Menonton Aliguka, Menyimak Nurani Mahasiswa Makassar yang Terbelah!

Sebagai warga Makassar,saya memberikan apresiasi yang sangat baik dengan hadirnya sebuah karya film besutan anak-anak muda kota ini. Aliguka adalah jawaban dari dominasi ruang kreatif bagi produksi film nasional yang selama ini identik dengan Jakarta, Bandung atau dalam bahasa sederhana dominasi jawa dan sekitarnya!

Makassar bisa tonji ching! Secara sinematografi film ini tidak kalah dengan berbagai film produksi nasional dengan sederet rumah produksi yang selama ini mendominasi industri perfiliman kita. Dengan mengambil seluruh lokasi shooting di kota makassar dan pemeran yang sebahagian besar anak-anak makassar maka jadilah film ini begitu bernuansa makassar.

Film yang berdurasi sekitar 70 menit ini mampu merekam berbagai gambaran paradoksal kehidupan warga kota. Mulai dari rumah susun yang begitu sumpek, Perjuangan kaum miskin kota dalam potret seorang juru parkir yang menjadi sahabat Aliguka, hinga kehidupan malam para pelacur di kota ini.

Kritik sosial juga dapat kita nikmati diberbagai scene tentang betapa paradoksnya dunia pendidikan di daerah ini, lewat sosok pembimbing skripsi Aliguka yang baru saja berbicara tentang 'kesamaaan dimata hukum ' namun mesti menunduk ketika menerima telephone dari seorang dengan gelar feodal 'puang'!

Demikian pula konflik yang sengaja dibenturkan secara tajam dalam Film ini antara sosok Aliguka dengan Ayahnya yang seorang anggota DPR.Rencana Proposal Skripsi Aliguka yang bertema Korupsi di Dewan Perwakilan Rakyat adalah jembatan ide yang cukup kuat untuk membangun konflik antara sosok ayah dan anak ini. Sekaligus menjadi penanda pemberontakan orang-orang dalam bacaan Aliguka, terhadap realitas sosial ayahnya yang koruptor.

Dan “menara gading” itupun tak runtuh!

Aliguka yang mahasiswa adalah representasi 'menaragading intelektual' (entah siapa yang pertama kali mengunakanya untuk menyebut mahasiswa dan dunia kampus) Kalau benar Film ini hendak meruntuhkan menara gading tersebut lewat beberapa penanda yang dimunculkanya, misalnya saat aliguka menjadi tukang parkir dan hidup di tengah rumah susun dengan berbagai realitas sosial rakyat yang hidup disekitarnya. Demikian pula melalui beberapa kata-kata Aliuguka kurang lebih seperti ini “Ada orang yang menghabiskan uangnya hanya untuk sekali makan ratusan sampai jutaan, sedangkan ada orang yang mesti menjual sampah untuk ditukarkan dengan sampah hanya untuk makan sekali”!(maaf kalau salah kutip).Dari susunan kalimat tersebut sebenarnya hendak menampar kesadaran kaum borjuasi dan para elit negeri ini termasuk juga mahasiswa sebagai bagian dari kelas menengah atau borjuasi imut-imut. Rasanya tamparan Film ini justru tidak kuat pada bagian tersebut. Aliguka dengan segala keperihatinan hidup yang dijalaninya selama lari dari rumah, dan tingal dirumah susun dan menjalani hidup bersama kaum urban kota teryata tidak dapat melepaskan buku dan bacaan-bacaanya. Ini justru sebuah celah ketika menara gading justru tetap terpelihara dalam kepala Aliguka. Hal lainya adalah sosok “aliguka” dan kesombongan intelektualnya tetap konsisten sehingga menyulitkan kita untuk menilai apakah Aliguka telah belajar untuk melihat hidup lebih arif atau aliguka menjalani segala penderitaanya lebih karena keterpakasaan semata.

Namun ada celah yang juga coba dikomunikasikan dari Film ini melalui poster Mahatma Ghandi yang selalu dibawa oleh Aliguka. Ini mungkin juga sebagai gambaran corak Aliguka yang tidak tertarik pada kekerasan dan aksi masa yang terefleksikan saat wanita yang selalu mengikutinya yakni Adil (lagi-lagi semoga tidak salah) , menanyakan mengapa Aliguka tidak ikut demonstrasi bersama mahasiswa fakultasnya menuntut pengusutan kasus korupsi dilembaga pendidikan.

