'rindu rumah pengetahuan'

Sebelumnya saya tidak pernah merasakan teriakan nurani sekuat hari-hari ini.Kali ini teriakanya semakin keras dan semakin lama semakin deras.Tariakanya masih itu-itu saja, tentang mimpi yang sempat aku tunda tahun ini'. Bulan sudah september, sebentar lagi oktober, waktunya berbenah dan melihat resolusi beberapa tahun lalu', katanya membuatku terjaga.

ada dua resolusi yang belum sepat terselesaikan tahun ini, pertama sekolah dan kedua,memiliki rumah impian sendiri. Untuk rumah, sepertinya mesti dilakukan revisi kembali. Pasalnya istriku dan kini diriku sedang dilanda demam, 'rindu rumah pengetahuan'.

Kami sama-sama dilanda bara untuk kembali menempa, belajar, memperluas cakrawala diri melalui jejang pendidikan. Kini istriku tersayang sedang melanjutkan kuliah megisternya sementara diriku menunda pendidikan untuk sementara guna menikmati tempaan universitas kehidupan. Tapi setahun bukan waktu yang pendek bagiku untuk kembali rindu dengan atmosfir kampus, bergelut dalam dealektika pengetahuan dan berdebat akan cita-cita universal kemanusian.

mungkin banyak yang akan berkata 'apakah aku tidak bosan dengan sekolah'?
ketika ditanya seperti ini, aku akan berkata dengan tegas, Tidak!

karena entah kenapa sekolah bagaikan candu dalam diriku, aku seseorang yang selalu merindukan hidup dalam atmosfir kampus. Mungkin reaksi kawan-kawan sejawat pekerjaanku akan sangat berbeda, bahkan salah seorang kawan kantorku berkata;'bos mapan dulu baru sekolah lagi.untuk karir tinggal menanti waktu, bagi kita yang pegawai negeri sipil magister sudah cukup bagi tangga jabatan'.

aku hanya tersenyum satir mendengarkan jawaban kawanku itu, dalam hati aku berucap; 'bung andaikan demi karir saya sekolah, maka saya tinggal membeli ijazah'. Tapi begitulah logika hidup sebahagian besar kawan-kawan sekitarku. Bagiku ini semacam penyakit orang dewasa, selalu ingin cepat merasakan mapan dialam material. Mungkin aku akan memilih jalan berbeda dengan kehidupan seperti itu. kuliah, kerja,menikah, karir bagus, kaya, mati masuk surga, adalah idiom yang terlalu biasa bahkan kadang menjebak.

Bagiku dengan sekolah kita diajarkan kesederhanaan, mengasah daya pikir, serta merumuskan variabel yang tepat bagi peradaban umat manusia. Dengan sekolah jiwa kita diasah,gagasan-gagasan berlompatan kesana kemari, dan akhirnya sampai kita siap menerjemahkanya dalam universitas kehidupan. Jujur saja seperti kata nurani yang berteriak semalam; bung kau mesti sekolah lagi karena ilmu yang kau miliki, belum cukup menjankau universitas kehidupan!

Syukurlah ada sebuah universitas ternama di negeri ini yang sedang membuka gelombang kedua bagi program doktornya, setidaknya ini sebuah tiket yang mesti segera aku pesan di bulan oktober nanti.Semoga kali ini, Tuhan masih berbaik hati untuk menyisakan satu kursi untukku, agar demam 'rindu rumah pengetahuan'lekas sembuh!

palu,20 september 2011
saat pikiran untuk sekolah sedang membara...

Posting Komentar

0 Komentar