Mencari Pemimpin Indonesia?

Indonesia belum juga beranjak dari situasi krisis. Mulai dari krisis pangan, bahan bakar, dan terutama krisis kepemimpinan dari level Negara sampai Kepala Daerah. Tengok saja berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, ada pemimpin partai berkuasa yang sedang berusaha dijatuhkan dari partainya, ada kepala daerah yang legitimasinya hangus terbakar bersama kantor Bupatinya. Ada pula mantan pemimpin dunia perbankan yang dijadikan tersangka. Mungkin saja segera menyusul Presiden yang dijatuhkan dari puncak kekuasaanya.
Apa yang terjadi sebenarnya ? mengapa negeri ini belum bisa menemukan sosok pemimpin yang sabdanya diikuti, yang prilakunya menjadi hukum bagi warga negaranya ? Ada baiknya kita berkaca pada sosok pemimpin Cina Mao Tse Tung yang menjadi peletak kebangkitan cina pada masa lalu, yang kini Negeri tersebut tampil sebagai negara super power dan berhasil keluar dari masa-masa suram krisis masa lalunya.
Apa yang dilakukan oleh ketua Mao ketika kemiskinan mendera warganya? ketika sekutu utama dari cina yakni uni sovyet memandang rendah negeri tiarai bambu kala itu, dan julukan sebagai negara gagal datang kepada Cina. Bahkan secara sarkasitik Uni soveyet mengeluarkan peryataan yang melukai seluruh rakyat dan pemimpin cina ‘ meskipun rakyat cina harus berbagi satu celana dalam untuk dua orang, Cina tidak pernah mampu membayar hutangnya’ ungkap seorang pemimpin sovyet kala itu.
Penghinaan yang dilancarkan sovyet tersebut, spontan membuat Mao mengambil sikap yang sungguh luar biasa. Bukanya sibuk melakukan klarifikasi dan berbagai apologi melalui angka statistika dan propaganda keberhasilan pemerintahanya, Mao justru bangkit dan menjadikan penghinaan tersebut sebagai sebuah momentum untuk manyatukan kekuataan bersama satu milyar rakyatnya, agar secara bersama-sama bisa lepas dari jaring kemiskinan.
Melalui sebuah kebijakan sederhana namun mampu memberikan kontribusi secara besar, Mao menunjukan kualitas kepemimpinanya dengan langkah mengajak setiap warga negaranya untuk menyumbangkan satu butir beras; ‘ya satu butir beras untuk setiap anggota keluarga setiap kali mereka akan memasak’.
Jika satu anggota keluarga terdiri atas tiga orang maka cukup disisihkan tiga butir beras. Beras yang disisihkan dari satu milyar penduduk cina akan menghasilkan satu milyar butir beras setiap hari. Hasilnya dikumpulkan kepada pemerintah untuk dijual, uangnya dipakai membayar hutang kepada negara pemberi hutang dengan dada yang membusung tanpa memelas meminta penundaan utang.
Akhirnya cina bisa melepaskan diri dari ketergantungan, penghinaan, pelecehan, dan terutama meyakinkan pada mereka bahwa pemimpin mereka adalah sosok yang layak dipuja dan dihormati.Cerita tentang Mao dan kebijakanya sebenarnya mengigatkan kita tentang fungsi dan tugas seorang pemimpin adalah mereka yang berani mengambil keputusan pada saat yang tepat, pemimpin dipilih karena ia dipercaya berbeda dengan yang lainya, mereka yang mampu bertindak dan menggerakan bukan mereka yang senantiasa lari dari masalah dan mencari kambing hitam dibalik kegagalanya.


