Hujan dan September Tahun ini

Entah kenapa aku selalu senang akan hujan. Bagiku hujan adalah curahan nikmat dan perlambang dari cinta Tuhan di muka bumi.Aku selalu saja merindukan aroma tanah yang basah setelah hujan pamit, mencintai permainan air dari balik jendela dan memperhatikan daun-daun yang basah.

Ketika kuliah dulu saat hujan turun, aku selalu menghabiskan waktu berjam-jam duduk di 'warung mace'sambil menikmati kopi hitam buatanya, berdiskusi dengan teman-temanku termasuk kekasihku yang kini jadi istriku. Hujan bagiku adalah sebuah berkah dimasa itu. Hujan dibulan september juga menjadi pertanda masa akhir tawuran mahasiswa dikampusku yang biasanya dimulai diawal bulan september dan berakhir pada pertengahan bulan. Jika malam beranjak dan hujan juga masih turun maka bersama beberapa sahabat kami akan melanjutkan perbincangan kami di sebuah warung 'saraba' pondokan mahasiswa sambil melanjutkan berbagai ocehan kami tentang dunia.

Hujan dan september tahun ini juga berbeda dengan tahun lalu. September tahun lalu dibulan seperti ini, aku menghabiskan waktu bersama istriku yang sedang hamil tujuh bulan. Saat itu bukan saat yang mudah bagi kami berdua, saat istriku sedang hamil tua, saat hujan yang datang kadang berlebih membuat rumah kertas kami basah disana sini, saat kepalaku mesti dipaksa berpikir keras menyelesaikan tesis saat harapan agar lagit tidak runtuh sedang dipancangkan bagi sepasang suami istri yang baru setahun melalui pernikahan mereka.Saat september tahun lalu, tak henti-hentinya dari rumah kertas kami terdengar lirik;

Here comes the rain again
Falling from the stars

Drenched in my pain again
Becoming who we are


ah, betapa indahnya september tahun lalu.

kini saat september hampir usai kami berpisah, tak ada lagi rumah kertas, juga tesis yang membuat sibuk. Kami hanya punya kisah sebuah timbunan rindu seperti hujan dan september tahun lalu.

Posting Komentar

0 Komentar