'Indonesia bangkit dari Sulawesi Tengah'


Bilangan tahun, bulan dan tanggal sedang menunjuk pada masa istimewa.Enam puluh enam tahun lalu dibulan agustus yang juga bertepatan dengan bulan suci Ramadhan setelah masa perjuangan yang panjang, tiga setengah abad dijajah oleh belanda dan tiga setengah tahun ditindas oleh jepang, akhirnya sebuah negara dideklarasikan.Indonesia merdeka, indonesia berdaulat, Indonesia bangsa mandiri.
Sembilan belas tahun kemudian di tahun 1964 sebuah propinsi yang awalnya terdiri atas tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat, yang selama tiga setengah abad dibagi dalam beberapa lanscap Pemerintahan Hindia Belanda kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai propinsi Sulawesi Tengah.
Ada banyak darah yang tumpah dan ribuah air mata yang jatuh tak terhitung, belum lagi korban materil yang mesti hilang, demi sebuah gagasan kemerdekaan ataupun menjadi sebuah propinsi yang mandiri.Itulah konsekuensi dari sebuah mimpi dan gagasan selalu saja mesti ada martir dan resiko sebuah perjuangan.sebuah pilihan, atau sebuah keyakinan selalu saja membutuhkan korban.
Kini setelah 66 tahun sebagai bangsa merdeka dan empat puluh tujuh tahun setelah menjadi propinsi yang mandiri, masihkah kita mengenang dan mau merasakan semangat pengorbanan yang menyala-nyala enam puluh enam tahun yang lalu. Ataukah kita akan memilih menjadi pesimistis melihat indonesia yang semakin jauh dari cita-cita awal, dari tujan kemerdekaan yang diperjuangkan dengan berdarah-darah itu.
Kita mesti berhenti mengutuki kegelapan ini, karena bangsa dan anak-anak kandung republik indonesia tidak lahir dari dinamika yang biasa-biasa saja. Kita lahir dari sebuah parade panjang, optimisme yang membara, buktinya setelah tiga setengah abad dijajah harusnya pendahuluu kita lupa akan kemerdekaan, namun para pendiri bangsa ini justru mewariskan semangat yang sama dari generasi ke generasi sampai pada momentum proklamasi 66 tahun yang lalu.

