Rumah Kami Tanpa TV

Ada banyak hal yang berubah di rumah kami ketika kotak itu tak ada. Kotak yang kata orang dahulu adalah 'kotak ajaib' dan kata para teoritikus komunikasi saat ini ngak ngonteks untuk melihat TV sebagai kotak ajaib!

Bagi saya dan istri TV tetaplah kotak ajaib yang kami punya. Bukan karena TV sebuah benda yang Maha luar biasa seperti dalam teori MC.Luhan, bukan pula karena kemampuanya dalam melakukan proses adopsi dan difusi seperti kata Rogers. Alasanya, tanpa TV kehidupan kami akan begitu senyap dan sepi.

Istri saya adalah seorang Jurnalis Radio, walau tak pernah belajar jurnalistik secara formal seperti yang saya lalui. Setiap selesai solat subuh, disaat mataku belum juga terbuka dia akan segera ke dapur menyiapkan sarapan pagi sambil memutar sahabatnya yaitu Televisi, sambil memasak dia akan mendengarkan berita dari TV untuk membandingkanya dengan tema siaran yang akan diangkatnya pada pagi hari.

Pada siang hari saat saya masih dikampus ketika sampai dirumah untuk menghilangkan kesendiriaanya, maka dia akan menuju depan kotak itu sambil mencari acara kesayanganya. Oh yah, saya dan istri bukanlah pengemar sinetron ataupun berita TV yang saat ini pada umumnya sangat lebay.

Saat malam hari, kembali lagi saya bersama istri duduk di depan kotak itu, kali ini dengan membawa buku yang akan kami baca masing-masing sebelum tidur. Tapi sebelum memulai ritual "senyap beberapa jam" sampai akhirnya tertidur, biasanya kami menyempatkan diri dua atau tiga jam didepan kotak itu, untuk mendiskusikan beberapa hal, saling berkomunikasi dan bercerita tentang berbagai pengalaman tentang hari yang baru saja kami lalui. Walapun apa yang kami ceritakan tidak sama sekali berhubungan dengan tayangan TV itu sendiri, namun lebih disebabkan ada magnet yang dihasilkan oleh kubus bersegi empat itu untuk menarik kami disatu titik yang sama.

Itulah ajaibnya TV bagi kehidupan kami berdua dirumah kontrakan yang sangat sederhana. TV dan alas karpet seadanya adalah titik untuk saling berbagi dan bercengkama, sesekali kami menjadwalkan untuk bangun atau tidur lebih cepat demi menyaksikan tayangan sepak bola ataupun diskusi yang penting untuk didiskusikan ataupun menjadi materi siaran atau coretan gagasan di blog ini.

Belum lagi pada waktu-waktu tertentu saya mesti meningalkan kekasih hati yang sudah saya kenal selama enam tahun itu untuk pulang kampung dalam jangka yang panjang entah sebulan atau lebih. Saya tidak dapat membayangkan jika ia sendirian ditikam kesepian dan kesunyian tanpa sahabat setianya.Seperti yang dikatanya dengan TV saya melupakan bahwa saya sedang sendiri dirumah.

Nah sudah empat hari ini TV yang kami beli dengan kantong bersama itu tak mau lagi menyala entah kenapa, padahal baru beberapa bulan sejak menikah kami membelinya. Sunyi begitu terasa, aku coba menghiburnya dengan mengatakan ini masanya kita membaca buku lebih banyak lagi atau menyelesaikan setiap koran yang menjadi langanan kita disetiap pagi. Namun sayapun ragu dengan peryataan itu, teryata buku tak banyak membantu membunuh sepi kami berdua......

Posting Komentar

0 Komentar