Diskursus Kritis Ulang Tahun Kota Palu ke 32

Sebagai seorang putra daerah yang belajar ilmu komunikasi hati saya sedikit tersayat ketika sebuah halaman facebook dikirimkan kepada saya dengan alamat Hari Ulang Tahun Kota Palu yang menampilkan sebuah iklan ‘perayaan ulang tahun kota ke 32’. Pasalnya, diatas iklan ‘Hut Kota Palu with kotak’ di cantumkan sponsorship sebuah iklan rokok.
Belum usai keterkejutan saya, ketika berkeliling disekitar kota begitu banyak liflet dan selebaran yang memuat iklan yang sama. Hal yang sama juga terjadi ketika saya menuliskan ‘keywords’ulang Tahun kota palu di situs pencari nomor satu dunia google yang mengantarkan saya “pada halaman Baranding rokok yang memuat ulang tahun kota palu” menjadi halaman nomor 1.
Mengapa saya berani mengatakan ‘Branding rokok yang memuat sebuah acara dalam rangkaian ulang Tahun Kota Palu ?’ karena secara denotative penampilan iklan rokok tersebut lebih menampilkan pesan dominan rokok ketimbang pesan ulang tahun kota palu. Namun bukan itu titik masalahnya, persoalanya adalah bahwa ditengah berbagai gugataan pemerintah tentang konten iklan rokok justru pemerintah kota palu seolah didikte oleh iklan rokok tersebut. Padahal diluar negeri sebuah kemasan rokok disertai berbagai gambaran menyeramkan tentang dampak rokok bagi organ tubuh.
Sebuah branding bertujuan untuk membangun sebuah reputasi yang panjang. Marie Germain dalam bukunya “BRAND OF THE WEEK, Cause Marketing” menyatakan bahwa penciptaan sebuah branding memiliki sebuah tujuan “Pay Less is the Target mantra”! Ungkapan Germain sangat benar dengan apa yang terjadi pada kasus branding iklan rokok ulang tahun kota palu. Mungkin dari sisi pemerintah beranggapan telah mendapatkan keuntungan dari disosialisasikan berbagai rangkaian kegiatan ulang tahun kota palu pada 19 september nanti oleh pengiklan yang mungkin juga menangung acara konser yang mendatangkan band anak muda KOTAK. Namun anggapan tersebut sebenarnya tidak tepat, yang ada jika dikontekstualisasikan dengan kata Marie “pemerintah kota palu sebenarnya sedang dibayar murah, sedangkan rakyat se-kota palu sedang dijadikan sasaran mantra oleh perusahaan rokok tersebut”!
Satu hal yang perlu dicatat bahwa branding memiliki konsekuensi jangka panjang ketika branding tersebut berhasil dilekatkan didalam benak alam bawah sadar konsumen. Sebuah analogi sederhana dan sudah menjadi rahasia umum menyangkut betapa ampuhnya mantra dari sebuah branding kembali saya contohkan secara sederhana seperti ini ; ketika anda ingin membeli air mineral apa yang anda sebutkan ? sebahagian besar kita akan menyebut merek ‘Aqua’, padahal mungkin saja yang ada diwarung dan yang pas dengan uang dikantong adalah merek air kemasan lainya. Atau ketika kita ke warung untuk membeli mie biasanya ibu-ibu dan para mahasiswa akan berujar ‘beli..beli …indomie’ yang mungkin saja yang hendak kita beli adalah mie dengan merek lain. Dari analogi ini saya hanya takut, jika kita menyebut ulang tahun kota palu maka akan diikuti dengan kalimat enjoy aja! merujuk pada rokok yang menjadi sponsornya.
Selain dari segi keuntungan produsen rokok yang juga perlu diperhatikan oleh pemerintah kota palu bahwa saat ini Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP)larangan iklan rokok sedang menjadi wacana pemerintah. Menjadi sangat miris jika pemerintah pusat sedang giat-giatnya melakukan proteksi terhadap iklan rokok justru pemerintah kota palu menjadikan sebuah produsen rokok sebagai sponsor kegiatanya.
Terus terang saja saya perokok yang sedang berusaha untuk berhenti, atau setidaknya tidak merokok saat dirumah semenjak istri saya sedang hamil. Namun secara pribadi meninjau diskursus kapitalisasi prodak melalui iklan apalagi iklan rokok dalam acara pemerintah, saya rasa hal tersebut perlu digugat. Pasalnya pemerintah adalah patron dari sebuah masyarakat, sehingga menjadi aneh ketika disaat kita semua sedang menyambut ulang tahun kota yang kita cintai justru dikomodifikasi oleh sebuah prodak rokok, apalagi kita semua berharap kedepan palu sesuai impian walikotanya dapat menjadi kota untuk semua termasuk kota bagi mereka yang tidak merokok, bukan hanya menjadi kota seperti diiklan tersebut, dimana logo kota palu lebih kecil dibandingkan logo perusahaan rokok tersebut atau tulisan ulang tahun kota palu menjadi terabaikan digantingkan dengan gambaran para artis band KOTAK dan komunitas rokok tersebut.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. KEMAMPUAN DALAM MENGHADAPI HARI ESOK DAN AMBIL TINDAKAN DALAM MEMAJUKAN KOTA PALU

    Perubahan struktur perekonomian nasional dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa menciptakan peluang bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terutama di bidang agrobisnis, agroindustri, kerajinan industri, dan industri-industri lainnya dapat berfungsi sebagai subkontraktor yang kuat dan efisien bagi usaha besar. Perubahan orientasi kebijakan investasi, perdagangan dan industri ke arah industri pedesaan dan industri yang berbasis sumber daya alam terutama pertanian, kehutanan, kelautan, pertambangan dan pariwisata serta kerajinan rakyat memberikan peluang bagi tumbuh dan berkembangnya UKM. Populasi UKM tercatat sebanyak 48,9 juta unit usaha atau 99,98% terhadap total usaha di Indonesia, sedangkan jumlah tenaga kerja yang terserap dalam UKM ini tercatat sebanyak 85,4 juta orang atau 96,18% dari seluruh tenaga kerja Indonesia Dari data ini, tampak jelas bahwa UKM memiliki kontribusi yang cukup besar sehingga perlu dilakukan pemberdayaan secara intens dan sustainable. Hal ini sesuai dengan komitmen pemerintah pusat untuk mengurangi gap penguasaan aset ekonomi oleh sebagian kecil pengusaha besar dan sebagian besar pelaku ekonomi di tingkat rakyat. Namun demikian kondisi yang ada di berbagai daerah termasuk di Kabupaten X menunjukkan bahwa perkembangan UKM pada umumnya masih menghadapi berbagai kendala seperti masalah skill atau sumber daya manusia, permodalan, teknologi, sistem informasi, dan sebagainya.
    Perhatian yang lebih besar perlu diberikan pada upaya pemberdayaan UKM sebagai pilar ekonomi rakyat dan sebagai tulang punggung ekonomi nasional karena ekonomi ini bersifat mandiri, tidak menyusahkan atau membebani ekonomi nasional di saat krisis, dan daya tahan ekonominya tidak diragukan lagi, dan perlu saya ulang kembali TIDAK MEMBEBANI EKONOMI NASIONAL DISAAT KRISIS.Untuk itu pembangunan ekonomi haruslah didasarkan pada kekuatan lokal dan nasional untuk tidak hanya mencapai nilai tambah ekonomi melainkan juga nilai tambah sosial-kultural, yaitu peningkatan martabat dan kemandirian.
    Bersambung..........



    Penulis

    Rifki Thalib

    BalasHapus