Bus, Doa dan Perjalanan!

Nak, kali ini aku tidak bisa tidur. Segelas kopi itu telah membuat mataku tetap terjaga.Padahal besok perjalanan tiga jam Bandung-jakarta sungguh melelahkan.Sebelum berangkat telah pula aku ikrarkan janji, untuk menemui dua sahabat akrabku yang tiba-tiba muncul dikota kembang Asad Rauf dan Viktor sosang.

Sementara itu dari jendela kamarku udara dingin bandung perlahan masuk menembus kulitku yang mulai terbiasa. Diluar telah terdengar deretan besi yang saling beradu, penanda sebentar lagi pasar Gasibu akan segera digelar. Oh yah, Gasibu adalah sebuah pasar rakyat seminggu sekali, dengan harga yang benar-benar merakyat.

Tapi kali ini aku tidak akan bercerita tentang Asad Rauf, Sosang, atau pasar Gasibu.Biar diwaktu lain saja aku ceritakan dua sosok itu dan kisah pasar gasibu yang selalu menarik untuk disimak.
Kali ini aku masih ingin melanjutkan kisah tentang film 5 menara.Dalam salah satu bagian film itu berkisah ketika Alif dan Ayahnya naik bus tiga hari tiga malam dari padang menuju jakarta. 'Romantisme bus' Alif menuju pondok madani bersama ayahnya, telah menarik kembali berbagai kenangan masa laluku.Sebuah kenangan ketika perjalanan jauh pertama kali dalam hidupku dimulai.

Ketika itu, kuburan nenekmu belum lagi kering, demikian pula paman dan kakekmu mereka semua baru saja berpulang bersama-sama dan seolah memberiku tanda untuk melanjutkan terminal kehidupanku. Bus yang dinaiki oleh Alif dan garis les hijau disisinya, persis dengan bus yang aku naiki malam itu. Aku ingat betul apa nama bus itu, 'Tenaga Selamat'.

Sore menjelang malam aku diantar oleh pamanmu fahrudin dengan ransel merah dibelakangku,sebuah hadiah darinya. Katanya cocok untuk perantau.Sementara itu pamanmu yang tertua membisikan kata-kata yang sama seperti saat hari kematian ibuku; ' jangan larut dengan kesedihan bersungguh-sungguhlah belajar dan bersabar dengan keadaan'! Tepat ketika aku berpamintan menuju terminal kata-kata itu telah menjadi mantra bagiku, kurang lebih sama dengan Man Jadda Wa Jadda yang menjadi penyemangat para santri pondok madani.

Saat itu pikiranku melayang, tak ada ibu yang mengantarkanku dipintu bus dan tak adapula ayah disisiku yang menjadi pelindungku seperti Alif. Aku hanya bermodalkan uang secukupnya bagi bekal dijalan dan sebuah alamat yang asing bagiku ditanah makassar. Saat di Bus selama dua hari dua malam itulah aku berdialog panjang dengan diriku sendiri.Berdamai dengan keadaan sambil terus berbaik sangka kepada Allah bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, dibalik sebuah cobaan ada berkah yang disimpan oleh Allah atas diri kita.

Selama di bus itu pula aku menyusun rencana kehidupanku, merapalkan doa tentang masa depan, sambil memperkuat hatiku 'bahwa di makassar yang kata orang identik dengan berbagai kejahatan dan prilaku kekerasan, aku bisa tumbuh lebih tegar dan lebih kuat'!Sesuatu yang dibutuhkan bagi anak laki-laki sepertiku, yakni keberanian menghadapi apa yang aku sendiri tidak tau akan terjadi dihari-hari mendatang.
Sambil berserah diri saat itu disebuah kursi bus paling belakang, diantara guncangan bus yang berubah menjadi kapal yang diterpa ombak karena jalan yang berlubang aku menyerahkan diriku kepada Allah sambil berkata dalam hati ; 'Jika Engkau Telah mengantarkan aku memulai perjalanan ini, maka aku berharap Engkau juga yang menjagaku'!Itulah doa yang kurapalkan sepanjang jalan bersama bus malam!

subuh 4;28
bandung...

Posting Komentar

0 Komentar