idulfitri kali ini....

Nak, ini lebaran kedua aku dan ibumu menjadi kami. Sudah dua lebaran dimana aku memiliki daftar tujuan mesti mudik kekampung ibumu. Sebelumnya semenjak ayah dan ibuku tiada dan aku mesti hijrah kuliah di Makassar tak ada jadwal pasti apakah aku mesti pulang atau tidak.
Semasa kuliah dulu, disaat semua orang bergegas untuk pulang berlebaran kekampung masing-masing, biasanya aku hanya bisa termenung sembari mengenang sebaris pusi kawanku dedy hermansyah “kemana aku mesti pulang ? Bukankah aku tak pernah membangun rumah dihatimu ?”

Saat-saat seperti saat ini adalah masa yang paling kubenci selama menjadi mahasiswa. Aku benci membayangkan saat kawan-kawanku mendapatkan pesan baik lewat sms atau telpon dari orang tua dan keluarga mereka yang meminta untuk pulang. Sementara aku hanya dapat terpaku disalah satu bilik Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) sembari bepikir betapa senangnya para mahasiswa itu, ketika sampai didepan pintu rumahnya akan disambut oleh ibu dan sanak saudara yang memeluk dengan kerinduan seolah mereka baru pulang dari medan perang.

Untunglah ada kawan-kawanku yang kadang berbaik hati yang mengajak pulang kekampung mereka. Ada kawan yang sudah kuanggap keluargaku seperti Adam yang selalu membuka pintu rumahnya untukku. Dirumah kawanku itu di jeneponto, aku sudah seperti anak bahkan aku membayangkan ibu, almarhum ayahnya dan saudara-saudaranya seperti saudaraku sendiri dan aku menjadi salah satu bagian dari mereka.

Ada pula seorang juniorku dikampus, namanya Asri Abdullah atau biasa dipanggil Aco yang telah kujadikan adik semenjak aku menggenalnya. Aco akan gelisah dan mencariku ketika malam takbiran tiba dan akan memaksa untuk berlebaran dirumahnya. Kalau tidak salah, dua lebaran kuhabiskan bersama keluarganya. Bersama Aco aku merasakan makna ketulusan dan perhatian.

Nak, semenjak menjadi Yatim-Piatu aku hanya punya dua orang kakak di kampung. Mungkin kau bertanya mengapa tak pulang saja di rumah kenangan itu bersama mereka ? Katahuilah Nak, aku tak mau menjadikan beban kepulanganku menjadi beban meraka. Sudah cukuplah aku terkadang dibantu uang bulanan itu sudah menjadi beban dan aku tak mau adalagi beban hanya untuk sebuah waktu yang disebut sebagai silaturahmi.
Ah….sudahlah kuhentikan saja tulisan ini sebelum menjadi sebuah keluh kesah, bukankah aku telah memiliki kau dan ibumu yang membuatku dapat menjawab baris pusi dedy, setidaknya aku tau kemana aku mesti pulang , karena aku telah membangun rumah dihati kalian…..!

Posting Komentar

0 Komentar