Pengakuan Kader PKS !

Kabar buruk kembali terdengar di tubuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).Ini bukan kali pertama, saat kader saling serang dan saling gugat. Sebagai orang yang pernah terlibat dalam berbagai kaderisasi PKS, saya sadar betul suatu saat seperti bola salju ledakan ini akan terjadi. Pengakuan salah seorang murabbi (guru/pembina) PKS Yusuf Supendi tentang berbagai keboborokan elit partai hanyalah salah satu bias dari berbagai persoalan yang secara internal terjadi.
Ini bukan kali pertama? sepengetahuan saya pada tingkatan lokal di Sulawesi Selatan Ali Arifin mantan anggota DPR Makassar juga pernah 'berkhotbah bagi para pengkhotbah', tentang kebenaran. Mengapa kita “tak berbeda dengan yang lain”! itu tegasnya, dan hasilnya Ali Arifin yang mengugat beberapa elit PKS yang berada di kursi dewan juga mesti tertendang, bahkan pernah terdengar isu bahwa Ali Arifin dituduh mengalami ganguan kesehatan!Tragis bukan ?
Apa yang terjadi ?
secara subjektif saya menilai ada beberapa alasan mengapa PKS yang saya pernah begitu idolakan itu, kini semakin hari semakin jauh dari cita-cita idealnya. Pertama, ketidak sabaran meniti apa yang menjadi tahap-tahapan grand sterategy partai dalam rujukan empat mihwar yang dimulai dari Tanhzhimi, sya'biy,muassasi dan daulah. Ini disebabkan kehendak berkuasa yang sudah begitu besar dari sekelompok orang yang berada di PKS.Lompatan yang terlalu cepat tanpa mempersiapkan prakondisi menghadapi setiap medan membuat cultur shock pada tingkatan kader sampai pada lapis bawah.
Kondisi ini diperparah masuknya para 'penumpang liar' yang sebenarnya jumlahnya kecil, namun karena pada tataran kader PKS saat itu (2004) belum bisa memunculkan publik figur yang bisa dijual sebagai cara mendapatkan suara dan diterima oleh publik maka pilihan kompromistis ini kemudian diambil. Hasilnya kelompok ini secara perlahan mulai berpengaruh yang pada akhirnya bukan hanya mengambil keuntungan dari partai, mereka bahkan berhasil mengubah cara hidup,tindak tanduk dan arah perjuangan dakwah yang dirumuskan.
Kedua, perbedaan pandangan sesunguhnya selalu saja terjadi di partai manapun.Tapi berbagai pertimbangan rasional,logis dan tidak merugikan secara internal harusnya dihitung secara baik.Ada sebuah pola komunikasi yang menjadi kekuatan sekaligus kelemahan dalam tubuh PKS. Berbagai keputusan sterategis yang diambil harus berdasarkan keputusan sekelompok orang yang disebut sebagai majelis 'syuro'. coba dibayangkan dari level himpunan mahasiswa jurusan dikampus sampai di tingkatan Dewan Pimpinan Pusat Partai, ada majelis syuro yang selalu menjadi pengambil keputusan tertinggi akan berbagai hal!
Pada satu sisi, untuk menguji loyalitas kader ini penting. Namun pada titik tertentu ketika curah aspirasi tidak terjadi, maka ini bisa menjadi bola liar yang berujung konflik. Tidak semua keputusan bisa di putuskan oleh majelis syuro perlu ruang yang lebih dialogis untuk melihat aspirasi yang berkembang dari setiap individu kader.Kalau dalam pandangan saya saat menjadi mahasiswa dulu, perlu rekonstruksi “samina watana”!Inilah kondisi yang terkadang tidak termediasi dengan baik yang pada ujungnya melahirkan rekonsiliasi setengah hati.
Ketiga, kegagalan mempertahankan ciri khas sebagai partai kader. Sebuah partai kader adalah partai yang mengandalkan kualitas anggota serta ketaatan pada sistim dan arah ideologi partai. Setelah tahun 2004 PKS mulai cair akan berbagai kondisi, tidak lagi bertumpu pada peningkatan kualitas kadernya sendiri untuk menduduki parlemen maupun eksekutif, kalaupun ada rata-rata tidak memiliki kualitas diri yang siap untuk mengemban amanah da’wah (syakhsiyyah da’iyyah) sehingga mampu berperan aktif dalam melakukan transformasi sosial.
Mereka pada umumnya lugu, karena banyak kader-kader potensialnya yang sebenarnya bisa tampil namun karena selalu berbenturan dengan para penumpang gelap didalam tubuh partai yang tidak melalui tahapan jejang kaderisasi dan hanya mengandalkan uang dan popularitas membuat para kader ini mesti layu sebelum berkembang. Sedangkan yang taat dan memilih melakukan rekonsiliasi para penumpang gelap yang pupuler itu secara perlahan berada pada lingkaran kekuasaan.
Siapa yang dirugikan dari kondisi PKS saat ini ?
siapa yang dirugikan dari berbagai kerusakan yang terjadi di PKS saat ini adalah para kader dilapisan bawah. Para mahasiswa yang kirimanya tidak tetap, dan masih harus berbagi dengan berbagai kebutuhan partai dan jamaah. Mereka menyumbangkan tenaga, pikiran bahkan uang kiriman yang sangat terbatas untuk melakukan rekrutmen, kegiatan daurah secara terus menerus.
Merekalah para pejuang yang selalu saja menjadi martir bagi berbagai keputusan elit yang katanya syuro.
Saya menjadi ingat beberapa sahabat yang mesti merelakan apapun yang dimilikinya dalam sebuah munasarah Partai untuk mengumpulkan dana bagi pemenangan.Luar biasa! mereka yang sudah bersusah payah meningalkan kuliah untuk melakukan kampanye dari rumah ke rumah, para ikhwan dan akhwat dengan semangat membara mengkampanyekan seseorang yang kualitas pribadi dan agama yang juga mereka tidak ketahui dengan pasti, mereka yakinkan pada sejumlah pemilih dengan alasan pribadi didalam dada ' ini taklimat' (keputusan yang tidak boleh tidak, mesti dijalankan) dari majelis syuro yang saya yakin banyak dari mereka sendiri tidak tau bahkan tidak mengenal siapa yang mengeluarkan taklimat itu!
Belum lagi saat berbenturan dengan dinamika lingkungan mereka,misalnya saja seorang aktivis lembaga kemahasiswaan yang juga kader PKS, ketika banyak aktifis lembaga yang bukan partisan bertanya mengapa PKS justru menyepakati berbagai kebijakan yang tidak populer bagi kalangan mahasiswa ? (seperti memberikan dukungan bagi SBY-Budiono, pendukung koalisi yang berbusa-busa setelah diancam) maka jawaban apa yang akan mereka berikan ? mereka hanya bisa frustasi dan mendapatkan jawaban retoris yang seragam dari murabbinya 'sudahlah itu sudah keputusan syuro'.
mereka inilah para pejuang sesuguhnya yang mengorbankan semua yang dimilikinya bagi PKS dan belum tentu semua yang dimiliki oleh elit PKS dapat di korbankan bagi mereka!

Posting Komentar

0 Komentar