Memaknai Kemerdekaan Untuk Rakyat Sulawesi Tengah.
Beberapa tahun lalu dalam berbagai diskusi, sebagai mahasiswa yang terlibat dalam banyak wacana pergerakan saya sering berusaha mempertanyakan sebuah pertanyaan sederhana, sudahkah kita benar-benar merdeka? Bukankah merdeka berarti sejahtera atau dalam terminologi kebangsaan berarti sehat jiwanya,sehat badanya ? mengapa di era kemerdekaan sekian puluh tahun masih ada ratusan pemuda yang tak kerja,petani beras yang meranggas karena mesti bersaing dengan beras impor. Nelayan yang tak bisa melaut dan anak-anak desa tak bisa sekolah?
Jawaban saya saat itu, kita mesti melakukan perubahan bagi bangsa, maka jalan satu-satunya mari hancurkan kekuasaan! Hari-hari ini pandangan itu sepertinya perlu saya tinjau kembali, pergantian kekuasaan bukan berarti kita bisa merdeka atau juga sejahtera. Persoalanya justru terletak pada apa kontribusi kita bagi kemerdekaan? Menepatkan tokoh politik yang memiliki komitmen moral saja tidak pernah cukup tanpa diringi dengan sistim yang jelas, mental yang baik dari para pemimpin dan segenap rakyatnya.
Setelah kembali ke kampung halaman di Sulawesi Tengah, penulis kemudian bertanya apa makna kemerdekaan bagi daerah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Makna merdeka bagi Sulawesi Tengah kemudian saya rumuskan dalam beberapa hal pokok yang mestinya setelah 66 tahun bangsa ini berdiri dan 47 tahun propinsi ini hadir telah lenyap.
Pertama harusnya kita sudah merdeka dari mental sebagai daerah terkebelakang inferiority. Berbagai dogma dan jargon pemerintahan yang selalu digembar-gemborkan harusnya berubah dari mental pengemis dengan mengantungkan hajat kehidupan dari berebut kue pembangunan pusat dengan alasan kemiskinan dan ketertinggalan mesti kita ubah dengan sprit yang lebih terhoramat dengan memacu potensi yang utama yang dimiliki daerah ini yakni manusia-manusia yang hidup didalamnya yang mampu bekerja dan memaksimalkan potensi sumber daya alam yang kita miliki. Karena tidak ada alasan yang membuat kita bisa rendah diri, Potensi penangkapan ikan di laut lepas dan budidaya pantai daerah kita dapat menghasilkan 213.774 ton ikan setiap tahun, di darat kita merupakan penyumbang eksport kakao terbesar di indonesia, daerah kita punya tambang emas, nikel, galena sampai granit.Parawisata kita beragam mulai dari pantai, teluk yang indah sampai agro wisata belum terkelola secara maksmial. Terus apalagi yang membuat kita tidak berani berkata Negeri kami subur dan makmur Tuhan!
Kedua, setelah perbaikan mental, maka selanjutnya secara pribadi-pribadi kita bertanya apa kontribusi saya bagi kemerdekaan dan perbaikan bangsa dan negara ini? Tidak mesti dilakukan dengan hal-hal yang besar cukup sekedar hal-hal kecil yang berarti. Misalnya saja dengan tidak membuang sampah sembarangan kita sebenarnya telah mengurangi pekerjaan para pengangkut sampah, menghemat anggaran pemerintah untuk oprasional pembersihan titik sampah liar. Dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar kita, sebenarnya telah menjadi duta kesehatan bagi daerah dan negeri kita. Saat menjaga kebersihan lingkungan sebenarnya telah juga memberikan efesiensi bagi subsidi kesehatan karena mencegah hadirnya berbagai penyakit endemik sepeti demam berdarah dan virus lainya.
Ketiga, mempersiapkan menjadi pribadi yang tangguh. Pribadi yang tangguh berarti belajar menjadi seseorang yang bertangung jawab atas dirinya sendiri. Kita hendaknya menghindari menjadi beban bagi orang lain. Kita mesti memberdayakan kapasitas pribadi yang kita miliki,mengangkat drajat potensi ekonomi keluarga kita dengan berbagai kegiatan wirausaha. Jika hal ini mampu kita lakukan, tak perlu adalagi berbagai program proyek kemasyarakatan yang berdalih pemberdayaan. Sadarkah kita begitu banyaknya program bantuan sosial yang ada dimasyarakat yang justru dalam hemat kami telah merusak kapasitas dan tatanan sosial masyarakat itu sendiri.
Berani Bermimpi
Saat masih kecil dilingkungan bermain saya, selalu saja saya mendengar kalimat seperti ini, yang terus membayang dikepala saya. Kalimat dengan bahasa daerah kaili kira-kira begini, domo masikola najadi nuapa iko, prisiden ? Masya Allah kalau ingat lagi kalimat ini, betapa hati saya menjadi begitu terpukul betapa pesimisme akan masa depan dan keberanian bermimpi ratusan ribu atau minimal puluhan kawan bermain saya telah dihancurkan sejak masih kecil. Tidak semua orang memang yang bersekolah akan menjadi presiden, namun itu bukan berarti anak-anak daerah ini tidak bisa menjadi apa-apa selain presiden. Buktinya beberapa menteri pernah lahir dari daerah ini, pengusaha sukses dijakarta juga makan nasi jangung dan kelor khas kota ini.
Berbagai jargon pesimisme ini mesti hilang dari benak kita agar masa depan anak-anak kita lebih baik. Dari sebuah diskusi beberapa hari lalu, ada seorang kawan yang menyadarkan saya akan hal ini, kata kawan saya itu ‘kadang-kadang penderitaan dan kesengsaraan yang kita alami dalam kehidupan kita adalah hal yang kita nikmati’!Kita menikmati, ketika banyak orang yang prihatin atas hidp kita, menikmati banyak yang menghibur kemelaratan yang kita alami sehingga kita lupa untuk menjadikan diri kita lebih bernilai.
Sudah waktunya kita bermimpi, akan hal-hal besar. Bermimpi suatu saat ibu kota propinsi sulawesi tengah akan menjadi pusat pertemuan litas dunia, lintas kawasan bahkan litas peradaban. Itu bukan hal yang tidak mungkin, andaikan saja para pendiri republik ini tidak pernah berani untuk bermimpi akan kemerdekaan mungkin kita tidak pernah benar-benar merdeka. Para pendiri republik ini dengan mimpinya berani menjaga mimpi itu selama tiga setengah abad lebih, para peletak fondasi dasar propinsi ini juga berani bermimpi untuk membangun daerah yang kita cintai dengan gegap gempita 47 tahun yang lalu. Untuk itu tak ada yang tidak mungkin bukan, termasuk memproklamasikan tentang kebangkitan Indonesia dari Propinsi Sulawesi Tengah.
Bersambung...

Posting Komentar

0 Komentar