Selamat Tinggal Rumah Kertas

Anakku Ali untuk pertama kalinya aku "Takut"setelah kata itu enam tahun lalu aku buang jauh dari kehidupanku.Bagaimana tidak, disaat segenting ini ketika persalinanmu sudah semakin dekat dan dapat dihitung dengan jari tangan, pemilik rumah kertas yang aku dan ibumu gunakan berlindung meminta kami untuk segera angkat kaki.

Tak ada alasan yang pasti selain pemiliknya ingin memperbaiki rumah kertasnya yang ketika musim hujan datang akan berubah menjadi kolam renang yang luas seperti kolam renang dalam sinetron. Tapi kolam renang rumah kertas kontrakan kita adalah ruang tamu,kamar tidur sampai dapur yang pernah memaksa kami tidak bisa terlelap semalaman.

Rumah kertas ini bagi aku dan ibumu begitu berjasa dan akan selalu kami kenangkan.Setidaknya menjadi tempat berteduh walau tak mampu menahan air hujan, rumah kertas ini mampu melindungi kami dari panasnya matahari. Di rumah kertas ini pula sekolah magisterku selesai, sekaligus tempat dimana kau ditakdirkan bersatu dalam tubuh ibumu.

Ali anakku, tinggal menghitung hari kau akan lahir sementara aku masih bingung hendak kemana mencarikan tempat berteduh yang aman bagi dirimu dan ibumu untuk sementara, sampai persalinanmu selesai dan kau bisa tidur dengan tenang dibalik selimut kecilmu yang beberapa hari lalu telah dibelikan oleh ibumu.

Nak, maafkan aku atas masalah ini. Aku mungkin terlalu sibuk mengejar mimpi dan lupa mempersiapkan hal yang penting bagimu. Maafkan atas ketidaknyamanan ini, aku dan ibumu juga sudah meminta waktu pada sang pemilik tapi ia tetap kokoh pada pendirianya ingin merenovasi rumah kertas kita.

Ali kali ini aku benar-benar 'takut'membayangkan waktu yang berjalan. Aku mesti berlomba mempersiapkan segalanya. Aku tak ingin kalah dan tak boleh kalah dengan takdir ini, karena aku lelaki.....

buat rumah kertas kami yang sebentar lagi harus berpisah kami akan mengenangmu dalam takdir hidup kami...
keluarga kecil rahmad
BTP Blok L.347
makassar sulawesi selatan...
makassar,2/11/2010

Posting Komentar

0 Komentar