Pesan Bom SubuhJogja




“Semua kekuasaan adalah korup, dan kekuasaan absolut tentu juga korup secara absolut.”
Alan moore- David Lloyd

Jogja tiba-tiba gaduh di subuh tujuh Oktober. Sebuah bom meledak kali ini bukan di mesjid, gereja dan rumah ibadah. Tidak juga di hotel berbintang atau di klab malam yang selama ini diangap tempat maksiat yang dituduh oleh sekelompok orang sebagai kerajaan para kafir. Kali ini sasarannya berbeda, sebuah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di depan swalayan Vikita, Jalan Gejayan, Nomor 29, Sleman, Yogyakarta.

Terror mereka bukan untuk memperjuangkan Tuhan, apalagi untuk menunjukan eksistensi sebuah keyakinan agama. Mereka yang turun melakukan aksi, menyebut dirinya para ‘kombatan’sebuah pengistilahan yang merujuk pada orang-orang yang berhak ikut serta secara langsung dalam pertempuran atau medan peperangan. Perang yang mereka lancarkan adalah sebuah perang yang terbuka, mereka bukan melakukan aksi terror yang senantiasa berusaha menghilangkan jejak. Lewat peryataan sikap yang disebar disekitar lokasi pemboman dan website yang mereka muat, kelompok yang menyatakan dirinya sebagai International Revolutionary Front (IRF) memuat sebuah peryataan sikap yang menyimpang dari kebanyakan aksi terror di Indonesia. Berikut apa yang mereka sampaikan di website yang beralamat http://325.nostate.net/?p=3224;

“Pemberontakan sosial akan terus berlanjut karena mentari terus bersinar.”Kali ini kami mengatakan, bahwa apa yang kami lakukan merupakan puncak dari semua kegelisahan serta kemarahan kami terhadap sistem yang sedang berjalan ini. Sistem yang memberhalakan uang, sistem yang merecoki keseharian masyarakat dengan televisi, agar mereka membeli barang-barang yang tak mereka perlukan agar mereka terus bekerja seperti mesin. Sistem yang mengharuskan kami beserta masyarakat lainnya tidak memiliki kendali atas hidup kita sendiri.Sistem yang lainnya menguntungkan borjuis, para pebisnis, dan para birokrat negara yang menjadi sekutu setianya. Bagi kami semua, ini bukan saatnya untuk diam, bukan saatnya untuk tenang menonton acara di depan televisi dan berkata bahwa “semua baik-baik saja”.

IRF sedang menyampaikan bahwa ‘dunia sedang tidak baik-baik saja’. Mungkin seperti khutbah Giddens yang menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi.

Para kombatan juga punya pandangan yang berbeda tentang terorisme sebuah pandangan yang layak menjadi cermin bagi kita semua. Kata mereka ; Penyerangan terhadap pusat-pusat finansial: ATM, bank, gedung korporat adalah target yang penting, karena mereka adalah salah satu kolaborator yang menyebabkan penderitaan di muka bumi ini. Ini bukanlah terorisme karena kami tidak mengadvokasikan untuk menyerang orang-orang, terorisme adalah peperangan antar negara. Terorisme adalah beras dan pangan di dapurmu yang semakin menipis. Terorisme adalah bajingan berseragam yang membawa senjata ke mana-mana. Terorisme adalah pembantaian orang-orang tak berpunya.Maka kami mengatakan: sudah cukup!

Reduksi yang indah tentang terorisme sebuah Negara yang diperkokoh oleh sebuah topangan sistim yang disebut sebagia ‘kapitalisme’ yang bersembunyi dibalik topeng perang atas Negara dan agama. Mereka menggugat hal yang sangat intim dari persoalan paling nyata dalam kehidupan setiap individu‘Terorisme adalah beras dan pangan di dapurmu yang semakin menipis”. Apa lagi yang paling esensial selain soal dapur dan sekitar perut. Itulah masalah yang selalu muncul dari setiap ketidakadilan sebuah sistim. Ketika sebuah sistim melindungi segelintir orang, maka sudah pasti ada yang akan dikorbankan dan dimiskinkan.

Saya kemudian teringat sebuah tokoh yang dihidupkan oleh Alan Moore dalam sebuah Novel Gafisnya V Vandeta. V menyadari bahwa kesalahan suatu negeri memang tidak dapat ditudingkan begitu saja pada para birokrat dan politisi, karena bagaimanapun juga, para penguasa fasis tersebut bisa berada di kekuasaannya karena publik membiarkannya karena rasa apatis dan ketidaksadaran yang dibentuk oleh gaya hidup tontonan TV. Mungkin demikianlah pesan yang ingin disampaikan oleh para kombat kepada kita, bahwa di negeri ini kekuasaan yang ditopang oleh sistim kapitalisme adalah terrorisme sebenarnya dan kosongnya beras di dapur kita adalah bentuk terror paling nyata dalam kehidupan personal setiap warga Negara.

Posting Komentar

0 Komentar