“Revolusi Senyap Cak Anas”

Anas Urbaningrum akhirnya tampil sebagai pemenang pada kongres ke II partai Demokrat. Banyak komentar dan pendapat dibalik kemenangan mantan ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa islam (HMI) tersebut. Ada yang mengaitkan kemenangan Anas sebagai kemenangan melawan politik pencitraan ala Andi Malarangeng, kemenagan kekuatan akar rumput Demokrat, sampai pada runtuhnya Patronase Susilo Bambang Yudhoyono di Demokrat.

Beberapa hari sebelum kongres berlangsung, Kompas menampilkan sebuah resensi buku karya Anas Urbaningrum yang berjudul “Revolusi senyap”. Inilah bagian dari revolusi yang dilakukan Anas yakni Revolusi Institusionalisasi di dalam diri partai demokrat. Revolusi bagi sistim regenerasi kepemimpinan politik parpol di indonesia yang sebahagian besar dihuni oleh generasi tua, revolusi atas aras patronase politik di indonesia.

Kemenangan Anas Urbaningrum suka atau tidak telah menjadikan demokrat sebagai partai yang layak diacungi jempol. Saat semua partai politik terjerat pada sosok masa lalu yang tak pernah ikhlas melepaskan kekuatan politiknya dan sibuk membangun dinasti politik, demokrat justru dengan berani melakukan restrukturisasi dalam diri kadernya dengan memilih sosok Anas Urbaningrum yang bisa jadi justru menjadi pendulum balik bagi dinasti politik susilo bambang Yudhoyono.

Optimisme kaum Muda

Karir Anas Urbaningrum memang terbilang cemerlang. Dimulai dari menjadi Ketua PB HMI, anggota KPU termuda, salah satu ketua DPP partai Demokrat dan ketua fraksi Demokrat di DPR. Dalam usianya yang masih terbilang muda yakni 40 tahun, Anas berhasil memecah kebuntuan regenerasi politik indonesia pasca orde baru.
Dengan jalan revolusi sunyi, Anas berhasil membuktikan bahwa anak muda layak dipercaya menjadi pemimpin parpol pemenang pemilu sekelas demokrat. Sebelum Anas, Yudi Crisnandi coba membongkar kemapanan politik di tubuh partai Golkar, walhasil Yudi terpental! Anas memang memilih jalan berbeda dengan Yudi yang berani secara frontal mengusung wacana regenerasi politik bagi kaum muda. Anas memilih jalan revolusi sunyi yang tidak melakukan politik dikotomi kaum muda vs kaum tua. Anas justru memilih untuk bekerja dengan kesabaran, menampilkan kapasitas pribadi dan menampilkan praktek politik santun.

Sosoknya yang tenang, peryataan politik yang terjaga, menyejukan dan jauh dari kontroversi berhasil menyatukan sikap politik kader partai demokrat. Pada titik inilah Anas sedang mendobrak pola komunikasi para politisi muda negri ini yang banyak mengadopsi Sukarno muda yang meledak-ledak dan mungkin hanya cocok dimasa revolusi.

Anas belajar dengan baik pada dua guru politiknya yakni Akbar Tanjung dan Susilo Bambang Yudhoyono. Kedua sosok tersebut telah teruji menghadapi berbagai krisis politik. Akbar Tanjung Sukses membawa Golkar yang dihujat pasca lengsernya Soeharto, demikian pula berbagai kritik tajam bagi SBY diakhir kepemimpinanya bersama Jusuf Kalla. Dua sosok inilah yang secara sadar menjadi Guru Politik Anas baik semasa menjadi aktifis maupun saat menjadi politisi.
Kemenangan Anas sebenarnya bisa mendorong optimisme bagi para pemimpin muda negri ini. Bahwa dengan memperbaiki kapasitas serta intelektualitas pribadi, serta mengedepankan komunikasi politik yang santun mereka bisa tampil di pangung yang lebih besar. Sekali lagi dengan catatan penting tidak perlu membangun dikotomi namun mari tunjukan karya!