Aliguka dan Nurani Mahasiswa yang Terbelah.

Ada satu bagian yang cukup mengangu dalam Film ini bagi saya. Yaitu sosok Aliguka yang terlalu mirip“Soehokgie” atau “Rangga”. Aliguka adalah sosok penyendiri yang selalu larut dalam pikiran-pikiranya sendiri, hoby membaca, senang menulis puisi dan melakukan kritik sosial, membaca karya Pram dan dikejar-kejar oleh seorang cewek. Tentu saja karakter seperti ini tidak ada bedanya dengan sosok Soehokgie dalam Film Gie karya Riri Riza, ataupun Rangga di film ada apa dengan cinta yang selalu memegang buku 'Aku' karya sumanjaya.

Mungkin penanda dan petanda yang berbeda adalah Aliguka menjadi Tukang Parkir untuk menyelami kehidupan sosialnya, sementara Gie (dalam Film) senang pada demonstrasi dan diskusi dan akhirnya memilih menjadi dosen. Sedangkan yang berbeda dengan Ranga, Aliguka tidak pernah mencium cewek seperti Dian Sastro.

Hal lainya yang membuat kening saya berkerut yakni Gambaran Aliguka yang senang melakukan kritik sosial namun tidak senang pada demonstrasi dan hiruk pikuk massa adalah sebuah hal yang sangat jauh dari realitas mahasiswa makassar dengan tipe seperti Aliguka. Ini sebenarnya tidak menjadi soal ketika Aliguka tidak hendak dijadikan sebagai representasi dari mahasiswa makassar, namun menjadi paradoks jika dilekatkan dengan identitas mahasiswa makassar. Bentuk ketidak konsistenan karakter tersebut juga semakin terbentuk dari Aliguka yang senang pada Pram,Chomsky dan pemikir sosial lainya yang pada umumnya juga tokoh gerakan dimasanya.

Saya juga melihat Nurani yang terbelah dari karakter Aliguka yang pada akhir cerita ketika memilih untuk masuk rumah sakit jiwa akibat frustasi dengan berbagai persoalan yang dihadapinya. Sahabatnya mati dibunuh dan dibuang kesungai, ayahnya terlibat korupsi, HP miliknya mesti dijual untuk beli beras, uang hasil Hp tersebut juga dicopet. Aliguka kemudian frustasi dan lari dari kenyataan serta memilih berlindung dibalik tembok rumah sakit jiwa karena babak belur dengan berbagai fakta hidup yang ada. Inilah titik sejarah yang paling jauh dari karakter mahasiswa makassar yang senantiasa penuh gairah dalam menantang hidup, dan besar dengan berbagai persoalan yang dihadapinya. Akhir cerita di rumah sakit jiwa mengigatkan saya pada sosok Nietzsche yang juga berakhir dengan nasib yang sama. Ataupun film dengan judul 'Beth' karya Aria Kusumadewa yang menceritakan kisah rumah sakit jiwa sebagai refeleksi kesadaran nyata.
Peran yang harusnya menjadi pemanis utama dari film ini teryata tidak disuguhkan secara utuh yakni pada sosok Adil. Pada bagian awal penonton disuguhkan tentang adil dengan cara bertutur ala Jakarta namun setelah memasuki pertengahan film eksentuasi Adil menjadi begitu sangat Makassar. Adil yang harusnya menjadi representasi modernitas, gaya, trand dan perlambang dari wanita kampus yang 'gaul' yang senang pada film, mesti berakhir dengan Adil yang hanya menjadi pelengkap dari sosok Aliguka dengan Nurani Terbelah.

Maju terus Film Makassar....
Bersambung setelah ujian Thesis Besok hehehe...

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Anonim7:56 AM

    belumpi bisa didownload ka cess?? di perth k saya.. penasaran k liatki..lama tak mengihjak kaki di tanah indie ku..

    BalasHapus