Krisis Pagan, Krisis Kepemimpinan Negara
Bagaimana mungkin negara yang pernah didengungkan dengan swasembada berasnya yang dikenal dengan luas dan basis pertanian agarisisnya seperti indonesia justru sampai saat ini masih mengipor beras yang dari tahun ketahun jumlahnya terus naik diatas 1,5 juta ton ? Sementara Negara sekecil Vietnam yang menjadi suber import beras indonesia sebanyak 892,9 ribu ton dengan nilai US$ 452,2 juta (Data BPS 2011) hanya memiliki luas daratan 331.653 km² yang berarti 1/6 luas daratan indonesia yang mencapai 1.922.570 km².
Jika pemerintah berdalih dengan alasan besarnya jumlah penduduk atau produksi pertanian kita masih rendah, itu justru membuktikan Kebanggaan ekonomi dan politik tidak ada lagi, dan justru semakin menelanjangi kegagalan menyediakan pangan untuk rakyat yang akan memacu kemarahan publik bahwa selama ini pemerintah tidak pernah serius membangun kedaulatan pangan dalam negeri, hal ini semakin terbukti dengan konversi lahan yang akhir-akhir ini menyulut konflik diberbagai daerah. Dimana bukanya serius menggerakan program intensifikasi pertanian, pmerintah justru lebih memilih kekuasan modal yang sifatnya jangka pendek yang mengubah lahan pertanian menjadi lapangan golf atau program investasi bagi para penggusaha besar yang hanya mengguntungkan segelintir orang.
Bukan hanya pengelolaan pangan yang berada di daratan yang membuat kita semakin percaya bahwa kualitas kepemimpinan negeri ini bermasalah. Lautan kita yang sungguh luas tak mampu pula dioptimalkan dengan baik, panjang pantai indonesia 81.000 km atau 14% garis pantai seluruh dunia, di mana 2/3 wilayah Indonesia berupa perairan laut tapi sampai saat ini kita masih mengimpor garam industri hingga 100 persen dengan jumlah berkisar 100-200 ribu ton.
Persoalan laut dan daratan ini, semakin membuktikan kegagalan kepemimpinan dalam menggurusi negeri ini dan kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa mandiri. Harapan kita masih jauh dari apa yang dicita-citakan kita sebagai sebuah bangsa yang termaktup dalam undang-undang dasar 1945 yakni menjadi bangsa yang berdaulat, cerdas dan sejahtera.

Mengubah Paradigma Kepemimpinan, Mencari Pemimpin Indonesia
Belajar dari kisah Mao harusnya telah menyadarkan kita tentang tujuan sebuah kepemimpinan. Saat ini para pemimpin yang menjadi pengelola negeri ini masih berkutat pada ‘power oriented’orentasi kekuasaan semata, bukan berbicara menyangkut ‘Achievement oriented’ yakni kepemimpinan yang berbasis prestasi. Sehingga berbagai isu politik yang dominan adalah berkutat pada sirkuit pertarungan elit dan kekuasaan.
Hal tersebut semakin diperparah oleh mental kepemimpinan yang menghuni sumber distribusi kekuasaan seperti partai politik yang terbukti gagal dalam melahirkan cetak biru kualitas kepemimpinan yang mumpuni. Pola seleksi dan rekrutmen yang bermasalah sampai pada orentasi kekuasaan yang lebih fokus untuk memperkaya diri sendiri dengan berbagai prilaku korup menjadi lebih dominan ketimbang membangun kekuatan bangsa.
Melihat realitas yang terjadi sepertinya sudah waktunya kita memikirkan melakukan sebuah proses pergantian kepemimpinan yang lebih cepat, yang mampu membawa bangsa ini keluar dari jeratan krisis yang terjadi. Dengan catatan kepemimpinan yang dilahirkan benar-benar mampu menggerakan dan berpihak kepada rakyat untuk sama-sama keluar dari ketergantungan yang selama ini ada. Pemimpin yang percaya kedaulatan bisa diwujudkan dengan menjadi teladan yang berani berpikir dan bertindak, demi kedaulatan dan kehormatan bangsa di darat maupun dilaut. Mereka yang berani menjadikan kritik sebagai sarana untuk bangkit bukan justru sibuk memberi klarifikasi akan kegagalanya.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Memimpin bukan sekedar motivasi, memimpin adalah aksi.

    http://www.youtube.com/watch?v=EnnTX3Fx_p8

    BalasHapus