Ali atau Fatimah Kami kami Bersyukur...

Nak, semalam setelah negosiasi yang cukup panjang dengan ibumu akhirnya dia bersedia ke dokter untuk memeriksakan dirimu yang masih satu bersama tubuhnya . Sekedar informasi, ibumu selalu saja takut mendengar kata dokter karena selalu dilekatkan dengan dua hal; Suntik dan alat Tensi darah (khusus alat ini , kata ibumu dari pelajaran biologi yang diketahuinya bisa menyebabkan pecah pembuluh darah entah benar atau tidak kelak bisa kau tanyakan langsung padanya)

setelah solat maghrib kamipun berangkat menuju dokter kandungan yang kebetulan masih satu perumahan dengan kontrakan kita di Bumi Tamalan Rea Permai (BTP). Tak butuh lama untuk sampai ke dokter spesialis itu, cukup 10 menit dan satu kali naik pete-pete (angkot). Setelah tiba di klinik bersama
(ini trend praktek dokter dalam satu tempat dan biasanya dilengkapi apotik)

aku langsung menanyakan;"dokter kandungan dimana?" kataku menunjukan sikap sempurna sebagai seorang suami!

Seorang perawat langsung memberikan kami nomor antrian.

Ketika baru saja diantara antrian yang ada. seorang perawat dengan jilbab besar keluar dari ruangan dokter kandungan itu, dengan mengumumkan angka secara berturut-turut seperti sedangkan menghafal angka-angka 5,6,7,8..

" oh maaf mbak, ini enam atau sembilan tanyaku sembari memperlihatkan nomor antrian kami ".

ini enam silahkan masuk bapak & ibu.

Ada kesan sopan dan dihargai dari kunjunganku kedokter spesialis kali ini, berbeda dengan saat beberapa kali ketika mengunjugi rumah sakit milik pemerintah atau puskesmas, aku sering melihat mereka yang tidak memperhatikan nomor antrianya atau terlambat , bisa kena semprot dan muka masam sang suster.

Silahkan ibu bapak, sapa seorang wanita dengan balutan jilbab yang rapi dari sebuah meja di ruang dokter tersebut. Wanita itu kira-kira berumur antara tiga puluh lima atau empat puluh tahun. lagi-lagi kami disambut dengan aksentuasi yang ramah, sama seperti suster yang tadi mempersilahkan kami masuk.

kami duduk di dua kursi yang memang disediakan untuk berdua, sepertinya dokter wanita tersebut telah mempersiapkan kursi dihadapanya untuk sepasang suami istri.

" Oke, bunda memiliki kartu pemeriksaan? Tanya sang dokter dengan tersenyum

belum dok, aku membaca kesan tegang dari ibumu nak,

kalau begitu sebelumnya sudah beberapa kali memeriksakan kehamilan ? atau ini urusanya bukan kehamilan? sambung sang dokter bercanda

"iyah urusan kehamilan" kataku menimpali sambil tertawa

"karena kalau urusanya sakit gigi pasti keseblah ki".kata dokter itu sambil tertawa

aku melihat ibumu juga tersenyum tanda ia tak sepanik ketika waktu pertama datang tadi

jadi sudah beberapa bulan ?..#@%^&&&**((((()& ...berbagai pertanyaan dan jawaban antara dokter waita itu dengan ibumu beredar ditelingaku yang membuatku tidak terlalu mengerti (maklum urusan wanita)

oke, kalau begitu kita lihat bayinya yah ?
aku terkejut, memangnya sudah bisa dok ? tanyaku dengan wajah yang pasti nampak bego.

sudahlah pak, bayinya sudah berumur tujuh belas minggu lebih empat hari.
Ya Rabb, nak aku terkejut ketika dia mengatakan bahwa kau sudah bisa nampak dan menyebutkan umurmu. Aku baru sadar bahwa kami tak lagi hanya berdua, teryata kau mulai berbentuk dan dapat terlihat.

Sebuah alat yang bernama USG atau Ultrasonography yang bentuknya mirib Sheldon J. Karen sebuah komputer yang dipunyai Plankton musuh tuan creb di film Sponge Bob di dekatkan pada ibumu dan seperti juga keren sang komputer, tiba-tiba saja alat itu memunculkan gambar. dan... Ya Allah, ada dirmu disana sedang bergerak-gerak.

Lututku serasa lemas antara haru dan takjub aku bisa melihatmu nak...dokter itu berujar,
itu dia anaknya pak ini kepalanya ...dan ini pungungnya.... Bayinya alhamudullilah sehat, dia bergerak terus, lihat kaki-kakinya tak berhenti menendang.

aku kagum pada dunia medis moderen yang bisa menghubungkanmu yang berada dalam tubuh ibumu dengan kami yang berada disini. Nak, belum cukup sampai disitu dokter itu melanjutkan, apa fotonya mau di cetak.

"Iyah"

Dalam hitungan menit, fotomu telah jadi yang kelak dapat kau lihat betapa kuasanya Tuhan yang telah menitibkan roh dan jasadmu dalam tubuh ibumu.

Aku teringat sebuah Firman Tuhan nak;

” Kemudian Kami menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpaldaging, lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang-tulang, maka kami liputi tulang-tulang itu dengan daging, kemudian Kami menjadikannya satu bentuk yang lain. Maha suci Allah, sebaik-baik pencipta.” (QS 23:14)

Maha Suci Allah atas pelajaran yang kami terima hari ini. Aku merenung sembari menatap wajah ibumu. kini Tuhan memberikan satu nikmatnya lagi bagi kita. Kata dokter itu, Insya Allah kalau tidak ada halangan pertengahan bulan desember kau akan hadir bersama-sama kami. Artinya desember nanti kita bisa berkumpul bersama, aku dapat menyentuhmu serta membelaimu. Rasanya tidak sabar nak, namun ini juga merupakan waktu yang tepat bagiku untuk mempersiapkan segalanya bagimu, baik lahir maupun batinmu.
Nak,ketahuilah ayamu ini mungkin belum siap menjadi ayah. Solatnya terkadang masih bolong, doanya belum seperti nabi Zakaria ketika meminta keturunan kepada Allah. Atau sesabar Ibrahim bagi Ismail. Tapi nak kehadaranmu mengigatkanku pada kuasa Ilahi Rabbi. Terima kasih atas tarbiyah ini ya Tuhan..Nak, kami menantikanmu baik-baik sajalah dialam rahim sana, semoga dunia juga sedang baik-baik kelak ketika kau hadir......


Makassar 9 juli 2010

Posting Komentar

0 Komentar