'Sekali Lagi Tentang Cinta'

Mungkin Cinta adalah bahasa paling universal bagi seluruh umat manusia di semesta jagad raya.Cinta tak pernah memilih warna kulit, kelas sosial atau usia. Tak memandang manusia Afrika, Asia atau Eropa. Cinta terlalu universal untuk sebuah ras, demikian pula terlalu indah untuk dibatasi oleh strata sosial dan berbagai sekat hitungan angka pada usia.

Cinta itu memiliki energi dan etos sendiri. Cinta mampu menembus perangkap ruang, karena se-Universalnya cinta bukan terikat oleh tempat tapi hati yang abstrak dan ruang yang sunyi didalam kedirian. Cinta juga adalah kontradiksi yang sangat sulit untuk di materialkan karena cinta bukan karena ? atau mengapa? Tapi cinta itu terlalu kosmos dan acak, walau supardi penyair yang terkenal itu coba mendekatinya lewat puisi;


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

Cinta mungkin tak sesederhana kata supardi, tapi belum tentu sesulit sebuah definisi. Karena cinta bukan sekedar hukum ‘causalitas’ yakni sebab yang berakibat. ‘Kayu yang dibakar’ kemudian menjadi ‘abu’ atau ‘awan kepada hujan yang menjadikanya tiada’. Cinta itu abstrak bahkan terlalu naif, seperti kata sebuah syair yang mungkin mengelikan ‘dari mata turun ke hati’.

Tapi oleh para penyair yang lain, teryata cinta itu tak butuh mata tapi rasa, karena mata cenderung menipu tapi hati itu terlalu luas untuk sebuah batas cara pandang alam meterial. Manusia paling sempurnapun tidak bisa melupakan cintanya yang telah terlepasoleh batas waktu dan takdir. Adalah Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil pernah mengutip dari perawi hadis Bukhari; Suatu hari istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain (yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebutnya’.



Bahkan seorang Rasul yang Maha sempurna sekalipun, tetap menyimpan’ Cintanya’ tanpa mengenal batas dari sebuah masa? Apakah dia salah? Mengapa ? sementara dalam sebuah nasihat perkawinan kawanku Amir di sebuah kampung di Sidrap Sulawesi Selatan, seorang ustadz pernah berkata ; ‘sebaiknya jangan mengulang-ngulang seseorang yang pernah ada dihati pada masa sebelum pernikahan, sebab akan menyebabkan rasa curiga dan cemburu salah satunya.Pikiranku segera membantahnya saat itu, bagaimana dengan konteks cinta Rasul kepada Khadijah yang membuat Aisyah selalu cemburu ? Apakah Nabi Salah? Tapi sudahlah mungkin ini hanya soal cara memandang cinta konstitusi dan cinta esensial.

Karena cinta esensial bukan hanya sekedar kisah antara sepasang remaja dalam dongeng abadi Shakespeare romeo and juliet. Atau berbagai narasi filsafat romantisme yang di gelorakan oleh Fichte, Schelling, Schopenhauer, dan Nietzsche tentang ‘Dionysian’ yakni emosi yang meluap antara seorang yang berbeda jenis atau sesama jenis.

Cinta juga bisa lahir dari sepasang saudara yang saling mengasihi bukan karena apa dan mengapa? Bukan juga dari mata turun ke hati, tapi karena mereka secara bersama-sama mencoba lepas dari ruang,waktu, usia, ikatan material yang butuh mengapa? Karena cinta esensial tak pernah butuh jawaban, Ia cukup menjadi rasa dan kesadaran bahwa takdir telah memilih mereka untuk bersaudara tanpa perlu tau mengapa Tuhan memilih menyatukan takdirnya.


Kepada kakaku yang telah mengajarkan aku kelembutan dan arti cinta yang tak butuh tanya. Selamat berulang tahun.... ‘Be king for your own happiness’

Kepada saudara-saudaraku yang telah menghabiskan waktu bersama dua tahun ini, kepada seseorang yang menjaga hatiku dengan baik didalam hati yang sudah tak butuh jarak, yang sudah terbiasa mengenal kata tak bersama dan tak berwaktu ...sekali lagi aku mencintai kalian...

Posting Komentar

0 Komentar