Sekertariat Gabungan dan Soeharto

Mendengar kata “Sekertariat Gabungan” akan mengigatkan pada dua hal, yakni Golkar dan Soeharto! Tentu saja sebahagian dari masyarakat masih mengenang sejarah kelahiran partai Golkar pada paruh tahun 1964 yang bercikal bakal dari “sekertariat bersama”yang dibentuk oleh Angkatan darat yang dipelopori oleh Soeharto.

Tujuan pembentukan “sekber” pada masa itu adalah sebuah upaya untuk melawan kekuatan politik dari Partai Komunis Indonesia dan untuk menjatuhkan Soekarno. Benar saja, Soekarno akhirnya jatuh dari tampuk kekuasaanya dan pada pemilu 1971 Golkar tampil menjadi pemenang dan mengantarkan Soeharto menjadi presiden.
Kini dibawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pengistilahan sekertariat bersama mengalami modifikasi dengan istilah sekertariat gabungan. Namun secara esensial sekertariat gabungan tidaklah jauh berbeda dengan apa yang menjadi tujuan sekertariat bersama yakni mengumpulkan semua kekuatan politik dalam satu payung bersama. Tentu saja stabiliasi politik adalah alasan utama dibalik keputusan Yudhoyono tersebut.

Sejarah yang Berulang
Kalau dahulu Soeharto bersama Golkar berusaha melawan kekuatan politik Sokarno dan PKI, kini reinkarnasi pertarungan tersebut dimainkan oleh SBY bersama Golkar, melawan kekuatan poros oposisi yang dipimpin Megawati. Namun SBY tidaklah seberani Soeharto dalam menekan laju kekuatan politik putri bung karno tersebut, SBY membutuhkan Aburizzal Bakrie yang merupakan reinkarnasi ideologis dari partai Golkar.
Pepatah Perancis, l’histoire se répète, yang berarti sejarah akan berulang, kembali membuktikan kebenarannya di saat ini, dimana watak dan corak kekuasaan akan terus mereproduksi dirinya untuk mempertahankan kekuasaan Rezimnya. Langkah Politik SBY dengan adanya sekertariat gabungan adalah bentuk dan corak langkah “soehartoisasi” model baru kekuasaan politik.

Bukan hanya dari sisi langkah politik tekstur kepemimpinan SBY adalah kepemimpinan sepola Soeharto. Terlebih, kedua-duanya juga dibesarkan dengan cara pikir dan gaya hidup militer, sama-sama bibitan Angkatan Darat. Dengan demikian, sedikit banyak kepemimpinan bergenre Soeharto akan gampang tertransformasi ke diri SBY.
Perulangan Soharto juga nampak dari cara Kepemimpinan SBY yakni mengedepankan stabilitas; pencitraan yang kuat dan kalem, tidak suka bergerak menabrak resiko, prototype Jawa yang organik. Artinya, simbol kejawaan masih menjadi bagian penting sebagai bentuk dari keseluruhan diri dan representasi SBY maka tak heran pola kebijakan politik yang sama dengan soharto juga dimainkan oleh SBY.

Sekertariat Gabungan dan Rekonsiliasi Politik
Susilo Bambang Yudhoyono dan Soeharto sadar betul bahwa stabilitas adalah hal yang terpenting dalam mengelola kekuasaan. Maka segala bentuk langkah akan diambil untuk mempertahankan kekuasaan yang dimiliki. Motivasi SBY sangat Jelas bagaimana caranya pemerintahannya lancar lima tahun tanpa diganggu.
Kekuatan Partai Demokrat didukung partai-partai koalisi yang berhimpun sebagai mitra koalisi yang sudah membentuk Sekretariat Bersama mencapai hampir 80% kursi di parlemen. Mirip Partai Golkar di masa Orba, segab tentu saja merupakan jamin bagi stabilitas politik ataupun efektivitas pemerintahan asalkan bisa bertahan selama lima tahun.
Tapi tak ada rekonsiliasi yang gartis dalam pangung politik. Oleh sebab itu SBY sadar ia harus berbagi kekuasaan dengan partai Golkar dan Aburizal bakrie. Itulah alasan mengapa Abu Rizal mesti menjadi ketua harian dari sekertariat bersama. Selain itu SBY juga paham bahwa bahwa partai yang dipimpinya sangat tergantung pada citra pribadinya. Dengan adanya pembatasan masa kepemimpinan presiden selama dua priode, maka kandidat yang paling berpeluang untuk tampil menjadi presiden 2014 adalah sosok Aburizal.

Kartelisasi Politik

Dalam telaah kajian ekonomi, sebutan kartel adalah memusatnya kekuasaan pasar hanya pada beberapa pelaku usaha yang kemudian menguntungkan pelaku kartel secara berlipat ganda sehingga berbagai pelaku industri lainya mengalami kerugian. Istilah kartelisasi politik yang dipopulerkan oleh Ganjar Pranowo mungkin saja menemukan kebenaranya dengan sikap politik SBY yang membangun sekertariat gabungan.
Hal yang paling berbahaya dari gaya seperti ini adalah kuatnya dukungan politik pemerintah sehingga akan selalu aman di parlemen yang mengakibatkan melemahnya kontrol terhadap kekuasaan atau tidak berjalannya mekanisme check and balance yang menjadi prasyarat pokok demokrasi.

Bagi SBY, secara kalkulatif memang hal ini menguntungkan. Belajar dari Soharto yang menguasai parlemen dan menjadikan dirinya sebagai otoritas tunggal kekuasaan adalah sesuatu yang penting dalam mempertahankan diri dan kekuasaannya utamanya dalam membangun stabilisasi ekonomi dan politik.

Dalam kondisi seperti ini , para pemimpin parpol dan SBY yang akan mendapatkan keuntungan e melalui jabatan-jabatan politik yang tersedia, baik di pemerintahan maupun di parlemen. Mereka yang memilih oposisi akan semakin dijauhkan dari pembagian kue kekuasaan. Begitulah Golkar dan Soeharto bekerja!

Posting Komentar

0 Komentar