Bimbang



Nak, mungkin pada suatu masa nanti kau akan merasakan apa yang aku rasakan akhir-akhir ini. Bimbang atau kata anak-anak alay, 'galau'sebagaimana ungkapan seorang artis yang akhir-akhir ini istilahnya menjadi begitu terkenal. Ya, aku bimbang nak. Bimbang dengan apa yang terjadi hari ini dan tentu saja masa datang.

Aku paham tentang apa yang sering diungkapkan banyak orang, bahkan aku sendiri selalu mengulangnya bahwa 'pertunjukan mesti terus dilanjutkan'. Bahwa Rezki, Ajal, dan Jodoh adalah rahasia Tuhan. Tapi aku merasa kepercayaan itu akhir-akhir ini tak cukup kuat membuatku dapat tegar untuk berdiri.

Mungkin aku butuh merapalkan doa dan bersujud menghadapNya. Bukan untuk memohon belas kasihNya, karena aku percaya Dia yang mengatur segalanya termasuk rasa 'galau'yang terus muncul ini.Kegalauan ini muncul dari kerinduan akan dirimu, ibumu, dan pekerjaan yang aku geluti.

Selama ini kalian dan pekerjaan adalah dua sisi yang selalu kupisahkan, bahwa Makassar bukan untuk bekerja tapi untuk berkeluarga, dan Palu adalah kota bekerja serta kini Bandung adalah tempat belajar. Aku sebenarnya ingin tiga hal ini menjadi satu, aku ingin seperti orang lain yang ketika pulang selepas kerja disore hari ada istri dan anak yang menyambut dibibir pintu.

Intinya aku ingin menjadi normal, mungkin aku lelah menjadi samurai yang selalu sendiri. Aku ingin menjadi samurai yang bertuan dan izinkan aku menjadi pelayan kalian. Tapi sepertinya itu masih lama, perjalanan masih panjang dan bentang sejarah mesti terus dilanjutkan. Tapi aku takut, jika masa itu akan terlambat, ketika bahagia bersamamu tidak sempat kukecap karena waktu terus berjalan.
itulah sekelumit hal yang membuatku 'galau'.

Posting Komentar

0 Komentar