Cerita Ayahku tentang 23 Januari 1942

'koe mesti tau, 23 januari 1942 kampung papa di Gorontalo Sudah Merdeka'....

Ayahku

23 Januari 1942, jam menunjukan pukul 10.00 pagi. Disebuah kantor pos kota gorontalo, ratusan orang sedang berkumpul, mereka datang dari kota Gorontalo,Suwawa, Kabila hingga Tamalate. Dua orang diantaranya dengan langkah pasti menuju tiang bendera membawa sang saka merah putih. Semua mata memandang kepada kedua orang itu, ada air mata yang mengucur tanpa sadar dari para hadirin yang hadir. Suasana haru tak lagi bisa tertahan ketika lagu karya Wage Rudolf Soepratman indonesia raya dikumandangkan, tua, muda, yang lelaki dan perempuan, semuanya merasakan haru yang sama. Merah putih berkibar, dan diujung lagu 'hiduplah indonesia raya' hampir selesai, secara bersamaan seluruh hadirin meneriakan satu pekik, Merdekaaaa!!!


Salah seorang diantara para hadirin itu mengambil beberapa langkah menuju tengah kerumunan itu, dia kemudian berpidato dengan tenang, begini kira-kira pidatonya:

Pada hari ini, tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dan penjajahan bangsa mana pun juga. Bendera kita yaitu Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintahan Belanda sudah diambil oleh Pemerintah Nasional. Kepada seluruhnya Agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban."

sebuah pidato yang singkat namun berani ditengah kekejaman bangsa kolonial. Sebuah proklamasi yang lebih cepat tiga tahun dari keberanian Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.


Nama Proklamator itu, Nani Wartabone. Mungkin tak banyak yang mengenal lelaki itu selain warga Gorontalo. Demikian pula pula kemerdekaan yang diperjuangkanya bersama rakyat dalam pengepungan Pukul lima subuh yang memaksa Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer dan beberapa kepala jawatan yang ada di Gorontalo menyerah tanpa syarat.


Nani wartabone adalah aktivis jong Gorontalo dan Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Cabang Gorontalo. Setelah proklamasi di sore harinya, Nani Wartabone memimpin rapat pembentukan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang berfungsi sebagai Badan Perwakilan Rakyat (BPR) dan Nani dipilih sebagai ketuanya.

Empat hari kemudian, Nani Wartabone yang berani itu, memobilisasi rakyat dalam sebuah rapat raksasa di Tanah Lapang Besar Gorontalo. Tujuannya adalah mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan itu dengan risiko apapun.


Namun Tragis nasib sang proklamator 30 November 1945 saat kemerdekaan indonesia sudah sebulan diproklamasikan dan sekutu kembali lagi setelah jepang kalah,Nani Wartabone justru dibiarkan ditangkap oleh belanda dan baru dibebaskan pada 23 Januari 1949. Setelah tahun 1949 Nani Wartabone tidak bersepakat dengan konsep Republik Indonesia Serikat (RIS) yang baginya hanyalah boneka dan ketidak beranian para pemimpin Nasional. Nani kemudian memilih untuk menolak RIS bersama Rakyat Gorontalo dan menggelar rapat raksasa pada tanggal 6 April 1950. Akhirnya Gonjang-ganjing pusat berujung dengan dikembalikanya NKRI dalam bingkai yang utuh, Nani menjadi kepala pemerintahan Gorontalo dan Sulawesi Utara, namun tidak berlangsung lama. Nani akhirnya memilih pulang kekampungnya di suwawa, melepaskan hinggar bingar politik, benturan kepentingan tentang indonesia dan para tokoh yang mencoba menjadi pahlawan. Di kampungnya yang terpencil itu Proklamator itu memilih turun kesawah dan berternak menjadi petani dan warga biasa.

***

Nak, itulah cerita ayahku (kakekmu) tentang peristiwa 23 Januari 1942 yang begitu heroik. Biasanya wajahnya akan berubah menjadi merah dan suaranya akan bergetar dan dengan sedikit polesan senyum rasa bangga. Selanjutnya cerita itu Akan ditutup dengan kata-kata sedikit jumawa 'gorontalo lebih dulu merdeka dari indonesia, maka banggalah koe jadi orang gorontalo!


Ali Ridha anakku sayang, bagi rakyat Gorontalo kampung kakekmu itu kisah tentang perjuangan Nani Wartabone dan Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo adalah kisah wajib yang mesti diturunkan secara turun temurun. Walau tentunya perlu dikaji secara historis tentang fakta sejarah yang terjadi (termasuk studi Ahistoris dalam prespektif sejarah yang berbeda menyangkut geneologi kekuasaan), tapi ini soal nilai yang membangun sprit kakekmu dan jutaan saudara-saudaramu dari Gorontalo tentang kebanggaan mereka atas kampung halamanya.

Anakku, Ar-Ridha walau sudah dua jam lewat dari 23 Januari aku tetap menyampaikan cerita ini untukmu sebagai sebuah kewajibanku untuk melanjutkan sebuah tradisi generasi yang mungkin sudah dilupakan. Agar kau tau, Indonesia bukan hanya Jakarta dan Proklamasi bukan sekedar Soekarno-Hatta dihari 17 Agustus 1945.

Posting Komentar

0 Komentar