“Negeri Teror”

Saat itu perancis baru saja menyongsong sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan yang kemudian melahirkan sebuah istilah yang menjadi abadi selain revolusi. Kata itu adalah Teror dalam bahasa Perancis dieja menjadi La Terreur yang merupakan masa penuh kekerasan selama 11 bulan saat perjuangan Revolusi Perancis terjadi.

Selama masa ini mereka yang tidak bersepakat mendukung revolusi akan menghadapi kematian dengan hukuman pancung mengunakan “guillotine”. Nama sebuah alat pembunuh yang dirancang oleh Joseph Ignace Guillotin (1738 - 1814). Guillotine adalah sebuah pisau nasional yang menjadi menjadi simbol rentetan eksekusi bagi sejumlah tokoh Tiran Prancis seperti Louis XVI, Marie Antoinette, Girondin, Louis Philippe II dan Madame Roland bahkan beberapa artikel menyebutkan korban saat itu mencapai 18.500 sampai 40.000 jiwa.

Teror sendiri diartikan sebagai suatu kondisi takut yang nyata, perasaan luar biasa akan bahaya yang mungkin terjadi. Keadaan ini sering ditandai dengan kebingungan atas tindakan yang harus dilakukan selanjutnya, diikuti oleh kecemasan akan berbagai kejadian yang akan terjadi.

Seperti juga kejadian prancis di tanggal 5 September 1793 sampai pada bulan Juni dan Juli 1794, kini bangsa kita mengalami nasib yang sama. Sudah hampir tiga bulan kita merasakan teror ketidakpastian atas siapa yang paling bertangung jawab atas kasus Century yang menyebabkan pecahnya kekerasaan jalanan oleh para demonstran dengan aparat kepolisian, kerusuhan sosial yang mulai bermunculan akibat gonjang-ganjing antara Presiden dan DPR, dan yang terbaru adalah ancaman kebangkitan terorisme dan Gerakan Separatis Aceh.

Kini ketakutan menyebar di berbagai ruang kehidupan setiap warga. Ancaman teror biasa berlangsung dimana-mana dengan berbagai “guillotine”yang bisa diarahkan di setiap tempat. Entah pisau pancung itu berupa batu para demonstran yang nyasar di saat kita berkenderaan dijalanan, peluru aparat yang salah tembak atau bom dan timah panas para teroris.

Kita sedang berada diarena teror yang mencemaskan tanpa kepastian apa-apa. Bisa jadi kerusuhan antara sekelompok mahasiswa HMI dan aparat kepolisian hanyalah bentuk teror dari aparat bagi gerakan mahasiswa yang terkonsolidasi untuk kasus Century, bisa jadi pula penembakan terorisme di Gang Asem baru-baru ini juga merupakan bahasa penguasa bagi partai politik yang kini sedang terkonsolidasi melawan pemerintah yang berkuasa.

Segalanya hanyalah bentuk prediksi seperti juga kata terorisme yang sedang menjadi perbincangan dimana-mana. Kita sedang berada pada arena ketidakpastian tanpa pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan berlangsung di negeri ini.

Teror, Instabilitas dan Perubahan Sosial.

Kita semua paham bahwa perubahan selalu saja berawal dari instabilitas bukan stabilitas. Setiap perubahan akan bermula dari kekacauan dan akan menemukan polanya kembali pada saatnya. Seperti juga ramalan Jaya Baya tentang kedatangan Ratu Adil akan bermula dari huru-hara.

Pertanyaan yang mungkin layak untuk dipikirkan dan direnungkan, apakah gonjang-ganjing dan teror yang saat ini terjadi akan mengarah pada perubahan sosial yang lebih baik atau mungkin saja justru menyebabkan teror berkepanjangan yang akan menelan tumbal yang lebih banyak lagi.

Tiga bulan yang melelahkan bagi warga negeri ini menyaksikan prahara politik yang mungkin mereka sendiri tidak mengerti, tiga bulan menyaksikan teror media yang mengantikan sinetron kesayangan ibu-ibu rumah tangga mesti berganti dengan desakan keingintahuan tentang bagaimana kelanjutan kasus Century.

Kini membuka pekan awal bulan Maret kita kembali mesti dikejutkan dengan ancaman terorisme yang menyebabkan rasa curiga di berbagai tempat. Kegelisahan menyebar dan membuat warga masyarakat semakin ketakutan akan keselamatan jiwa mereka sendiri. Kiini warga mesti belajar lebih waspada menoleh tetanga kanan dan kiri, mendeteksi setiap orang dengan mata curiga jangan sampai ada teroris di lingkungan mereka. Satiap orang baru akan mendapatkan pengawasan,para tamu mesti terdeteksi jangan-jangan membawa bom atau senjata. Inilah teror sesunguhnya teror yang di mulai oleh pemerintah atas warganya!

Ancaman terorisme teror bagi parpol yang menjadi koalisi penentang pemerintahan juga sedang terjadi. Sejumlah politisi partai oposisi, kini mulai diisukan terlibat korupsi. Inilah teror baru setelah gonjang-ganjing yang terjadi dari terorisme Dulmatin yang akan melanda warga negri ini. Rakyat akan semakin bingung yang mana yang benar dan siapa yang salah ketika kejadian ini terjadi dan terus berkepanjangan dengan teror berikutnya sampai kita sadar perubahan sosial mesti disegerakan dan pemerintah negeri ini telah gagal memberikan rasa aman bagi kehidupan warganya di berbagai sendi kehidupan sosial, ekonomi, maupun politik negeri teror ini.

Joseph Ignace Guillotin dan Pemerintah yang Paradoks

Joseph Ignace Guillotin (1738 - 1814) adalah tokoh yang menyarankan digunakannya pisau Guillotine yang terdiri dari dua balok kayu di mana di tengah ada lubang tempat jatuhnya pisau tepat di leher terdakwa. Joseph sendiri sebenarnya tidak setuju dengan hukuman mati. Ia berharap bahwa “alatnya” akan menghapuskan hukuman mati itu sendiri.

Seiring dengan zaman, alat Sang Dokter Goilonte teryata telah berubah menjadi serangkaian sejata api, bom, atau gas air mata. Namun, tujuan utamanya tetap sama, kontrol akan ketakutan dan menebar kecemasan. Mungkin saja pemerintah sedang memainkan apa yang diperankan oleh Golentine yang membuat serangkaian teror, dengan tujuan menghapuskan teror itu sendiri. Stabilitas adalah harga mati bagi sebuah kekuasaan untuk menjalankan kekuasaanya dengan aman. Sekali lagi kita semua hanya bisa berasumsi, “mungkin saja” karena kita sedang berada pada masa teror tanpa pernah mengerti apa yang akan terjadi di negeri penuh teror ini.

Posting Komentar

0 Komentar