Sebuah catatan dari pengantar "Surat untuk Presiden"!



Dunia tetap butuh Hero, Pahlawan, Ratu Adil atau apapun namanya. Karena dunia akan terasa kering tanpa mereka. Berbagai konsep kepercayaan baik agama maupun perlambang kultural tetap saja menghadirkan para Hero sebagai bahan pelajaran untuk direnungkan,ditelaah dan diikuti.
Dunia tetap butuh Hero ditengah zaman yang be-gitu pesimistik. Krisis keteladanan menjamur diberbagai bidang kehidupan, semua saling curiga, sinis yang beru-jung krisis. Ketika para Hero telah disimpan di lemari perpustakaan-perpustakaan, mereka hanya ada dalam buku yang sampulnya mulai usang dan berdebu. Kadang mereka dijamah tapi hanya sesekali saja. Mereka tinggal menjadi altar sejarah yang dilupakan bahkan dicampak-kan.

Buku yang sedang anda pegang tentu saja ini bu-kan buku sejarah, ini adalah buku tentang para Hero yang ada dalam kepala seorang Rusdy Mastura. Dalam menuliskanya saya tidak pernah berpikir buku ini akanmenjadi buku yang serius, buku ini cukup menjadi buku renungan bagi siapapun dalam melihat kembali tokoh-tokoh yang terekam dalam kepala seorang walikota Palu.

Pencampuran mimpi, imajinasi dan fakta pasti akan anda temukan dalam buku ini, karena jujur saja buku ini berangkat dari ingatan-ingatan dan cara ber- pikir yang kadang melompat dan senantiasa bergerak di-namis. Inilah dialog imajiner yang bergerak bebas, tidak terikat pada ruang sejarah,fakta atau diskursus ilmiah.

Kita tetap butuh sosok pahlawan yang akan mem- bawa bangsa ini bergerak kearah yang lebih baik, entah siapa dan dimana ia kini, itu urusan berbeda, anggaplah kita sedang menyalakan obor mencari jati diri pahla-wan dari setiap sampul-sampul rekaman kehidupan dari tokoh-tokoh penting negeri ini mereka adalah Soeka-rno, Hatta, Syahrir, Natsir, Soeharto, Gusdur, Jenderal Sudirman dan terakhir Presiden Susilo Bambang Yud-hoyono.
Kami sepenuhnya sadar mereka tidaklah sem-purna, mereka punya celah , dosa, kecuali satu sosok te-ladan Muhammad S.A.W. Sosok manusia agung, teladan sepanjang masa.

Banyak rekaman pemikiran, dialog yang ingin disampaikan oleh Bung Cudi melalui surat-surat ima-jiner ini untuk membuat kita menatap kembali Indone-sia, menerawangnya merasakan alam berpikir masa lalu,masa kini, dan beberapa petikan harapan masa depan.Itulah sosok walikota kami, seorang yang memiliki ima-jinasi besar dan mimpi yang begitu banyak jumlahnya.

Ditengah zaman saat ketika banyak orang di negeri ini tidak berani lagi berharap, seorang walikota Palu datang membawa obor keyakinan bahwa kita masih perlu mem-bangun optimisme, mimpi dan harapan untuk senantia-sa yakin bahwa revolusi belum selesai.

Posting Komentar

0 Komentar