Apa kabar City For All?

Apa kabar City For All? pertanyaan itu dalam beberapa hari ini terus bermain di kepalaku. Serebrum otakku yang sehari-hari berpetualang mengantarkanku untuk menjawab dan merespon berbagai hal, dalam beberapa waktu ini terus mengirimkan berbagai implus dan kode tentang pertanyaan diatas.'Apa kabar City For All?''

Kadang jawaban yang muncul begitu normatif dan birokratis, 'semuanya sedang dalam tahap perencanaan dan agenda rekonsiliasi, termasuk berbagai tahap penyusunan dokumen strategis baik Rencana Program Jangka Menengah Daerah, Renstra dinas , atau berbagai kondisi yang menceritakan bahwa keadaanya sedang baik-baik saja. Tak ada yang perlu digelisahkan dari perjalanan impian 2010-2015 itu. City For All adalah gagasan yang akan mengejawantah dengan sendirinya ketika kita bersabar dan terus bekerja melalui berbagai etape sterategis yang telah menjadi bagian dari tugas birokrasi.

Pada prekteknya kalau ada warga yang sakit dan mau berobat cukup menunjukan kartu jamkesmas atau Jamkesda,kalaupun keduanya tidak dimiliki (jamkesmas-jamkesda) cukup melapor ke RT dan Lurah setelah itu meminta rekomendasi, mereka langsung dapat dilayani dirumah sakit pemerintah. Terus jika tidak mampu bersekolah ada saja kebijakan selama warga itu benar-benar ingin sekolah atau menyekolahkan anaknya, oleh pihak sekolah pastilah menunjukan kebijaksanaan, kalau ingin urus KTP,Kartu keluarga,izin usaha, cukup datang kekelurahan dan dinas terkait maka Insya Allah akan selesai. Di kota ini, PKL juga bebas berusaha tidak seperti dikota lain dimana Satpol PP begitu garang! Bukankah semuanya berjalan, bukankah semuanya sedang baik-baik saja ? So, City For All there's nothing to fear...hahahahaaha



Dalam keadaan lain tiba-tiba saja Selebrum menjelaskan hal lain, 'bung semuanya sedang tidak baik-baik saja'!Tanyakan kabar tiga ratus ribu lebih rakyat kota itu, apakah mereka sedang baik-baik saja ? Bagaimana nasib mereka yang mesti berpanas ria ketika mesti antri diloket yang begitu kecil untuk mengurus KTP ? Berapa waktu yang mereka mesti buang hanya untuk mengikuti mekanisme pengurusan KTP dari RT sampai kantor catatan sipil? Berapa pula biaya-nya?Apakah hati mereka baik-baik saja, ketika wajah masam kadang kala menyambut mereka dari loket ke loket. Belum lagi tradisi lama 'upeti' untuk petugas yang memang tugasnya untuk melayani, mungkin saja masih terjadi dengan dalih adimistrasi.

Apa kabarnya city for all yang dulu kau teriakan dengan derai air mata keharuan dan keyakinan ? Apakah kota ini telah menjadi milik semua, milik para buruh bangunan dari para kontraktor nakal yang membawa lari uang proyek disaat keringat mereka hampir habis dibakar panasnya bumi equatormu ?

Apa kabarnya tetanga sebelah rumahmu yang anaknya sepuluh, cucunya entah berapa banyak yang mesti hidup dari ibu-ibu yang bekerja sebagai buruh cucian dari tuan-tuan kaya ? Apa kabarnya teman-teman bermain bolamu saat kecil yang putus sekolah? bukankah kini menjadi bagian dari penganguran kota ini! mereka sudah beranak pianak pula, dan apakah anak-anak mereka juga akan putus sekolah. Mereka minder untuk sekolah, okelah mereka bisa bersekolah karena biaya pendidikan semakin murah dan mungkin saja gratis, tapi apakah mereka mesti bertelanjang kaki datang ke sekolah? karena toko yang menjual sepatu tidak pernah peduli dengan pendidikan gratis dan murah. Sementara disekolah anak-anak kaya mempertontonkan hendpone baru mereka.

Seolah tak cukup menimpaku dengan berbagai tanda tanya dan gugatan, serebrum nakal itu kembali menghampiri,' bung dijalanan dulu kau selalu berteriak Negara mesti kuat dan tidak boleh dikalahkan oleh intervensi modal asing'! bukankah kau baru saja beberapa bulan lalu tidur dikasur empuk hotel mewah ibu kota, disebuah acara yang membicarakan kemiskinan yang dimodali oleh bank dunia yang dulu kau kutuk!

Dimana marahmu, sementara kau tau banyak orang diluar sana yang berbaju sama denganmu yang telah memiliki kuasa menikmati perjalanan dinas dengan alasan studi banding, sementara mereka cukup memainkan tombol komputer yang terkoneksi dengan internet untuk mengunduh dokumen yang mereka cari.

bung, bukankah city for all bermakna untuk semua ? siapakah yang menikmati kotamu? apakah si miskin benar-benar menikmati berbagai bantuan langsung dari sekian banyak bantuan yang datang, ataukah hanya segelintir orang yang mengaku misikin yang mendapatkanya? Apakah kau memiliki data yang jelas siapakah si miskin itu ? ataukah kau sedang menggunakan apa yang dulu kau benci menganalisis si miskin dengan angka-angka kosong tak beryawa itu!

ah... bung rahmad, apakah sudah lupa ketika mahasiswa dulu kau selalu tertawa geli melihat mereka yang berseragam yang sama dengan seragam yang kau pakai saat ini, hanya duduk didepan komputer sambil bermain game zuma? seolah mereka digaji oleh negara untuk bermain game? ah sudahlah bung, kau juga pelan tapi pasti mulai melupakan itu semua...mulai melupakan tugasmu untuk mewujudkan apa yang kau impikan, tentang sebuah kota untuk semua.....



oh....Serebrum otakku yang baik... berhentilah mempertanyakan segalanya,aku lelah, butuh istirahat sejenak, besok mesti masuk kantor lagi setidaknya bisa berbuat sesuatu biar tidak memakan gaji buta yang diperas dari keringat rakyat....



palu, 14 desember (jam sepuluh malam,saat serebrum itu semakin liar)....

Posting Komentar

0 Komentar