Senjata balik bagi Cikeas

Keberhasilan Anas, memenangkan pemilihan ketua umum demokrat memiliki catatan tersendiri bagi dinasti politik Cikeas. Diantara dua kandidat lainya Andi Malarangeng dan Marzuki Ali, sosok Anas Urbaningrum merupakan kandidat yang paling mampu melakukan institusionalisasi dirinya dengan demokrat.
Secara kapasitas Cak Anas dapat menjadi representasi baru dari SBY. Sosoknya mampu menjadi karakter ideal bagi regenerasi gaya politik SBY yang merupakan nilai lebih, sekaligus ancaman bagi dinasti politik Cikeas di partai demokrat. Nilai lebih dari Anas adalah gaya kepemimpinannya yang cenderung dapat diterima karena memiliki kesamaan dengan SBY. Para penggurus partai demokrat cenderung merasa nyaman dengan karakter Anas dan SBY yang kalem, akomodatif dan lebih senang merangkul dari pada terlibat konflik.
Pada satu sisi dengan kemampuan dan representasi politik yang dimiliki oleh Anas Urbaningrum juga merupakan Ancaman bagi dinasti politik Cikeas yang baru saja mekar. Dengan umur anas yang masih terbilang muda, tentu saja akan membuat usia berpartai akan semakin panjang yang akan ikut mempengaruhi peran bagi putra mahkota Cikeas Edi Baskoro.
Tidak menutup kemungkinan pasca 2014 ketika SBY turun dari pangung politik Anas Urbaningrum telah melangkah lebih jauh kepentas capres atau Cawapres, ketika hal itu terjadi figuritas SBY mungkin saja tidak lagi sekuat saat ini dan apakah saat itu tiba Edi Baskoro atau keluarga Cikeas lainya telah siap mengambil alih regenerasi politik ditubuh partai demokrat ? Seperti pendulum balik, tidak menutup kemungkinan Anas telah mempersiapkan struktur politik bayangan yang akan menjauhkan Partai Demokrat dari gurita kekuasaan Cikeas.

Pudarnya Politik Pencitraan ?
Banyak pengamat politik yang menyatakan dengan kemenangan Anas sekaligus menjadi petanda bagi pudarnya politik pencitraan. Hal ini mungkin ada benarnya, namun belum tentu benar secara keseluruhan. Saya lebih senang melihat yang terjadi, bukan pudarnya politik pencitraan tapi lebih pada kesalahan membaca kecenderungan pemilih internal di partai demokrat.
Kesalahan ini terjadi dikarenakan Konsultan Politik keluarga Malarangeng ingin membangun pencitraan secara instan dan berusaha mempengaruhi alam bawah sadar pemilih untuk terpukau pada sosok Malarangeng. Inti pencitraan dalam ajang politik adalah membangun kesadaran palsu bagi khalayak yang menjadikan sosok yang dimunculkan nampak sempurna. Hal itu mungkin bisa dikenakan pada khalayak yang memiliki kesadaran pasif namun tidak bagi khalayak aktif seperti anggota internal partai.
Mungkin saja Tim Malarangeng ingin melakukan model pencitraan seperti yang terjadi di tubuh Partai Amanat Nasional ketika Hattarajasa tampil menjadi pemenang. Namun tentunya apa yang terjadi pada kemenangan Hatta berbeda dengan Andi. Sosok Hatta mampu menggeser poros Sutrisno Bahir yang saat itu menjadi ketua PAN, belum lagi Hatta memang sudah lama berkecimpung sebagai Sekjen.
Selain itu secara jujur mesti diakui model politik identitas masih berlaku. Tanpa bermaksud untuk rasis, dikotomis sosok jawa dan non jawa sebenarnya masih berlaku di negri ini. Sosok Anas yang kalem sebenarnya merupakan representasi dari kesantunan dan karakter defensif jawa, sedangkan Andi dengan karakter yang terbuka, cenderung ofensif dalam melihat setiap pergolakan yang ada masih sulit diterima.
Mungkin pada akhirnya kita harus menerima bahwa kemenangan Anas adalah angin segar yang akan membawa optimisme pada alih generasi politik di negri ini. Sekaligus menyadarkan bahwa politik Figuritas dan pencitraan mestinya mesti juga dibarengi dengan pembangunan karakter pribadi pelopor dalam diri kaum muda! Ketika semua hal itu dimiliki semoga pada saat yang tepat pula kaum muda kita tidak lagi terjerat pada dikotomi politik identitas yang kini masih bercokol di negeri ini.

Semoga indonesia lebih baik !

Posting Komentar

0 Komentar