip, Pokoknya sudah mantap”! Begitu kata-kata paling sering aku dengar dari mereka, mirip kalimat yang sering kudengar dari para pegawai bank yang terlatih menanyakan hal yang sama ketika ada nasabah yang datang ; Ada yang bisa dibantu ? Lucunya lagi, saya sering bertemu dengan orang-orang yang sama dirumah kandidat yang berbeda dan kata-kata yang mereka yang juga masih sama “Pokoknya Mantap”!

Sedangkan para kandidat Walikota sendiri aktivitasnya semakin bertambah, menghadiri berbagai acara yang sebelum ajang Pemilihan Kepala Daerah malas mereka datangi,menjadi begitu sensitive kalau ada kedukaan, ataupun semakin peduli dengan berbagai kebutuhan masyarakat padahal sebelumnya mereka tidak pernah mengenal atau dikenal oleh orang yang mereka bantu.

Budaya Politik Ha…Hi…Hu…Ha!

Menurut Gabriel A. Almond dan G. Bingham Powell, budaya politik berisikan sikap, keyakinan, nilai dan keterampilan yang berlaku bagi seluruh populasi, juga kecenderungan dan pola-pola khusus yang terdapat pada bagian-bagian tertentu dari populasi. Dari definisi ini, maka apa yang muncul dari gambaran realitas politik lokal atau daerah sebenarnya merupakan cermin pentas politik nasional.
Budaya politik Ha..Hi...Hu...Ha adalah representasi dari Budaya politik Nasional yang Hiperbola, penuh manipulasi realitas dan dihuni oleh para petualang politik yang memanfaatkan ajang politik sebagai sarana mencari keberuntungan. Demikian pula kalkulasi kepentingan partai politik dari pusat dan daerah sebenarnya tak jauh berbeda , dengan hitung-hitungan yang sama; berapa yang bisa disetorkan kandidat ke kantong para pengurus. Sikap birokrasi juga masih sama, untuk mencapai netralitas politik adalah hal yang mustahil karena kekuasaan politik memiliki kekuatan yang besar dalam menentukan posisi setiap orang yang berada pada jajaran birokrasi.
Para kandidat kepala daerah juga masih jauh dari keyakinan rasionalitas, karena mereka tidak dibekali dengan dasar fakta lapangan dimana mereka terlibat kontak langsung dengan masyarakat. Sebahagian besar dasar keyakinan mereka untuk terlibat pada arus kekuasaan hanya berdasarkan “Narsisme dan jiwa Megalomania Politik” dan akhir berujung pada frustasi karena menuai kegagalan.

STOP Ha…Hi..Hu…Ha!

Perubahan kultur politik harus segera menjadi agenda dari pertumbuhan demokrasi di negri ini. Politik kompa (dalam bahasa bugis) atau patende (dalam bahasa kaili) sudah mesti ditinggalkan didalam perjalanan demokrasi lokal dan nasional. Revitalisasi kultur politik seperti ini harusnya di ubah sebelum kultur ini semakin menggeras dan menyatu dalam alam demokrasi kita dan tradisi masyarakat.
Menurut analisis saya, model politik Ha…Hi…Hu…Ha, terbentuk karena kebudayaan politik nasional orde baru utamanya kultur birokrasi. Kebiasaan Asal Bapak Senang (ABS) di masa soeharto, ternyata masih tersisa begitu kuat dan bermetamorfosis dengan perkembangan demokrasi langsung dan kebebasan partai politik. Orang-orang parpol, birokrat dan media melihat celah dari ajang pilkada langsung sebagai bagian dari kesempatan mendapatkan tambahan penghasilan, cukup dengan modal yang sama yakni ; Ha…Hi…Hu…Ha, “Pokoknya Mantap”!

Posting Komentar

0 Komentar